
Happy reading all😘
.
.
"Apa perlu aku telepon keluargamu?"
"Hmm ... boleh."
"Ya udah, kamu disini dulu, biar aku pinjam ponsel dari kepala tamping bentar ya."
"Makasih sebelumnya."
Lalu temannya itu segera menemui kepala tamping yang kebetulan sedang lewat depan kamar huni.
"Pak Bos ..." seru pemuda itu.
"Iya, ada perlu apa?"
"Bos, mau pinjam ponselnya sebentar, teman saya di dalam kamar huni dia sedang sakit."
Tak mau percaya begitu saja, ia pun mengikutinya ke dalam kamar.
"Astaga ..."
"Kamu kenapa?" tanya kepala tamping panik.
Masalahnya kulit-kulit Ezza seperti kepiting rebus. Merah-merah sana sini, belum lagi banyak bentolan di tangan dan kakinya. Karena Ezza terus menggaruknya hingga kulitnya semakin memerah.
"STOP !!! Jangan kamu garuk lagi, nanti malah berdarah."
"Pegangi teman kamu."
Lalu teman Ezza segera memeganginya lalu kedua tangannya agar berhenti menggaruk.
"Tapi ini gatal sekali pak," rintih Ezza tidak karuan.
"Ya sabar, semua ada waktunya."
"Cepat hubungi keluarganya segera, karena di dalam rutan tidak ada obat alergi seperti yang dialaminya."
"Ba-baik pak."
Lalu teman Ezza segera mendial nomor telepon rumah Ezza.
Candy yang sedang istirahat siang di ruang keluarga mendengar telepon rumah mereka berbunyi.
"Bik ... bibik ... tolong angkat teleponnya."
"Baik Nyonya ..." seru Mbak Sari dari arah dapur.
Benar saja beberapa saat kemudian Mbak Sari terlihat berlari ke arah telepon rumah.
"Hallo, Assalamu'alaikum ..."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, maaf mbak apa benar ini rumah Ezza?"
"Oh Tuan Ezza?"
"Ha ... iya, itu maksud saya."
"Iya benar pak, Anda siapa ya?"
"Saya teman Ezza di RUTAN, bisakah saya bicara sama istrinya?"
"Oh boleh... sebentar ya."
"Hmm ..."
"Nyonya ini ada telepon dari teman Tuan Ezza," ucap Mbak Sari sambil menyerahkan ponsel tersebut ke Candy.
"Terimakasih mbak."
"Hallo, maaf ini siapa?"
"Saya teman suami mbak, suaminya namanya Ezza kan?"
"Iya suami saya namanya Ezza."
Kemudian dari arah Ezza, ia pun berteriak karena mendengar suara istrinya.
"Candy ... ini mas ..."
"Mas Ezza, kenapa mas?"
"Innalillahi... trus udah dikasih obat apa?"
"Justru karena dia minum obat batuk dan meriang, bangun tidur uda kambuh aja alerginya mbak."
"Ya sudah, biar sehabis ini saya hubungi dokter keluarga biar bisa masuk situ."
"Baik mbak, terimakasih."
"Oh iya mbak, karena teleponnya pinjam, sama kemarin suami mbak pinjam uang saya, sekalian dibalikin ya mbak."
"Hah, berapa mas?"
"Syutt.. jangan keras-keras cuma seratus lima puluh ribu kok mbak, makasih sebelumnya."
"Sama-sama mas."
Ahirnya sambungan telepon mereka terputus. Candy segera menelpon dokter keluarga milik ayahnya. Tak lupa ia meminta tolong pengacara keluarga mereka untuk mengantarkan obat tersebut ke dalam rutan. Maklum saja ia harus bed rest .
Kalau kondisinya baik-baik saja, sudah pasti dirinya akan mengantarkan obat tersebut.
Sementara itu di dalam RUTAN.
"Rebees bro, udah aku kabarin istri kamu."
"Pak, ini ponselnya, kalau biaya sewanya nanti saja ya pak, uangnya belum ada."
__ADS_1
Terlihat sudah raut tidak suka kepala tamping itu.
"Te-tenang pak, istri Ezza bakal bayar biaya sewanya kok pak, peace pak bro," ucapnya sambil menyimbolkan gerakan damai dengan salah satu tangannya.
"Makasih banyak ya Wan, tapi tolong lepasin tangan gue."
Setelah kepala tamping pergi, Wan segera melepas ikatan pada tangan Ezza.
"Tapi jangan digaruk lagi bro, entar malah jadi luka."
"Iya, siap, sorry ya udah ngerepotin elo."
"Gak apa-apa, sans aja, lagian kita udah kaya keluarga gini. Ya udah gue keluar dulu ya, keluarga gue mau bezuk hari ini."
"Oke, salam buat keluarga elu."
"Rebes bro."
Lalu dengan segera temannya keluar dari kamar huni. Kini tinggallah Ezza sendirian di kamar itu. Ia mengingat masa lalunya ketika Candy begitu memperhatikan kesehatannya.
"Dek, andai kamu ada disini, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi."
>>FLASH BACK ON
"Ya ampun mas, kamu kenapa?" tanya Candy setelah mendapati suaminya menjadi buruk rupa.
"Mas habis makan apa sih?"
"Tadi minum obat batuk pas di kantor, eh tiba-tiba tubuhku udah bentol-bentol aja."
"Trus aku harus gimana?"
"Panggilin dokter Bram dong sayang."
"Iya, sebentar ya mas."
Beberapa waktu kemudian dokter yang dimaksud oleh Ezza sudah selesai memeriksa kondisi Ezza. Dokter itu tersenyum ketika melihat kelalaian Ezza, oleh karena itu ia pun memberitakan hal apa saja yang harus diperhatikan pada kesehatan Ezza.
Sejak saat itu, jika Ezza sakit tanpa diminta pun, Candy akan langsung menghubungi dokter Bram. Karena Ezza memang mempunyai bakat alergi terhadap jenis obat-obat tertentu.
"Makanya mas, kalau makan atau minum obat tu jangan sembarangan, ya kalau aku selamanya disisi mas, kalau enggak gimana?"
"Iya sayangku."
Ezza pun membelai lembut kepala Candy lalu mencumbu bibirnya yang ranum itu.
>>FLASH BACK OFF
Kini hanya kenangan masa lalu yang bisa ia ingat, karena jarak dan waktu telah memisahkan mereka dalam waktu yang cukup lama.
.
.
...🌹Bersambung 🌹...
__ADS_1