
Happy reading all😘
.
.
"Bagaimana, apakah sudah menemukan nama yang cocok untuk putrimu?"
Ezza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tetapi matanya masih menatap layar pipih tersebut. Tangannya masih sibuk menscrol layar tersebut hingga naik turun bahkan sampai berulang kali ia ulangi dan ulangi.
Sampai ia pun tidak sadar bahwa putranya sudah bangun dari tidurnya.
"Daddy..."
Ezza mendongakkan wajahnya.
"Hei, jagoan papa sudah bangun?" ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Iya Dad."
Meski ia masih mengantuk tetapi Daffin sudah terlihat lebih segar ketimbang saat pertama kali ia datang. Bahkan bocah berusia tujuh enam tahun itu sudah berdiri di depan papanya.
"Papa kenapa makanannya tidak dihabiskan?"
Ezza menoleh, "Oh itu, iya porsinya terlalu banyak nak."
"Daddy, bolehkah Daffin minta makan tapi disuapin sama Daddy?"
"Oh tentu sayang, sebentar ya."
Ezza segera menaruh ponsel itu di meja di sampingnya, lalu ia pun mengambil satu kotak nasi.
"Daffin mau makan ayam atau telurnya lebih dulu."
"Hmm, Daffin gak suka sama telur gosong itu," ucapnya agak jijik pada telur bacem.
Ezza terkekeh karena sikap Daffin kecil sungguh mirip dengannya sewaktu kecil. Lalu ia pun menceritakan sebuah cerita masa kecilnya pada putranya itu sambil menyuapinya dengan ayam bakar madu.
"Aaa ... ak, nyam, nyam, ... "
"... pinter."
Sambil mengunyah Daffin ingin sekali bertanya sesuatu tetapi papanya memberikan instruksi agar Daffin menahan pertanyaannya sampai ia berhenti makan.
"Oke, Daffin makan ini, tapi nanti papa harus cerita tentang hal itu pada Daffin."
__ADS_1
"Iya sayang, pasti papa bakal cerita kok, sabar ya."
Sementara Ezza dan Candy sedang bahagia dengan kehadiran anggota keluarga barunya. Delima merasakan kontraksi yang sangat hebat pada perutnya.
"Aargghh ... sakittt ...." teriak Delima dari atas ranjangnya.
"Aaaargggghhhhh ....."
Tangannya pun sudah mencakar-cakar dinding gubuk itu. Rambutnya yang dulu hitam panjang kini telah berubah kusut dan tidak beraturan bahkan bisa saja membuat takut siapapun yang memandangnya.
Wajahnya tetap cantik, sayangnya wujudnya sudah tidak karuan. Ia pun jarang mandi kecuali Ki Parto yang memandikannya setiap malam bulan purnama.
Assisten yang biasa mengantarkan makanan untuknya sudah melaporkan kejadian hari ini pada gurunya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Kik, akik, permisi ..." ucapnya memberi salam.
"Iya ada apa?"
"Gadis itu semakin memberontak ki, bahkan ia sudah menghancurkan beberapa barang dan mencakar hampir seluruh dinding di gubuk-nya."
"Biarkan saja ia berbuat seperti itu, kamu carikan saja satu ayam cemani untuk persembahan nanti malam."
"Baik aki."
Satu hal lagi yang membuat ia terkejut, janin di dalam tubuh Delima begitu cepat tumbuh. Tetapi ia tidak berani bertanya lebih banyak pada gurunya. Daripada terus memikirkan hal itu, lebih baik ia segera mencari ayam yang diinginkan sang guru.
Langkah kaki pemuda itu semakin cepat ketika ia memasuki hutan. Meski keadaan hutan begitu sepi dan hampir terkesan seram dan menakutkan. Tetapi hal itu sama sekali tak menyurutkan semangatnya.
Baginya mengikuti semua arahan gurunya adalah sebuah bentuk dari pengabdian.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Rumah sakit ibu dan anak...
Karena waktunya untuk minum ASI, maka bayi perempuan itu pun terbangun.
"Oek, oek, oek ..."
"Wah cantiknya papa dah bangun," Ezza pun segera mengambil bayinya dari atas box bayi.
__ADS_1
Digendongnya bayi yang masih berwarna merah itu lalu ia berikan pada istrinya.
Candy pun sudah bangun beberapa menit yang lalu, ia bahkan sudah menyandarkan punggungnya pada head board ranjang miliknya.
"Putri cantik mama sudah bangun ya?"
Oek ... oek ... oek ...
Candy segera memberi kode pada suaminya untuk mengusir anggota keluarga yang lain sebentar karena ia ingin menyusui putrinya itu. Untung Ezza pun konek akan hal itu.
Beberapa orang pun terlihat sudah meninggalkan ruang rawat Candy. Kini di ruangan itu hanya bersisa Ezza, Daffin, Candy dan putri kecilnya. Sementara adiknya minum ASI, Daffin terus menempel pada ayahnya.
Mereka berdua kini terlihat asyik memilih nama yang cocok untuk sang adik.
"Daddy gimana kalau adik dikasih nama ini," tunjuk Daffin pada salah satu nama.
Daffin pun segera menoleh ke arah mamanya.
"Mom, bagaimana dengan nama ini Callista Balqis Maharani , kalau artinya adalah perempuan yang cantik bagaikan Ratu Balqis, gimana?"
"Atau ini sayang, aku pilihkan satu nama Kayla Nadhifa Almaira yang artinya Putri cantik bermahkota indah yang akan menjadi pemimpin baik hati."
"Wah, kalian pinter banget sih pilih namanya, mama sampai bingung."
Lalu mulailah perdebatan anak dan ayah itu.
"Memang kalau Daddy kasih nama adik kayak gitu panggilannya apa Dad?"
"Tentu Daddy akan memanggil adik dnegan Kayla atau dedek Almaira, kalau Kakak Daffin mau panggil apa?"
"Kalau Daffin bakal panggil adek dengan sebutan dedek Balqis."
"Cantik kan Daddy?"
"Cantik tapi mending kita tanya sama dedek, dia mau dikasih nama yang mana oke?"
"Oke," ucap Daffin bersemangat.
"Tos dulu dong."
"Yeaay..."
Ahirnya Candy bisa melihat kebahagian yang utuh tanpa adanya pelakor kembali. Hanya saja ia masih harus bersabar untuk menunggu Ezza sampai ia benar-benar kembali dalam rumah tangganya.
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...