Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
KEMARAHAN TUAN HADI PART2


__ADS_3

Happy reading all😘


.


.


Kecelakaan yang dialami Delima dan Arga membuat mereka harus dirawat di rumah sakit.


Sedangkan mobil yang mereka kendarai ringsek.


"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Ibu Arga ketika sampai di rumah sakit.


"Pasien sedang ditangani oleh tenaga medis di dalam Bu, sebaiknya Anda menunggu disini."


"Tolong selamatkan anak saya ya sus."


"Iya, saya usahakan, ibu banyak berdoa saja."


.


.


Sedangkan Candy baru saja memasuki rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Ahir-ahir ini perutnya kram, membuat dirinya takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.


Tapi beberapa waktu lalu ia sempat melihat keberadaan pasien yang baru saja keluar dari kamar operasi.


"Kak Delima?" batin Candy ketika melihat beberapa tenaga medis membawa sebuah brankar dari ruang operasi.


"Maaf sus, pasien tadi kenapa ya?"


"Oh, habis mengalami kecelakaan Bu."


"Parahkah?" pertanyaan konyol itu tiba-tiba meluncur darinya.


"Tadi kakinya terjepit sehingga tulang kakinya retak."


"Oh, terimakasih sus."


"Sama-sama."


Tanpa mau lebih tau dengannya ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju dokter spesialis obstetri & ginekologiĀ atau lebih sering disebut obgyn.


Ia takut membayangkan hal-hal aneh, terlebih ia sedang hamil.


Begitu sampai, ia segera mengambil nomer antrian seperti ibu hamil lainnya. Sayangnya hanya dirinyalah yang datang sendirian ke tempat itu, sedangkan ibu hamil lainnya ditemani suaminya.


"Andai kamu disini mas, aku pasti akan lebih bahagia," ucapnya sambil mengelus perutnya.


"Panggilan kepada Ibu Candy Salsabila," ucap salah satu suster jaga.


"Ya sus," lalu Candy segera memasuki ruang praktek dokter Richard.


Ceklek ...


"Pagi dokter."


"Pagi Ibu Candy, silahkan duduk," sapanya ramah sehingga menampilkan lesung pipitnya.


"Terimakasih dokter," ucap Candy sedikit kikuk akibat tatapan dokter tampan di depannya itu.


"Bagaimana, apa ada keluhan?" tanya dokter Richard tanpa basa-basi.


"Ahir-ahir ini perut saya sering kram dokter?"


"Ya sudah, saya periksa terlebih dahulu."


"Sus, bantu Ibu Candy untuk mengukur berat badannya dan juga tekanan darahnya," titah dokter Richard.


"Baik dok."


Lalu sesudahnya dokter Richard yang memeriksa denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh Candy secara langsung, tak lupa sesudahnya ia menyuruh Candy untuk berbaring.

__ADS_1


"Silahkan ibu berbaring terlebih dahulu."


Dengan dibantu suster, Candy mulai berbaring di atas brankar, sebagian tubuhnya sudah ditutup kain selimut, lalu sebagian perutnya sedikit terbuka agar memudahkan saat melakukan USG.


Tak lama kemudian suster mulai mengolesi gel diatasnya lalu dokter Richard mengambil alih pemeriksaan tersebut dengan mulai menggerakkan transducerĀ yang ditempelkan di atas perut Candy.


"Alhamdulillah kandungan ibu baik-baik saja, janinnya tumbuh sempurna, semuanya lengkap."


"Alhamdulillah," ucap Candy bahagia.


"Tetapi hanya satu hal yang masih harus ibu perhatikan!"


"Apa itu dok?"


"Ibu tidak boleh banyak pikiran dan harus sering rileks, agar kondisi pre-eklamsia yang ibu alami tidak bertambah parah."


"Ba-baik dok."


.


.


Penyakit yang awalnya menyerang Nyonya Hadi kini bertambah parah. Mungkin ketakutan dan segala ujian yang menerpa keluarganya membuatnya banyak berpikir hingga kesehatannya menurun drastis.


Setiap hari hanya ia habiskan dengan melamun dan melamun. Terkadang tatapannya begitu kosong, sehingga membuat orang yang melihatnya prihatin.


Bum ... suara deru mobil terdengar dari halaman depan.


"Tuan Hadi sudah datang nyonya," ucap suster yang menjaga Nyonya Hadi.


Wajahnya pun keliatan gembira, lalu suster segeta memutar kursi rodanya menuju ruang tengah untuk menyambut tuan besarnya.


"Selamat datang Tuan Besar," ucap suster dengan hormat.


"Hmm, bagaimana keadaan istri saya?"


"Kondisi nyonya belum berubah, Tuan."


"Nyonya menghabiskan waktunya dengan melamun dan tidak mau terapi," jawabnya jujur.


Tuan Hadi mulai mendekati istrinya itu.


"Kenapa lagi? belum cukup kamu diberikan ujian seperti ini, atau masih kurang ujian yang kamu dapatkan?"


"Akibat keegoisanmu, rumah tangga anak kita hampir hancur, begitu pula dengan nasib perusahaan kita. Apa itu yang kamu mau?"


Tuan Hadi benar-benar jengah akan sikap istrinya itu. Andai ia tidak dalam kondisi sakit, cap lima jari pasti sudah menempel pada pipinya itu.


Nyonya Hadi yang tadinya bahagia mendengar kepulangan suaminya, kini tak berani lagi menatap suaminya tersebut. Kini ia semakin menunduk dan terlihat sangat menyesali perbuatannya.


"Kalau kau ingin membantu, menurutlah dengan apa yang diperintahkan oleh dokter."


"Itupun jika kau ingin sembuh, kalau tidak terserah apa maumu!"


Tak mau berkata lebih banyak, ia lebih memilih meninggalkan istrinya di ruang tengah.


BRAKK!!!


Tuan Hadi membanting pintu kamarnya dengan keras. Bunyinya pun sampai terdengar ke arah dapur. Semua pelayan termasuk Nyonya Hadi menjadi takut akan kemarahan Tuan Besar mereka.


Beruntung malam itu Candy sedang mengajak Daffin untuk makan malam di luar, sehingga ia tidak mengetahui kemarahan ayahnya itu.


.


.


Bukannya membaik, karena melihat kemarahan suaminya, deru nafas Nyonya Hadi menjadi kembang kempis, hal itu membuat susternya sedikit panik. Hingga ia pun menelpon Candy.


Kring ...


"Hallo, ada apa sus?"

__ADS_1


"A-anu Bu, Nyonya Hadi nafasnya tak beraturan, saya takut ia kena jantung..."


"Ya sudah segera panggil dokter atau bawa ke rumah sakit sekarang!"


"Ta-tapi saya takut dengan Tuan Besar," ucapnya gemetar.


"Papa sudah pulang?"


"Iya Bu, tetapi habis memarahi nyonya barusan," ucapnya setengah takut.


"Ya sudah cepat bawa ke rumah sakit, kalau soal papa biar nanti aku yang minta ijin."


"Ba-baik Bu."


Lalu suster segera menelpon ambulance. Beberapa saat kemudian Candy pun memutuskan untuk segera pulang.


"Moms ada apa?" tanya Daffin.


"Nenek harus dibawa ke rumah sakit sayang, kita pulang yuk, kasihan nenek."


"Ya sudah Moms, ayo ..."


"Maafin mama ya, lain kali kita kesini lagi."


"Gak apa-apa Moms."


Lalu Candy pun segera melajukan mobilnya menuju mansion utama.


Beberapa saat kemudian kedatangan mobil Candy berbarengan dengan mobil ambulance.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Hadi keluar dari kamarnya.


"Kondisi mama ngedrop pa, jadi aku putuskan untuk membawa mama ke rumah sakit."


Tuan Hadi melihat istrinya sudah masuk mobil ambulance. Ia pun memijit keningnya.


"Ya sudah lakukan yang terbaik untuk mamamu."


Daffin pun memeluk mamanya karena sedikit takut dengan kakeknya.


Ahirnya dari indikasi dokter, beliau ditanyakan terkena gagal jantung.


Ā 


"Astaghfirullah ma, kenapa bisa seperti ini?" batin Candy terenyuh melihat kondisi ibu mertuanya yang semakin memburuk.


Candy yang barusaja mendapat warning dari dokter agar tidak banyak pikiran, malah mendapatkan masalah baru dari ibu mertuanya. Beruntungnya ia masih memiliki sahabat, Luna.


Ia pun mulai berbagi cerita tentang semua hal yang dialaminya. Setidaknya dengan berbagi cerita ada sedikit kelegaan yang ia dapati.


.


.


Sedangkan di rutan, Ezza harus menyesuaikan diri dengan para napi. Ia hampir gila dengan semua kejadian dan ujian hidup yang menerpanya. Belum lagi ia harus beradaptasi dengan lingkungan rutan.


Ā 


Dari teman teman yang berkelas kini temannya berubah menjadi seorang penjahat, pencuri, pengedar narkoba dan semua tahanan NAPI. Ujian kali ini benar-benar memberikan pelajaran hidup untuknya.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


.


.


...Semoga suka dengan part ini, jangan lupa dukungan VOTE, GIFT untuk menguatkan Candy ya.. makasih šŸ™šŸ¤—...

__ADS_1


__ADS_2