
Assalamu'alaikum.
Adakah di sini yang bingung dengan situasi ini? Ini adalah cerita beberapa part yang sayang kalau dihapus begitu saja dari cerita. Cerita masa lalu antara Candy dan Ezza. Jadi selamat mengikuti kisah flash back mereka ya.
.
.
Hari berganti hari, kebucinan dan benih-benih cinta mulai bertebaran di hati Candy dan Ezza. Tak terasa setiap hari, baik Candy maupun Ezza semakin menemukan hal-hal baru. Menyelami perasaan dan kebiasaan dari setiap pribadi masing-masing.
"Selamat pagi, Pa, selamat pagi Ma," sapa Candy pada kedua mertuanya.
Sejak Candy menjadi menantu di Keluarga Hadi Wijaya, Ezza secara tidak sengaja bersikap over protektif pada istrinya. Hampir semua berita miring tentang masa lalu Candy langsung dihapus dari media oleh kaki tangan Ezza. Tapi Candy tidak mengetahuinya.
Sejak saat itu pula, Candy juga tidak pernah dituntut untuk bersikap sebagai orang kaya, tapi Keluarga Hadi Wijaya malah bersikap biasa dan menerima semua sikap sederhana dari menantunya itu. Tapi tidak dengan Nyonya Hadi yang selalu berpikir licik untuk menyingkirkannya.
"Pagi, Sayang, ayo duduk dan sarapan bersama."
"Menurut cerita di novel-novel yang aku baca, ibu mertua tak semuanya baik, apakah ibu mertuaku sama seperti itu?" batin Candy ketika melihat sorot mata tak bersahabat dengan dirinya.
Berada di lingkungan baru tak serta merta membuat Candy mati kutu. Ia juga bukan tipikal wanita gila harta, jadi Candy tak pernah meminta atau menuntut apapun dari suaminya. Candy melakukan kewajibannya sebagai istri tapi memang belum melakukan hubungan badan.
Mereka berdua sepakat kalau belum tumbuh cinta, tak akan pernah ada hubungan badan. Ezza menghormati Candy, karena Candy adalah tipikal wanita impian. Lembut, tangguh dan cekatan. Selain itu otaknya juga cerdas, hanya saja keberuntungan tidak berpihak padanya.
"Oh ya, Papa sudah mendaftarkan kamu kuliah di bagian desain."
"Ku-kuliah?" tanya Candy tak percaya dengan pendengarannya.
Begitu pula dengan Ezza yang tak percaya jika beliau benar-benar menyuruh Candy untuk melanjutkan kuliahnya. Nyonya Hadi sudah memendam amarahnya saat ini.
__ADS_1
"Beraninya dia merebut semua perhatian dari orang-orang yang ia sayangi," batin Nyonya Hadi sambil menatap Candy tidak suka.
Mata Candy menangkap sosok ibu mertuanya sekali lagi.
"Kenapa sorot matanya sangat menakutkan?" batin Candy.
Meski tahu kalau istrinya tidak menyukai kehadiran Candy karena bukan menantu pilihannya, tapi Tuan Hadi membiarkan hal itu terjadi asalkan tidak membahayakan menantunya tersebut.
"Candy, Papa harap kamu tidak mengecewakan kepercayaan dari Papa tentang study kamu."
"Iya, Pa. Terima kasih."
Tak berapa lama kemudian, mereka telah selesai sarapan bersama. Lalu sesuai permintaan ayah mertuanya, Candy ikut Ezza dalam satu mobil. Karena Candy belum mempunyai persiapan apa pun, maka Ezza menunda keberangkatannya ke kantor demi mengantarkan Candy untuk membeli perlengkapan kuliah.
"Seneng kamu sudah dikasih sarana sama Papa untuk melanjutkan study kamu yang sempat tertunda."
Candy tak berani menatap suaminya. Ia juga bingung harus bersikap seperti apa saat ini. Tapi satu keinginannya yang sempat tertunda kini di depan matanya. Bersyukur, ya, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini untuk menanggapi niat baik mertuanya. Eh, maksudnya keinginan ayah mertua.
Ckittt ....
Dahi Candy sempat terantuk dashboard mobil.
"Awh ... sakit, Pak!" seru Candy sedikit emosi.
Ezza menatap Candy dengan satu tatapan aneh.
"Makanya kalau diajak ngobrol tu dengerin bukan malah dicuekin."
"Iya-iya tau."
__ADS_1
"Maaf," cicit Candy.
"Sekali lagi kamu cuekin aku, aku turunin kamu di sini!" ancam Ezza.
"Iya."
Setelah drama itu, mereka segera melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda tadi. Meski bibir Candy mengerucut sejak tadi tak membuat perhatian Ezza teralih.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan Ezza sudah memasuki area parkir sebuah mall. Setelah dirasa mobilnya aman, Ezza bergegas keluar dari mobil lalu berdiri di samping mobil, lebih tepatnya membukakan sebelah pintu untuk istrinya Candy.
Candy sempat mendongakkan wajahnya untuk sesaat lalu mengucapkan terima kasih setelah ia turun dari mobil.
"Terima kasih."
"Hm."
Setelah itu Ezza berjalan sambil salah satu tangannya memegang tangan Candy. Ada gelenyer aneh ketika tangannya digenggam lelaki tapi Candy bahagia, setidaknya meski belum ada rasa cinta yang tumbuh di hati mereka, tapi Ezza tak pernah memperlakukannya dengan buruk.
Setibanya di lantai lima, Ezza mengajak Candy untuk berbelanja tas dan perlengkapan alat tulis. Ada banyak pilihan yang sudah menjadi incaran Candy. Tapi Ezza malah memilihkan tas yang lumayan mahal untuknya.
"Bungkus semuanya, Mbak. Nggak pakai lama ya saya buru-buru!" titah Ezza pada pramuniaga toko tersebut.
"Baik, Pak."
Benar saja, sesaat kemudian semua barang yang diinginkan Ezza sudah berpindah ke paper bag miliknya.
.
.
__ADS_1
Akan ada keseruan apa setelah ini? Simak terus kelanjutan novel ini ya, salam sayang dan kecup cinta dari othor.
...🌹Bersambung🌹...