
Happy reading all😘
.
.
Mobil yang dikendarai Candy dan dokter Richard sudah sampai di depan RUTAN. Karena dokter Richard belum pernah masuk kesana ia harus mendaftar terlebih dulu agar bisa ikut masuk disana.
Ia pun mengambil nomor antrian di sebuah loket. Lalu ia mulai mengikuti semua prosedur mulai dari pendaftaran sampai proses terahir. Hal itu ia lakukan agar ia tetap bisa menemani Candy masuk ke dalam RUTAN.
Sedangkan Candy sudah mendaftar dan melakukan screening dan siap menunggu sampai panggilan nomornya disebutkan oleh petugas jaga. Ia pun menunggu dokter Richard di kursi tunggu.
Setelah menunggu hampir selama satu jam, tibalah giliran Candy dan dokter Richard untuk masuk ke dalam RUTAN. Mereka mengantri di depan pintu masuk bersama para pengunjung lainnya. Hampir semua pengunjung membawa makanan dan minuman dari rumah.
Begitu pula Candy yang membawa beberapa snack dan makanan kesukaan suaminya. Barang-barang itu dibawakan oleh dokter Richard.
"Ayo dok, sudah giliran kita."
"Oke."
Karena pintu masuk begitu ramai dan berdesakan, untuk melindungi kandungan Candy ia pun berdiri tepat dibelakang Candy. Bahkan jarak mereka begitu dekat. Maklum saja pengunjung hari itu begitu ramai, sehingga untuk masuk saja harus berdesak-desakan seperti itu.
Bahkan punggung Candy sudah menempel pada tubuh bagian depan dokter Richard.
"Maaf," cicit Candy.
"Gak apa-apa."
Ahirnya mereka telah masuk di pintu gerbang utama lalu mereka harus melewati sebuah lorong kembali. Setiap pengunjung harus melewati pintu pendeteksi logam atau metal detector sebelum diperiksa barang-barang mereka oleh petugas polisi.
Begitu rumit memang prosedur yang harus dijalani sebelum bertemu dengan salah satu tahanan napi. Tetapi hal itu demi keamanan warga.
Setelah mereka masuk semakin ke dalam, mereka disambut oleh puluhan napi yang berjajar hampir di setiap lorong sambil menunggu keluarga mereka berkunjung. Wajah-wajah mereka begitu beragam tetapi rata-rata kepala mereka plontos alias gundul. Sedangkan pakaian mereka hanya berupa kaos dan celana pendek.
Richard begitu miris ketika melihat banyak orang-orang disana terlihat begitu lusuh dan tak terawat, belum lagi sorot mata mereka seolah mau menerkam setiap pengunjung yang datang.
"Dokter gak usah mandangin mereka, kita langsung naik saja ke lantai atas."
"Memangnya tempat bertemunya di atas?"
"Iya."
Dengan langkah cepat Candy segera menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di depan tangga.
"Assalamu'alaikum mas," sapa Candy lalu mencium tangan suaminya itu.
__ADS_1
Meskipun wajahnya terlihat sedikit kusam, tetapi tidak mengurangi kadar ketampanan yang dimilikinya. Tubuhnya pun tidak sekurus dulu. Kini tubuh Ezza jauh lebih berisi.
"Wa'alaikumsalam dek, tumben kamu gak bawa apa-apa?"
"Kata siapa?"
"Kataku barusan lah."
"Itu dibawah masih dibawakan dokter Richard."
Seketika Ezza pun menoleh pada lelaki di bawah. Benar saja, dibawah ada seorang lelaki yang tak kalah tampan darinya sedang menenteng kotak makanan dan satu buah paper bag.
"Itukah pria yang kamu maksud?"
Ezza kemudian menunjuk pada seorang lelaki yang memakai kemeja putih itu. Candy pun mengangguk, sedangkan Ezza sudah dibakar api cemburu.
Di dalam hatinya pun bertanya-tanya tentang siapa lelaki itu, dan ada hubungan apa dengan istrinya itu. Tanpa sengaja ia mengeratkan tangannya pada Candy.
"Aduh ..."
Ezza yang menyadari kalau ia menyakiti Candy langsung meminta maaf padanya.
"Maaf sayang, aku gak sengaja."
"Tentu saja aku cemburu, aku tak akan pernah membiarkan kamu disentuh lelaki lain selain aku."
"Mas percaya sama aku, sampai kapanpun aku hanya mencintai kamu mas."
"Aku pegang janji kamu."
Candy pun menampilkan senyuman terbaiknya untuk suaminya itu agar ia tidak semakin cemburu. Sedangkan di bagian tangga, Richard mengepalkan tangannya.
Ia sungguh tidak rela melihat Candy di gertak orang lain, bahkan jika Ezza bukan suaminya sudah pasti ia sudah maju untuk memukulnya. Sayangnya posisi dia disini hanya sebagai teman Candy saja sehingga ia pun tak mau mencampuri urusan mereka lebih dalam.
Tap .. Tap .. Tap ...
Richard terus menaiki anak tangga tersebut tanpa mau memperhatikan Candy dan suaminya tersebut. Meski telinganya tak bisa ditutupi tetapi ia masih mencoba sabar. Ahirnya ia sampai di tempat Candy dan Ezza berada.
"Mas, ini dokter Richard dokter kandungan yang dipercaya papa untuk mengawasi kandunganku."
Dokter Richard sudah mengulurkan tangannya untuk berjabat sayangnya Ezza tidak mau menjabat tangannya.
"Mas ..." cicit Candy.
Setelah itu Ezza baru mau menjabat tangannya.
__ADS_1
Lalu mereka pun menuju tempat bergabung dengan para tahanan lain yang sudah berkunjung. Disana disediakan sebuah alas karpet untuk tempat mereka duduk. Hampir semuanya lesehan dan di pintu masuk ada penjaga satu polisi dan beberapa kepala napi atau biasa disebut tamping.
...⚜⚜⚜...
Tamping adalah napi yang dipekerjakan. Bisa kerja untuk melatih ketrampilan atau membantu pekerjaan petugas sehari-hari. Mereka yang menjadi tamping adalah napi yang sudah memasuki masa asimilasi, yaitu sudah hampir habis hukumannya atau yang punya keahlian. Ada tamping dapur, registrasi, blok, bezukan, air, masjid, poliklinik pertukangan, pertanian dan masih banyak lagi, disesuaikan dengan kebutuhan dan keahlian.
...⚜⚜⚜...
Masa besuk setiap tahanan hanya dimulai sejak pukul sembilan sampai jam setengah dua belas. Karena jam setengah dua belas mereka harus kembali masuk sel.
.
.
Candy sekarang duduk berhadapan dengan suaminya, sedangkan dokter Richard hanya duduk di samping Candy. Posisi yang hampir mepet dengan istrinya membuat Ezza semakin kebakaran jenggot.
"Kenapa harus dekat-dekat sih?" gumam Ezza.
"Sorry Bro, kalau posisi gue disini kurang membuatmu nyaman."
"Hmm ..."
"Mas, maaf jika kedatangan ku malah membuat mas semakin marah, dokter Richard emang diutus papa karena selama ini kandunganku bermasalah."
Candy pun menunduk, seolah ia tidak bisa menutupi kesedihan serta beban berat di hidupnya kali ini. Begitu banyak penderitaan yang ia alami sehingga membuat Candy harus mengalami beban pikiran yang secara tidak langsung berimbas pada kehamilannya.
Richard dan Ezza membiarkan Candy meluapkan beban yang ada dipikirkannya saat ini. Setidaknya hal itu sedikitnya bisa mengurangi kesedihannya. Richard juga membiarkan Ezza mendengar keluh kesah istrinya sekaligus ingin melihat respon untuk Candy.
Apakah Candy selalu salah di mata Ezza ataukah cinta untuk Candy masih ada di dalam hatinya. Sungguh jika ia tidak menghormati Candy sudah pasti ia akan merebutnya. Toh, Ezza sudah terlalu banyak menorehkan luka di hati wanita berwajah manis itu.
Meski datang terlambat, Ricard masih berharap mereka bisa memperbaiki hubungannya.
"Semoga setelah ini, kamu segera sadar, bahwa Candy adalah wanita terbaik dan patut untuk kau cintai Ezza."
.
.
Hmm, gimana nih, dokter Richard segitu gak percayanya pada Ezza loh, enaknya Ezza diapain sih biar ia kembali mencintai Candy... hu hu hu ...
.
.
...Jangan bosan untuk selalu mendukung Candy dan Ezza ya.. boleh kok dengan satu bunga atau kopi🤭 ..makasih dukungannya🙏...
__ADS_1