Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
JERAT IBLIS BEGITU KUAT


__ADS_3

Mungkin ini yang namanya "Karma dibalas instant". Penderitaan Delima semakin menjadi. Ia semakin terjerat masuk ke dalam perputaran arus iblis. Belum lagi kini ia sedang mengandung anak manusia setengah iblis.


Bukan hanya fisik tetapi psikis Delima benar-benar sudah tidak tertolong lagi. Semakin lama ia semakin menikmati kebahagiaan palsu. Di dalam matanya ia sedang berbahagia dengan Ezza, apalagi ia mengandung anaknya.


Entah sihir apa yang digunakan Ki Parto, sehingga Delima benar-benar menganggapnya sebagai Ezza. Bahkan gubuk yang ia tinggali saat ini di dalam matanya adalah sebuah mansion lengkap dengan para pelayan yang siap melayaninya setiap saat.


.


.


Di dalam gubuk Ki Parto.


"Salam hormat Ki."


"Hm, ada apa?"


"Ini syarat-syarat yang Ki Parto minta kapan hari, maaf saya baru bisa menyelesaikannya saat ini. Ini ayam cemani hutan yang saya tangkap sendiri."


"Cepat kurung ayam itu dalam sangkar yang telah aku siapkan."


"Lalu bawalah Delima kemari."


"Baik Ki."


Dengan cepat ia membawa Delima ke dalam gubuk milik Ki Parto. Meski awalnya menolak, tetapi nyatanya hanya dengan satu hembusan mantra, Delima sudah menurut padanya.


"Ada apa mas?" tanya Delima manja.


Ki Parto pun menepuk pahanya, mengisyaratkan agar Delima duduk disana.


Delima tersenyum lalu mendekati Ezza palsu alias Ki Parto.


"Kamu mau makan apa cantik?"


"Ayam bakar madu boleh mas."


Ki Parto tertawa, "Apapun yang kamu minta pasti akan aku kabulkan."


"Makasih mas, kamu memang yang terbaik."


Tanpa sadar Delima segera mencium pipi Ki Parto.


Sedangkan murid Ki Parto sekaligus asistennya hanya bisa melihat orang yang dihormatinya mendapat apa yang ia sukai dengan cara tidak baik. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain semakin tunduk padanya.


.


.


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


...Kediaman Taruna...


Arga bersama kedua orangtuanya sudah sampai di rumahnya. Tanpa mau menunggu ayah dan ibunya ia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Direbahkan-nya tubuhnya di atas ranjang dengan posisi menelungkup. Sedangkan pikirannya sudah jauh melayang kemana-mana. Menerawang jauh sembari membayangkan tubuh indah Delima yang terus menari-nari diatas kepalanya.


Diraihnya ponsel itu, dengan lincah ia menscrol naik turun daftar kontak untuk mencari nama Delima. Lima menit berlalu, akhirnya nama Delima ketemu.


Dengan satu jentikan jari ia sudah mendial nomor itu, sayangnya meski sudah berkali-kali, tetapi tetap saja tidak tersambung.


"Kamu pergi kemana sih?"


Ia pun mengacak-acak gemas rambutnya. Lalu melempar benda pipih berbentuk segi empat itu ke sembarang arah karena saking kesalnya.


Ia benar-benar frustasi kali ini. Masalah wanita ternyata jauh lebih memusingkan ketimbang masalah bisnis.


"Aarggghhhh ..."


Tok, tok, tok ...


"Arga ..." panggil mamanya.


"Iya ma," ucapnya sambil merapikan kemeja yang ia pakai.


"Mama boleh masuk?"


"Boleh ma, masuk aja."


Nyonya Taruna segera masuk ke dalam kamar Arga. Dilihatnya wajah anaknya yang terlihat sedang kebingungan. Padahal Arga tak pernah terlihat kacau seperti ini. Timbul pertanyaan yang menari di atas kepala Nyonya Taruna.


"Kamu sedang apa nak? Kok enggak langsung mandi?"


"Bentar lagi mah, nanggung."


"Nanggung kenapa?"


"Hhhh ..."


Nyonya Taruna memegang bahu putranya dan membuat Arga mau tak mau menatap dirinya.


"Ada apa?" tanya mamanya sekali lagi.


Arga memandang wajah ibunya dengan seksama.


"Ma, bolehkah Arga jujur sama mama, tapi aku mohon mama jangan marah sebelum aku mengatakan segalanya."


Nyonya Taruna mengangguk.


"Iya, mama janji."

__ADS_1


"Ma, Arga minta maaf sebelumnya, jika perkataan Arga ini akan menyakiti hati mama."


"Iya sayang," ucap Nyonya Taruna sambil membelai lembut pucuk kepala Arga.


"Ma, aku mencintai seorang gadis, tapi dia istri orang."


"Ha-ah, maksud kamu ..."


"Aku bukan menjadi pebinor seperti apa yang mama pikirkan."


"Lalu, maksud kamu apa nak?" ucap Nyonya Taruna dengan nada yang sudah agak meninggi.


"Dia tidak pernah bahagia dengan suaminya, karena ia terpaksa menikah dengannya."


"Lalu kamu menerima cintanya?"


"Dia juga sudah hampir bercerai dengan suaminya, jadi bolehkah Arga menikah dengannya?"


"Nggak, mama gak setuju, anak mama gak boleh dapat janda, TITIK!"


"Ma, memangnya kenapa dengan status janda, bukankah sebuah pernikahan harus dijalankan atas nama cinta dan kepercayaan antara satu sama lain lebih penting dari segalanya?"


"Kenapa mama masih menolak dia?"


Meski marah, Nyonya Taruna tidak bisa gegabah. Ia tau betul watak putranya yang selalu ambisius itu.


"Nak, dengarkan mama dulu, kalau kamu memang sudah yakin dengannya, bawalah ia kemari. Tapi dengan satu syarat!"


"Syarat, syarat apalagi ma?"


"Dia datang kemari setelah proses cerainya selesai, dengan kata lain ia sudah tidak ada hubungan dengan mantan suaminya lagi."


"Oke, aku akan bawa di kesini, setelahnya mama harus merestui kami."


Nyonya Taruna tampak memejamkan matanya. Ia mencoba meresapi setiap perkataan yang dilontarkan Arga barusan. Salah sedikit keputusan yang ia ambil bisa berakibat fatal.


"Oke, tapi ingat dia juga tidak boleh mempunyai anak selain darimu, mengerti?"


"Mengerti ma, terimakasih mama."


Spontan Arga segera memeluk mamanya. Ia amat bersyukur karena beliau telah menyetujui niat baiknya. Hingga kini, ia tinggal bertugas untuk mencari keberadaan Delima.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


.

__ADS_1


.


...Jangan lupa Like, komen, share n favorit ya. Tambah terimakasih lagi kalau dikasih 🌹☕ ataupun koin dan Vote, terimakasih all🙏😘...


__ADS_2