
Setelah beberapa jam mereka habiskan di perjalanan, kini mobil yang mereka kendarai sudah sampai di halaman Mansion Keluarga Hadi Wijaya.
"Pak, tolong bantu buka pintu untukku!" pinta Ezza pada pak sopir.
"Baik, Tuan."
Lalu setelah Tuan Hadi turun, pak sopir membantu membuka membukakan pintu untuk Ezza.
Ezza lalu menggendong Candy menuju kamarnya. Karena mereka tiba larut malam, maka suasana mansion sangat sepi. Tentu saja para anggota keluarga sudah beristirahat.
Lalu Ezza melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka di lantai atas.
"Ezza, kamar kalian yang baru ada di paling ujung ya, sementara kamar kalian yang lama, Papa jadikan gudang."
"Oh, oke, Pa."
Ezza masih ingat betul kamar yang barusan ia lewati. Sebuah kamar yang dulu ia tempati bersama Candy dan juga Delima. Di kamar itu pula, dulu Ezza mengusir Candy dari sana.
Kini wanita yang ia sakiti itu tertidur nyenyak dalam gendongannya. Ezza menatap lekat-lekat wajah Candy yang sangat imut itu. Pantas saja banyak sekali lelaki di luar sana yang mengincarnya. Karena bukan hanya wajahnya saja yang cantik, melainkan hatinya juga cantik.
"Maafkan aku sayang," ucap Ezza lirih sambil mencium kening Candy.
Sesaat kemudian mereka telah sampai di kamar yang baru. Sebuah kamar yang elegan dan hampir mirip dengan dekorasi interior yang pernah Ezza inginkan dulu, kini tersaji di depan mata. Tapi ada satu hal yang berbeda. Di sana ada sebuah pintu kaca besar yang ia tak tau mengarah ke mana.
Ezza lalu membaringkan tubuh Candy di ranjang yang empuk itu. Sementara ia mengamati ruangan itu sambil mencari di mana letak walk in closed-nya.
Karena belum menemukannya ia pun menuju toilet untuk sekedar membersihkan dirinya dengan air hangat. Setelah membersihkan diri, Ezza masih melihat istrinya masih terlelap. Melihat ada sedikit make up di wajah Candy, Ezza berniat untuk membantu membersihkannya.
Di ambilnya cairan pembersih muka dan sepotong kapas.
"Micellar water, berfungsi untuk membersihkan seluruh make up dengan sekali sentuh." Begitulah bunyi tulisan dari botol mini yang diambil Ezza dari meja rias Candy.
"Semoga ini benar," batin Ezza sambil menuang satu tetes micellar water pada kapas.
Ia mengusap dengan perlahan kapas itu pada wajah Candy. Awalnya Candy sedikit terusik tapi lama-lama ia tertidur kembali.
Mungkin karena cairannya dingin, hingga membuat Candy kaget saat Ezza menyentuh wajahnya tadi. Beruntung Ezza melakukannya dengan hati-hati. Melihat Candy tertidur pulas, ia pun segera menyusul istrinya ke dalam mimpi.
__ADS_1
🍃Keesokan harinya.
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang. Kini Candy sudah merasa lebih segar badannya. Candy merasa heran karena seingatnya semalam ia masih berada di dalam mobil, lalu sejak kapan ia sudah berada di dalam kamar tidur.
Candy menoleh, "Mas Ezza," ucap Candy tak percaya.
Diusapnya lembut wajah suaminya itu. Tak terasa cairan bening keluar dari kedua matanya. Sekian lama menunggu, akhirnya penantiannya berujung indah.
"Alhamdulillah, ternyata ini bukan mimpi, terima kasih, Ya Allah."
Ia pun tak melupakan kebiasan lamanya yaitu sholat berjamaah. Candy mencoba membangunkan Ezza dengan menggoyang-goyangkan lengannya. Berhasil, akhirnya mata Ezza terbuka.
"Ada apa, Sayang."
"Sholat berjamaah yuk, Mas," ajak Candy.
Ezza yang masih mengantuk, mengusap kedua bola matanya lalu mengangguk.
"Alhamdulillah, engkau mengabulkan semua permintaan dariku, Ya Allah."
Lalu kedua suami istri itu segera bangkit dari atas tempat tidur lalu mengambil air wudhu. Dengan telaten, Candy mengambilkan sarung, baju koko dan peci untuk suaminya. Tak lupa ia juga menyiapkan tempat dan membentangkan sajadah di sana.
Ada rasa haru, lega tumpah bercampur menjadi satu. Ujian yang menerpa mereka beberapa saat yang lalu, nyatanya semakin membuat hidup mereka semakin baik.
Selesai mengaji, Ezza meminta Candy mengantarkan dirinya pergi ke kamar Baby Kayla.
"Ayo, mas, ke sebelah sini kamarnya," ajak Candy.
Sebenarnya kamar Baby Kayla tak jauh dari kamar Candy, kebetulan karena kemarin ia pergi lama, secara otomatis Baby Kayla tidur di kamar pengasuhnya.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Mbok, maaf apa aku boleh masuk?"
"Boleh Nyonya, sebentar."
Tak lama kemudian pintu terbuka. Kini terlihat bahwa Baby Kayla masih tertidur pulas di atas tempat tidur Mbok Inem.
__ADS_1
Kali ini Candy mempekerjakan orang yang lebih tua karena ia lebih nyaman begitu. Ia takut mempekerjakan orang yang lebih muda karena takut suaminya akan tergoda dengannya.
Entah kenapa rasa protektifnya muncul sejak Delima menjadi madunya. Sejak saat itu, Candy lebih pilih-pilih dalam memperkerjakan karyawan.
"Putri, Mama masih pules, Pa."
"Iya, eh, makin gembul aja."
"Ini nggak apa-apa, Mbok saya bawa ke kamarnya?"
"Nggak apa-apa, Nyonya."
Lalu dengan perlahan, Baby Kayla digendong Candy menuju kamarnya. Tak lupa Candy berterima kasih pada Mbok Inem karena telah menjaga putrinya lebih dari dua puluh jam.
"Hm, kok tumben, pengasuh Kayla, embok-embok, Sayang?"
"Biar Mas enggak genit lah!"
"Ha-ah, emang aku genit?" tanya Ezza bingung.
"Kalau enggak genit, nggak mungkin ada yang kedua, bukan?"
"Eh, kalau itu, maaf, Sayang."
"Telat, nyebelin."
Candy berjalan cepat dan meninggalkan Ezza.
"Hm, hawa-hawa ngambek deh."
Ezza pun berlari mengejar Candy yang memang ngambek pagi itu. Benar saja, belum juga ia masuk, pintu kamarnya sudah tertutup rapat.
"Hm, mulai deh!"
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...