Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
TUMBAL PENGANTIN


__ADS_3

...HAPPY READING ALL...


...SEBELUM MEMBACA BUDAYAKAN LIKE DAN FAVORIT YA, KARENA DUKUNGAN KALIAN SEMANGAT BUAT AUTHOR,...


...TERIMAKASIH 🙏...


.


.


Selesai berpamitan, Candy dan dokter Richard segera menuruni anak tangga, lalu mereka turun ke lantai bawah. Selepas itu mereka ikut antri dengan para pengunjung lain dibarisan pintu keluar.


Jika jam besuk mereka sudah habis, para pengunjung akan digiring untuk pulang. Sedangkan para narapidana mau tak mau ia pun kembali ke dalam sel masing-masing.


Kalau mereka sampai melanggar batas waktu yang telah di tentukan, maka mereka akan terkena hukuman. Bisa jadi hukuman yang diberikan padanya sebuah hukum ringan bisa juga hukum berat seperti dipukul atau disengat aliran listrik. Sebenarnya hal itu dilakukan agar mereka terbiasa untuk hidup dengan tertib.


Sementara itu Ezza menatap nanar punggung istrinya yang sedang bersama lelaki lain. Di dalam hatinya merasakan sesak luar biasa, apalagi ia tau dengan jelas kalau dokter itu juga menaruh hati pada istrinya.


Tetapi karena kebodohannya ia malah menyia-nyiakan Candy dan berada di tempat terkutuk ini. Seandainya waktu bisa diputar, ia akan tetap berada di sisi Candy dan tak 'kan pernah membiarkan lelaki manapun bisa mendekati istrinya itu.


"Tunggu aku pulang Candy, maka aku akan menjaga keluarga kita kembali seperti dulu."


.


.


...⚜⚜⚜...


...Di pelataran RUTAN...


"Awwhhh ..." Candy memegangi perutnya.


"Kenapa Can?"


"Perut saya kram dok," cicitnya.


"Mari saya papah ke mobil, atau mau menunggu disini?"


"Disini saja," rintihnya.


"Baik, stay disini oke, aku ambil mobil dulu."


Candy pun mengangguk.


Dokter Richard pun setengah berlari karena panik. Baru sesudahnya ia pun segera mengambil mobil dan membawanya ke tempat Candy.


Ckitt ...


Mobil berhenti tepat di samping Candy. Lalu dokter segera memapahnya masuk ke dalam mobil. Terlihat keringat sebesar biji jagung keluar dari dahi Candy. Dokter pun segera membawa Candy ke rumah sakit tempat ia praktek.


Mau tidak mau keselamatan Candy dan bayinya ada ditangannya saat ini. Meskipun panik, tetapi dokter Richard mampu membawakan mobil secara aman dan nyaman.


Setidaknya meski ia belum mempunyai istri tetapi ia tau materi-materi saat kuliah dulu dan mungkin saat ini adalah ujian prakteknya.


Beberapa menit kemudian, kuda besinya sudah mengantarkan mereka sampai di rumah sakit dengan selamat. Dokter Richard segera memberi instruksi pada salah satu perawat untuk menyiapkan brankar. Sementara itu Candy sudah berada dalam gendongannya.


"Dok, sa... kit ...." cicitnya.


"Sabar ya sayang ..."


Tanpa terasa kata itu pun meluncur mulus dari bibir tipis sang dokter. Hal itu pun membuat kecanggungan seketika menghinggapi mereka berdua.


"Sorry ..." ucap dokter.

__ADS_1


Beruntung brankarnya sudah datang, sehingga tubuh Candy segera dipindahkan ke atas brankar. Hingga ia segera dibawa ke ruang pemeriksaaan.


Sesaat kemudian ia mengusap dadanya.


"Sabar Richard, kamu tidak boleh gegabah."


Setelah menenangkan hatinya ia segera berlari menyusul Candy.


.


.


Sementara itu di tengah hutan, atau lebih tepatnya di rumah Ki Parto.


Tubuh Delima masih terlelap, tetapi keadaannya sedikit mengenaskan. Belum lagi pakaiannya sudah terkoyak di beberapa bagian.


Ada sedikit bekas cakaran dibeberapa bagian tubuh Delima. Entah kejadian apa yang terjadi semalam, hingga saat matahari sudah bersinar terang diatas sana, ia belum juga membuka matanya.


"Apakah dia sudah bangun?"


"Belum Kik," jawab salah satu asistennya.


"Hmm, sepertinya dia sangat menikmatinya, ha ha ha ... " ucap Ki Parto bangga.


Ia pun menyesap cerutunya dengan nikmatnya. Sambil sesekali ia menyeruput kopi hitamnya. Tak lupa bayangan tubuh Delima masih menari di dalam ingatannya.


"Kalau sudah bangun, beri dia makan dan minum yang telah aku persiapkan, dan satu hal lagi yang perlu kamu lakukan ..."


"Jangan pernah menjawab apapun yang ia tanyakan kepadamu."


"Baiklah aki, saya permisi."


"Hmm ..."


Setelah melaporkan keadaan Delima pada Ki Parto, asistennya pun segera undur diri dan kembali ke gubuknya.


Tetapi ia tidak mau berpikiran aneh-aneh ataupun berbuat hal yang tidak disukai oleh gurunya, yaitu Ki Parto. Karena ia sudah mengabdikan diri pada Ki Parto secara sepenuhnya.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Di gubuk Delima...


Setelah beberapa saat ia pun terbangun. Ia merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk redam.


"Aduh ... kenapa nyeri sekali?" rintihnya.


Bagian sensitifnya kini berdenyut nyeri. Belum lagi perih di beberapa bagian tubuhnya membuatnya bertanya-tanya.


Matanya terbelalak ketika mendapati dirinya sudah acak-acakan.


"Apa yang terjadi semalam?" pekiknya.


"Bukankah semalam, ... aaaa ..."


"Apakah tadi malam itu bukan kamu Mas Ezza? lalu siapa kah semalam yang melakukannya padaku?"


Ia pun berteriak sekuat tenaga, membuat burung-burung diatas gubuknya beterbangan karena kaget.


Sedangkan Ki Parto tertawa di dalam gubuknya.

__ADS_1


"Pengantinku ... ha ha ha ..."


"Kau sangat me-muas-kan."


.


.


...⚜⚜⚜...


...Rumah Sakit Ibu dan Anak...


Candy masih diperiksa di dalam ruang perawatan. Hingga ahirnya dokter Richard bisa bernafas dengan lega karena kondisi Candy sudah membaik.


Dengan setia ia menunggu hingga ia siuman. Sampai ahirnya Candy siuman. Ia pun berusaha untuk tidak membangunkan dokter, tetapi tak sengaja tangannya menyenggol gelas air putih di atas nakas.


PRANG!!!


Gelas itu terjatuh dan berserakan memenuhi lantai di sekitar nakas. Karena suaranya begitu keras, maka ia pun terbangun.


"Candy kamu sudah siuman?"


Dokter Richard mengusap kedua matanya. Lalu mendekati brankar Candy.


"Sebenarnya saya kenapa dok?"


"Kamu tenang dulu, kamu mau minum?"


Ia mengangguk, dokter Richard tersenyum.


"Aku ambilkan air yang baru. Kamu tunggu sebentar."


Sesaat kemudian ia pun mengambilkan minuman untuk Candy lalu mulai menjelaskan apa yang sedang terjadi.


Sementara itu serpihan kaca sudah dibersihkan oleh bagian cleaning service.


"Sebenarnya kamu tadi mengalami kram perut."


"Kram perut yang kamu alami ini sebenarnya wajar terjadi pada usia kandungan tujuh bulan. Saat janin tumbuh, posisi rahim cenderung miring ke kanan atau ke kiri. Kondisi ini bisa membuat ligamen yang menyokong sisi rahim menjadi kencang atau mengalami kontraksi, sehingga memungkinkan ibu hamil lebih sering merasakan kram di bagian perut."


"Tapi tidak berbahaya kan dokter?"


"InsyaAllah selama aku menjagamu, tidak akan terjadi apa-apa," jawabnya dengan tersenyum.


"Tapi aku meminta satu hal, agar kamu menuruti saran-saran dariku."


"Apakah itu dokter?"


"Jaga perasaan dan pikiranmu, bukankah perlahan semua masalah yang kau alami sudah menemui titik terangnya?"


"Tapi dok, masih ada hal yang membebani pikiranku."


"Kalau ada yang perlu kamu bicarakan, katakan saja padaku, mungkin saja bisa mengurangi beban pikiranmu."


"Tapi dokter bukan siapa-siapa bagi saya?"


Deg ... sebuah perkataan ringan tapi menusuk hati.


"Andai aku yang bertemu lebih dulu denganmu, akankah kau mencintaiku sama seperti kamu mencintai suamimu, Ezza?"


Entah kenapa pertanyaan konyol itu selalu dan selalu membayangi pikirannya saat berdekatan dengan Candy. Sedangkan Candy tidak pernah sama sekali membuka hatinya untuk orang lain.


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2