
"Apa yang terjadi sama aku ma?" ucap Arga sedikit panik.
Ia pun bersandar pada head bord ranjang rumah sakit. Nyonya Taruna melepas alat ibadahnya lalu menghampiri putranya.
"Minum dulu sayang."
"Terimakasih ma, dimana Delima?"
"Delima siapa nak? kamu disini cuma sama mama aja."
Arga mengusap kasar wajahnya, lalu segera menghapus bekas air putih yang masih ada di sudut bibirnya. Nyonya Taruna segera mengembalikan gelas tersebut pada nakas di samping brankar Arga.
"Katakan sama mama, kamu habis mimpi burukkah? lalu siapa Delima?"
"Iya ma, aku baru saja mimpi buruk, karena pacarku jatuh dan aku tidak bisa menyelamatkannya."
Arga mulai menunduk saat menceritakan mimpinya barusan.
"Memangnya Delima siapa nak?" tanya Nyonya Taruna sedikit penasaran.
Belum sempat Arga menjawab hal itu, dari arah pintu sudah muncul ayahnya.
"Ayah? ayah disini juga?"
"Iya, bahkan sejak dua hari yang lalu saat kamu belum siuman."
"Memangnya apa yang terjadi padaku ayah, ibu?" tanya Arga juga penasaran.
Hal yang terahir kali ia ingat adalah saat ia dan Delima pulang dari Kepulauan Maldives.
"Hampir dua minggu yang lalu kamu mengalami kecelakaan yang hebat saat melintas di jalan tol, sehingga kamu segera di operasi."
"Sayangnya karena peralatan di rumah sakit itu kurang memadai, maka dokter memutuskan agar kamu segera dipindahkan kesini."
Lagi dan lagi Arga mengusap gusar wajahnya. Jujur ia hawatir akan keadaan kekasihnya itu. Tetapi kedua orangtuanya pasti tidak akan setuju dengan hal ini.
"Katakan padaku, siapa wanita itu?"
"Wanita yang mana ma?"
"Yang mau kamu ceritakan padaku."
"Oh, orang yang bersamaku saat itu adalah kekasih hatiku. Kita bahkan akan menikah dalam beberapa bulan ke depan. Tetapi takdir berkata lain. Entah dimana ia berada sekarang."
.
.
Setelah menidurkan Daffin, Candy segera kembali ke kamarnya. Tiba-tiba perutnya kembali kram. Ia pun berpegangan pada dinding kamarnya.
__ADS_1
“Awwhhh ... sakit ...” keluhnya.
Tak terasa ada suatu cairan yang keluar dari pangkal kedua pahanya. Ia pun merasakan sakit di bagian perutnya bagian bawah.
Merasakan ada yang janggal, ia pun mendial nomor telepon dokter Richard.
Dokter Rhicard yang barusaja mau merebahkan dirinya, mengurungkan niatnya lalu mulai mengambil ponselnya yang kebetulan ada di meja kerjanya.
Ia melihat nama Candy dalam layarnya, ia segera mengangkat telepon tersebut.
"Hai Candy ada apa?"
"Dok, bisa datang ke mansion, perut saya kembali kram, dan ada sesuatu yang keluar dari bawah."
"Apa? oke, sebentar lagi saya kesana, kurang lebih dua puluh menit, kamu bertahan ya, saya pastikan akan segera sampai."
"Sama-sama."
Kebetulan malam itu Mbak Sati lapar, sehingga ia pun masuk ke dapur. Melihat kamar majikannya masih menyala, ia pun menuju kamarnya.
"Astaghfirullah nyonya ..." teriak Mbak Sari.
Dengan segera ia pun berlari menuju majikannya yang terduduk di lantai.
"Nyonya kenapa?"
"Perut saya kram mbak."
"Sudah telepon dokter?"
"Sudah, tolong bantu saya ke ranjang ya mbak."
"Baik Nyonya, saya bantu, pelan-pelan nyonya."
Dengan perlahan dan hati-hati, mbak Sari memapah Candy menuju ranjang.
"Sakit nyonya?"
"Sakit mbak, tapi sebentar lagi dokter Richard pasti datang."
__ADS_1
"Ya sudah dipakai berbaring saja dulu nyonya."
Setelah beberapa saat, ahirnya dokter yang ditunggu datang. Mbak Sari segera berlari ke depan untuk menyambut sang dokter.
"Loh kenapa lari-lari mbak?" ucap Tuan Hadi.
"I-itu Tuan, Nyonya Candy sakit," ucapnya ketakutan.
"Sudah panggil dokter Richard?"
"Sudah Tuan, sebentar lagi pasti datang, saya juga sedang menunggu beliau."
Benar saja sesaat kemudian dokter Richard datang. Ia turun dari mobil dengan segera. Lalu setengah berlari ia segera menuju pintu utama.
"Selamat datang dokter, Nyonya Candy sudah menunggu di dalam."
Dengan segera ia pun berlari ke kamar Candy. Begitu pula dengan Tuan Hadi dan Mbak Sari yang menyusulnya.
"Candy?" seru dokter Richard memandang pilu kekasih hatinya yang sedang kesakitan itu.
"Dokter ..." panggil Candy dengan suara lirihnya.
Lalu ia segera memeriksa tubuh Candy dan melakukan pemeriksaan secara detail. Ia sangat hati-hati dalam memeriksa Candy terlebih kandungan Candy berusia tujuh bulan. Salah sedikit bisa-bisa ia melahirkan waktu itu juga, pikir dokter Richard.
.
.
Sementara itu sebuah persiapan yang sudah selesai itu tinggal menunggu perhelatan akbar acara pertunangan Luna dan Aldo. Di dalam angannya ia bisa berbagi kebahagiaan jika Candy datang. Tetapi ia juga tidak berani menelponnya saat ini. Karena bisa dipastikan ia sedang istirahat malam.
Luna hanya bisa berdoa agar kegiatan esok hari bisa berjalan lancar. Begitu pula dengan Aldo yang masih grogi karena besok pagi, ia benar-benar melamar sang pujaan hatinya.
.
.
...🌹Bersambung 🌹...
.
.
Oh ya sambil menunggu novel ini up, silahkan mampir di karya teman Fany ini ya.
.
.
__ADS_1