Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
PERSIDANGAN EZZA


__ADS_3

Happy reading all😘


.


.


Ahirnya operasi pada Tuan Hadi selesai. Lampu di atas pintu operasi telah padam. Beberapa tenaga medis kemudian membawa pasien ke ruangan ICU untuk sementara waktu.


"Bagaimana dokter?" tanya Candy yang tiba-tiba sudah muncul di depan ruang operasi.


Beruntungnya saat itu Candy memakai kursi roda untuk sampai disana, tentunya dengan bantuan Mbak Sari disana.


>>FLASH BACK ON


"Bik, saya gak tenang kalau cuma disuruh berbaring disini?"


"Aduh non, jangan gitu ya, nanti pak dokter marah."


"Kenapa pakai marah, kan dia bukan siapa-siapa?'


"Tapi ini semua demi kebaikan Nyonya."


"Gak mau, pokoknya antar saya ke ruang operasi, sekarang!"


"Aduh, Nyonya kenapa bandel sih?'


"Bibikk ... cepat antar saya atau saya pecat!"


Candy pun mulai terbawa emosi untuk sesaat. Hal itu mungkin karena beban pikirannya yang terlalu banyak sehingga membuat dirinya mudah marah.


"Ya jangan nyonya, nanti kalau saya dipecat, saya ngirim uang ke kampung pakai apa?"


"Ya udah kalau begitu, cepat antar saya."


"Ba-baik nyonya ..."


Mbak Sari pun segera mengambil sebuah kursi roda yang berada di sudut ruangan dan mulai mempersiapkannya untuk nyonya mudanya.


>>FLASH BACK OFF


Dokter Richard pun memandang aneh wanita didepannya itu.


"Dok, dokter?" sapa Mbak Sari mencoba membuyarkan lamunan dokter.


Candy yang menyadari tatapan aneh dari dokter segera menunduk. Baginya ia tidak mau terlalu lama melakukan kontak mata dengan selain suaminya sendiri.


"Maaf dok, saya cuma hawatir sama keadaan papa."


"Saya justru lebih mengkhawatirkan kamu, karena di dalam tubuh kamu sedang tumbuh sebuah kehidupan baru disana."


Deg, meski ucapan dokter terkesan ringan tetapi hal itu memang benar adanya. Kini ia pun sadar diri agar ia tidak boleh egois kembali.


Dokter Richard mulai mendekati Candy, ia pun setengah berjongkok karena Candy tidak mau menatapnya.


"Saya bukannya mau ikut campur, tetapi pikirkanlah hal yang terbaik untukmu. Jika perlu bantuanku, datang saja ke ruanganku, oke!"


Candy pun mengangguk, lalu dokter Richard segera undur diri.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Terimakasih dokter," ucap Candy setelah dokter mulai berlalu.

__ADS_1


Dokter Richard sempat berhenti dan menoleh padanya.


"Sama-sama."


Mbak Sari sedikit banyak paham akan perhatian yang diberikan dokter itu pada nyonya besarnya. Meski begitu ia juga tidak mau ikut campur. Ia juga tau bagaimana nyonya mudanya yang telah berjuang selama ini.


"Semoga Nyonya Candy selalu dikelilingi orang-orang baik, Aamiin." doanya dalam hati.


.


.


Sementara itu Ezza merasa kesepian karena beberapa hari ini istrinya tak kunjung datang. Ia juga merasa sedih karena ayahnya sampai hari ini belum pernah menjenguknya.


Seakan-akan semua orang kini telah jijik kepadanya. Hal itu membuatnya merasa down. Setiap hari ia terlihat semakin murung.


Disaat ia melihat orang lain dengan bebas menelpon atau dikunjungi oleh keluarganya, ia hanya bisa memandang mereka dari kejauhan.


"Kenapa menjadi seperti ini? aku harus segera keluar dan mencari Delima. Andai saja waktu itu ibu tidak menyuruhku menikah dengannya, semua ini tidak akan terjadi padaku."


Kini ia hanya bisa menerima takdirnya dari balik jeruji besi. Tiba-tiba saja salah satu tahanan menepuk pundaknya dari arah belakang.


"Woi ... ngapain melamun?"


"Sini duduk sama gue."


Lalu mereka pun duduk di bawah sebuah pohon. Sambil memandangi tahanan lain yang sedang bercengkerama dengan keluarganya, tanpa terasa air matanya luruh.


Satu bulir ... dua bulir ...


"Sabar Bro, gak usah pakek nangis kali ... gitu aja lebai," ucapnya.


Dengan buru-buru ia pun menghapus jejak air matanya.


Ia pun mengusap punggung Ezza.


"Yang ikhlas, biar saja hukum tetap berjalan, toh siapapun yang menanam suatu hari akan menuainya juga."


Tiba-tiba salah satu petugas polisi mendekatinya.


"Dengan saudara Ezza?"


Ezza mulai berdiri.


"Ya Pak, saya Ezza."


"Ini surat pemberitahuan untuk persidanganmu minggu depan."


"Terimakasih Pak," ucapnya senang sambil mengambil surat itu dari tangan petugas.


Lalu Ezza mulai membuka surat tersebut dan mencoba memahami isinya.


"Wah selamat ya Bro, sebentar lagi kamu dan di sidang, aku aja udah menunggu dua tahun gak disidang-sidang."


Ezza memandang iba temannya itu.


"Jika memang aku kaya, mungkin saja aku akamn mengajakmu keluar dari sini."


.


.

__ADS_1


Sementara itu ..


Hari ini persidangan Ezza akan di gelar. Hari ini ia tidak bersama rombongan besar, karena beberapa hari ini mereka sudah menjalani sidang, sedangkan Ezza harus menjalani sidangnya sendirian.


Ia sudah memakai pakaian lengkap untuk persidangan. Setelan kemeja putih dengan celana hitam dan sepatu, tak lupa kopyah untuk menutupi kepalanya.


Ezza melangkahkan kakinya dengan lunglai menuju kursi pesakitannya.


"Ya Allah kuatkan hamba dalam menjalani persidangan hari ini," doanya dalam hati.


Sebenarnya Candy sudah mendapatkan undangan tentang informasi jika Ezza hari ini akan menjalani persidangan.Tetapi karena di kantor ada meeting, sehingga ia pun tidak bisa menghadirinya.


Hari ini tepat dua bulan sudah suaminya di tahan. Ayah dan ibu mertuanya sudah berada di rumah. Meski mereka dalam masa recovery, tetapi Candy selalu memantau perkembangan mereka.


"Mas, maaf jika hari ini, aku tidak bisa datang untuk mendampingimu, tetapi aku janji, setelah semuanya selesai aku akan ke sana."


Belum sempat ia beranjak, pintu ruangan kerjanya sudah diketuk.


"Permisi Bu, rapat pagi ini akan segera dimulai."


"Iya mbak, saya akan segera kesana."


Candy pun segera merapika kemejanya dan bergegas menuju ruang rapat. Tak lupa berkas-berkas yang ia butuhkan sudah ia bawa di salah satu tangannya.


"Bismillah semoga meeting pagi ini akan berjalan dengan lancar... Aamiin."


TAP .. TAP ... TAP ....


Suara high heels mulai terdengar dari ruangan meeting. Hal itu menandakan bahwa sang pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan itu akan segera datang.


Meskipun begitu... sebenarnya kedua suami istri itu benar-benar dalam keadaan sama-sama grogi. Di satu sisi, Ezza sangat takut dengan persidangan Final ini dan Candy sangat takut pada hasil kerja sama yang akan ia presentasikan hari ini.


.


.


Di sebuah tempat persidangan.


Jaksa dan penyidik sudah membacakan semua bukti dan segala hal yang menyangkut tentang kasus Ezza. Kini tibalah sang hakim untuk memutuskan, apakah Ezza bersalah atau tidak.


Keringat dingin mulai mengucur dari kening Ezza. Ia sama sekali kehilangan wibawanya saat itu. Ia hanya bisa menunduk di kursi pesakitan itu, sambil sesekali ia terus berdoa agar hasil keputusan hakim tidak memberatkannya.


"Saudara Rean Ezza Hadi Wijaya, dengan ini saya nyatakan bahwa Anda dinyatakan bersalah dalam hal ini, maka hukuman yang harus Anda jalani adalah kurang lebih empat bulan kurungan penjara, dan masa hukuman yang harus Anda jalani adalah sebagai berikut."


"Masa tahanan terhitung empat bulan dari awal Anda di tahan sampai empat bulan kemudian. Sedangkan saat ini, masa tahanan yang sudah Anda jalani akan di potong satu bulan tahanan di POLRESTABES, satu bulan di RUTAN, maka sisanya Anda akan menghabiskannya di dalam RUTAN."


TOK ... TOK ... TOK ...


Suara ketukan palu dari hakim sudah diputuskan. Dengan begitu, resmilah Ezza menjalani hukuman kurungan selama empat bulan. Hingga dua bulan lagi ia bisa menghirup udara bebas.


Apapun hasilnya Ezza masih bersyukur karena masa tahanannya sudah jauh lebih berkurang dari tuntutan sebelumnya.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


.


.

__ADS_1


...Semoga suka dengan part ini kak🙏...


__ADS_2