Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
AKU HARUS PERGI


__ADS_3

Happy reading all😘


.


"Mas Ezza kenapa ya, kok belum kembali?" ucap Candy khawatir.


Perasaan tidak nyaman, sejenak menghinggapi benak Candy. Rasa khawatirnya semakin bertambah tatkala Ezza yang tak kunjung kembali.


Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat suaminya masuk ke dalam kamar. Kini ia bisa bernafas sedikit lega.


"Mas ...."


"Eh, iya sayang."


"Siapa tadi? Kenapa tidak diajak masuk?" tanya Candy hati-hati.


Ezza terdiam dan masih menampilkan senyum palsunya. Ia pun berjalan perlahan mendekati brankar Candy dan sedang menyusun kalimat agar istrinya itu tidak curiga.


"Kayla sudah tidur ya? Aku pindahin ke box bayi, boleh?"


"Boleh, Mas, makasih."


Ezza sangat berhati-hati ketika memindahkan Baby Kayla. Bahkan ia terlihat nyaman saat menggendongnya. Dari kejauhan Candy tersenyum ketika melihat Ezza berhasil membawa dan menidurkan Baby Kayla ke dalam box bayi tanpa membuat bayinya menangis.


"Hm, alhamdulillah, Mas Ezza sudah berubah."


Seketika ia teringat dimana Daffin lahir. Saat itu mereka sama-sama menjadi orangtua baru. Jadi sedikit kesalahan saja, bisa membuat mereka panik. Candy dan Ezza masih belajar dalam merawat bayi. Tetapi saat itu banyak sekali kenangan manis yang timbul.


Ezza yang melihat istrinya senyam-senyum sendiri menjadi bingung. Ia pun kembali mendekati brankar Candy.


"Ada apa, sayang, kok kamu sedari tadi Mas lihat sering senyum? Apa ada yang salah denganku?"


"Enggak kok, Mas. Hanya saja aku teringat kenangan dimana awal-awal kita menjadi orang tua baru untuk Daffin.


"Oh, ya sudah kalau begitu."


Kini Ezza sudah kembali duduk dan berhadapan dengan istrinya. Kedua mata mereka saling beradu. Entah kenapa, suara Ezza tercekat hanya sekedar untuk mengucap kata perpisahan. Hingga membuatnya harus membuang nafas berkali-kali. Ia sama sekali tak berani mengatakan kalau ia harus segera pergi. Tetapi sorot mata Candy sudah meng-intimidasi-nya sedari tadi.


"Mas, kenapa? Apa Mas harus pergi saat ini?"

__ADS_1


Kini Candy sudah memegang erat tangan Ezza. Meski takut, ia mencoba tegar dan menguatkan batin sang suami.


"Dek, maafin aku, ya. Sepertinya aku harus bersiap-siap untuk kembali ke dalam RUTAN."


Bibir Candy terasa 'kelu' untuk berucap. Ia tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Bahkan kini sudut matanya sudah berembun.


Sesak di hatinya membuatnya kehilangan semangat hidup. Lututnya terasa lemas, pikirannya sudah kacau balau. Hati yang sudah ia tata sedari tadi, seketika luruh hanya dengan menatap mata Ezza.


Ezza yang menyadari hal itu segera merengkuh tubuh Candy dan memeluknya dengan erat. Kedua sepasang suami istri itu saling tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak ada suara yang terdengar. Hanya keheningan dan detak jarum jam mengiringi suasana sendu pagi itu.


Mereka mencoba saling menguatkan satu sama lain. Tetapi yang namanya wanita, apalagi jika sudah menyangkut masalah hati, pasti itu akan susah di sembuhkan.


Akhirnya tangis yang ia pendam kini meluaplah sudah. Kaos putih yang Ezza kenakan kini sudah basah akibat air mata Candy. Ezza bisa merasakan kepedihan yang dirasakan istrinya saat itu. Tetapi apa daya, ia juga manusia biasa.


Sebagai warga negara yang taat hukum, Ezza juga harus tunduk pada hukum yang berlaku. Kini Ezza masih mengusap lembut punggung istrinya itu.


Hingga beberapa saat kemudian, Candy melepas pelukan Ezza. Kini ia sudah merasa agak baikan. Ia tak mau membebani pikiran suaminya. Dihapusnya air matanya itu lalu ia pun mencoba tersenyum.


"Makasih ya, Mas. Terima kasih karena sudah memenuhi janji untuk menemaniku saat melahirkan Kayla."


"Iya sayang, tapi --


"Aku ikhlas, Mas. Lagi pula sebentar lagi, Mas akan pulang 'kan?"


Ezza tersenyum dan mengangguk. Ia tak menyangka jika Candy begitu tegar.


"Terimakasih sayang."


Ezza pun mengecup bibir Candy lalu mengecup keningnya. Candy memejamkan matanya untuk sesaat, lalu ia pun segera melepas pelukan suaminya itu.


Setelah drama mengharukan tadi, Candy segera mengusap air matanya. Ia pun perlahan turun dari brankar. Ezza yang melihatnya, segera berlari untuk menangkap tubuh Candy yang hampir terjatuh.


"Kamu mau ngapain, sayang?"


"Mau bantuin, Mas untuk bersiap-siap."


"Mas kesini gak bawa apa-apa, lalu kenapa kamu repot-repot begini."


Ezza segera menggendong Candy dan membantunya berbaring di atas brankar. Tak lama kemudian, pintu ruang inap Candy diketuk untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Mungkinkah itu polisi yang menjemputku," batin Ezza.


"Dek, aku pamit ya."


"Iya, Mas, terima kasih, ya."


Entah kenapa tangan Candy tak mau melepas kepergian Ezza, buktinya ia malah semakin mengeratkan genggamannya. Belum lagi tatapan mata Candy tak pernah lepas memandang wajah Ezza.


"Sayang, sebentar lagi aku akan kembali, doakan Mas baik-baik saja ya."


"Aku pamit."


Kali ini, Ezza benar-benar sudah pergi dari hadapan Candy. Bahkan bayangannya pun sudah tak terlihat.


Untuk yang kedua kalinya Candy menangis. Entah kenapa saat ini ia juga merindukan kehadiran kedua orangtuanya. Tetapi ia juga belum memberi kabar pada mereka karena takut suatu saat mereka menanyakan keberadaan Ezza.


Kini ia pun sedang menyusun beberapa kata yang akan ia katakan pada kedua orangtuanya. Hal ini memang sebelumnya sudah ia bicarakan pada ayah mertuanya. Selama Ezza di penjara kedua orangtua Candy tidak mengetahui hal ini.


Semua memang merahasiakan hal ini karena mengingat kesehatan Ayah Candy yang sudah sakit keras. Takutnya jika mengetahui kebenaran ini, kondisi kesehatan Ayah Candy bisa menurun drastis bahkan berujung kematian.


...🍃...


Sementara itu, Tuan Hadi sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Ia juga membawakan makanan untuk menantu kesayangannya itu. Tetapi ia lupa kalau hari ini ia harus berpisah dengan Ezza yang harus kembali ke penjara.


Hari itu ia diantar sopir. Hingga beberapa saat kemudian, mobil yang ia kendarai sudah sampai di Rumah Sakit. Kebetulan mobil polisi yang akan membawa putranya masih berada di halaman Rumah Sakit tersebut.


Tuan Hadi begitu kaget melihat putranya sudah dikawal oleh dua orang polisi berseragam lengkap. Kalau sampai hal ini diketahui media massa, bisa jadi mempengaruhi stabilitas perusahaan miliknya. Oleh karena itu, ia pun segera menelpon pengacara agar membereskan masalah ini dan menutup mulut media massa dengan segera.


Setelah membereskan masalah kecil ini, ia pun segera turun dari mobil dan menghampiri putranya. Di belakangnya sudah ada salah seorang asisten yang setia mendampingi kemanapun Tuan Hadi pergi dan juga seorang pengawal pribadi.


Sedangkan di sisi lain, Ezza menghentikan langkahnya untuk sesaat. Ia pun menoleh ke arah Rumah Sakit, lebih tepatnya memandang kamar Candy yang kelihatan dari bawah.


Lalu apakah Ezza akan benar-benar pergi atau malah kembali ke ruang rawat Candy? Simak di update selanjutnya ya. Terima kasih.


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


...Jangan lupa Like, komen, share dan favorit ya. Terimakasih lagi jika diberi🌹☕ ataupun koin dan Vote, terimakasih all🙏😘...


__ADS_2