Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
BERBAGI RASA


__ADS_3

"Ini tentang kita."


"Tentang perasaan kita bersama dan untuk selamanya."


"Aku mencintaimu, Mas."


"Sama, aku pun begitu."


"Dan aku pun berjanji tak akan pernah meninggalkanmu lagi kecuali nanti kita dipisahkan oleh sebuah kematian."


Malam itu, kedua suami istri itu saling mendekap satu sama lain, saling menukar kehangatan menghalau semua rintangan yang pernah mereka alami selama ini.


Tidak ada sebuah perjalanan hidup yang selalu mulus. Pasti ada kerikil kecil dalam setiap langkah kita. Tapi selama kesabaran dan keyakinan selalu bersama kita, yakinlah jalan terbaik itu pasti ada dan akan menyelamatkan kita.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Rumah Sakit Ibu dan Anak...


Mata yang sudah tertutup selama hampir dua minggu ini kini telah terbuka. Sorot matanya menatap tajam ke arah langit-langit.


Di mana anaknya yang baru saja lahir kini sedang menunggunya. Ya, mata itu adalah milik Delima. Hari ini detik ini juga ia akhirnya siuman dari komanya. Luka-luka ditubuhnya juga sudah cukup mengering dan sembuh.


Anak lelaki itu turun dan mulai mendekati ibunya. Dipeluknya tubuh ibunya yang sudah sadar itu.


"Anakku kamu kok uda besar, ganteng banget kaya Papa Ezza."


Anak kecil itu tersenyum senang, tapi ia belum bisa berbicara layaknya manusia karena ia memang bukan manusia. Ia hanya membalas semua ucapan ibunya dengan sebuah senyuman.


Lalu dari arah pintu terlihat seorang dokter muda yang masuk ke ruangan itu beserta salah seorang suster.


"Dokter, pasien sudah siuman," ucap suster.


Dokter mengangguk.

__ADS_1


"Selamat malam, bagaimana keadaan Ibu saat ini?"


"Saya baik-baik saja dok, seperti yang Anda lihat saat ini."


"Boleh saya memeriksa Ibu?"


Tanpa sengaja kaki dokter menginjak kaki anak Delima. Hingga membuatnya mengaum seketika dan hendak mencakar wajah dokter.


"Eh, nggak boleh gitu, sayang, biar Pak Dokter periksa Mama dulu ya," ucapnya pada anak lelakinya itu.


Ucapan Delima yang seolah biasa membuat bulu kuduk suster meremang. Tetapi tidak dengan dokter itu. Karena lebih tepatnya ia sedikit memiliki ilmu kebatinan.


Sejak ia masuk ke kamar Delima tadi ia memang sempat merasakan keberadaan makhluk astral, tapi ia tak menyangka jika makhluk itu berhubungan dengan pasien di depannya itu.


"Loh, kok bengong, Dok. Jadi periksa saya nggak?"


"Oh, iya, ja-jadi maaf."


Lalu dokter dibantu suster mengecek tekanan darah Delima dan juga denyut nadinya. Sehingga tak lama kemudian mereka sudah selesai melakukan pemeriksaan.


"Itu bekas apa ya, Dok?" tanya Delima heran kenapa perutnya sampai dijahit.


Suster itu menatap Dokter untuk meminta ijin mengatakan kebenaran tentang kecelakaan yang menimpa pasien di depannya ini.


"Maaf, sebelumnya saya mau tanya sesuatu untuk melengkapi berkas pemeriksaan.


"Iya, silakan Dokter."


"Siapa nama Ibu?"


"Delima."


"Nama suami Ibu?"


"Rean Ezza Hadi Wijaya."


"Ha-ah," ucap dokter itu terkejut.

__ADS_1


Bagaimana mungkin seorang CEO hebat seperti Ezza memiliki istri seperti ini. Dan kenapa ia malah diketemukan di dalam hutan dengan mayat seorang lelaki, tapi bukan Ezza. Karena beberapa hari yang lalu ia bahkan sempat bertemu dengannya saat mengambil jenazah ibunya.


Saat itu pula, Ezza menggandeng mesra seorang wanita yang ia duga adalah istri sah Ezza. Melihat kedua kalinya sang dokter melamun, membuat Delima sedikit gemas.


"Hallo ... Dokter sehat, 'kan? Kok dari tadi melamun terus?"


"Oh, sorry."


"Trus pertanyaan saya kapan dijawabnya?"


"Pertanyaan yang mana ya?" ucap dokter pura-pura lupa.


"Wkwkwk, dokter mau ngelawak ya. Ya, pertanyaan saya kenapa ada bekas luka di perut mulus saya?"


"Oh, itu, jadi begini ceritanya."


"Sebelum ini, pihak kepolisian menemukan keberadaan ibu sedang pingsan di dekat sebuah gubuk yang sudah habis terbakar. Bahkan salah seorang mayat laki-laki juga diketemukan bersamaan dengan tubuh ibu."


"Maka dari itu, pihak kepolisian mempercayakan keselamatan ibu dan calon bayi ibu kepada pihak Rumah Sakit."


"Tu-tunggu, saya diketemukan di sebuah gubuk? Gubuk apa-an?"


"Waduh, kalau lebih jelasnya saya kurang paham, tapi yang pasti, itu ada di pertengahan hutan. Dan sangat jauh dari pemukiman penduduk. Kebetulan kobaran asap dari kebakaran gubuk tersebut berhasil di lacak oleh warga kampung, jadi ibu bisa selamat," terang dokter.


"Terus? dimana anak saya? Bukankah itu anak saya!" ucap Delima sambil menunjuk pada sebuah sofa kosong di sudut kamar.


Sontak saja dokter dan suster menoleh ke arah yang sama. Tapi nihil, di sana sama sekali tak ada siapa pun.


"Maaf, Bu. Saat operasi caesar kemarin, anak Ibu tidak terselamatkan, jadi sekarang ibu tinggal sendiri."


"Ha-ah!"


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2