
Kebaikan kita meski sedikit pasti akan menyelamatkan kita di waktu yang tepat, begitu pula dengan Delima. Entah kebaikan apa dan yang mana hingga membuat ia selamat dari kobaran api di gubuk Ki Parto.
Gubuk Ki Parto dilalap jago merah, begitu pula dengan tubuh Ki Parto yang ikut terbakar di dalamnya. Bukannya ia tak mau keluar tetapi dinding api itu tak mampu ia tembus, bahkan suara teriakan darinya sama sekali tak bisa terdengar sampai di luar. Hingga para warga hanya bisa menemukan mereka saat bangunan itu sudah tak berbentuk lagi dan menjadi abu.
Keesokan harinya para warga menemukan tubuh Delima tergeletak tak jauh dari tempat itu. Sedangkan jasat Ki Parto ditemukan bersama sisa-sisa abu rumahnya yang terbakar itu.
Warga tak berani mendekat ataupun menolong mereka. Karena saat ini mereka hanya bisa menghubungi pihak kepolisian dan Rumah Sakit
"Innalillahi, sepertinya dia kena azab!"
"Lihat bahkan rumahnya tak bersisa!" seru yang lainnya itu.
Sebagian para warga mengusap dadanya karena tak menyangka tempat yang begitu mereka takuti kini berubah menjadi puing-puing bangunan, kematian pemiliknya bahkan sangat tragis dan sangat mengenaskan. Di tengah lamunan mereka, ada beberapa warga yang menemukan korban lain yang tak jauh dari tempat itu.
"Hei, lihat di sini ada seorang wanita!" teriak yang lainnya.
Lalu salah seorang diantaranya melihat apakah ia masih bernafas atau tidak.
"Alhamdulilah masih bernafas, ayo kita bawa ke Rumah Sakit!"
"Tapi, Rumah Sakitnya di kota, bagaimana ini?"
__ADS_1
"Kita minta tolong pihak kepolisian saja, bagaimana?"
Hampir semuanya mengangguk, lalu salah satu warga segera memanggil kepolisan terdekat dan membawa Delima dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Sementara itu salah satu murid Ki Parto yang masih hidup yang sedari tadi bersembunyi kini berlari ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri.
"Semoga Ki Parto memaafkan aku," batin pemuda itu sambil berlari.
Satu jam kemudian, sebuah mobil polisi datang bersama dua ambulance. Satu ambulance untuk Delima dan satu lagi ambulance jenazah.
"Dimana mereka?" tanya salah seorang polisi.
Salah satu warga menunjukkan dimana kedua jenasah dan satu warga yang masih hidup itu memberikan keterangan pada beberapa polisi yang ikut datang.
Tubuh mereka segera diangkat para tenaga medis lalu dimasukkan ke dalam masing-masing ambulance.
Lalu satu mobil polisi dan dua ambulance tadi segera meninggalkan lokasi untuk menuju ke Rumah Sakit. Satu jam kemudian mereka telah sampai di Rumah Sakit.
Delima segera dilarikan ke dalam ruang operasi, sedangkan jenazah Ki Parto langsung masuk ke ruangan otopsi. Tubuh Delima langsung diberi infus lalu diperiksa kandungannya. Salah satu dokter yang memeriksa menggeleng perlahan.
"Innalillahi, bayinya sudah meninggal. Ibunya belum siuman, bagaimana kalau kita langsung lakukan oporasi?" tanya Ketua Dokter yang nenangani Delima.
Salah satu dokter mengusulkan agar meminta ijin pada pihak kepolisian agar bisa dilakukan tindakan secepatnya. Mereka takut kondisi Delima tidak akan tertolong kalau mereka terlambat melakukan operasi. Lima belas menit kemudian, salah satu dokter tadi sudah mengantongi ijin dari kepolisan. Maka detik itu pula diadakan operasi untuk menyelamatkan Delima.
__ADS_1
Dengan kondisi Delima yang masih belum sadar tindakan yang bisa dilakukan hanyalah operasi caesar. Apalagi usia kandungan sudah tua, jadi hanya ada dua cara yang bisa di tempuh yaitu melahirkan normal dengan catatan kondisi ibu sadar, dan operasi caesar karena ibu pingsan.
Satu setengah jam kemudian, operasi berhasil dilakukan. Seluruh tenaga medis bersyukur karena proses operasi caesar berhasil. Tetapi mereka ketakutan karena kondisi bayi yang lahir tersebut bukan seperti bayi normal melainkan seperti setan atau lebih tepatnya iblis. Kuku-kuku yang panjang, kepala tanpa rambut, gigi taring yang sangat penjang dan jenggot berwarna putih yang sudah tumbuh di dagu bayi itu.
"Astaghfirullah, bayi apa ini?" seru dokter yang membantu persalinan Delima.
"Innalillahi wa innalillahi roji'un," seru yang lain.
Tak mau mengambil resiko, mereka segera mengkafani jenazah bayi tersebut. Mereka yang memegang bayi itu sudah sangat ketakutan. Tentu saja ia takut kalau bayi jadi-jadian itu membuka mata dan menyerang mereka.
Lalu bayi tersebut langsung diserahkan pada pihak kepolisian untuk diurus surat pemakamannya. Siapapun yang melihat atau memegang bayi itu mulutnya selalu komat-kamit untuk membaca doa. Meski sebenarnya takut, tetapi mereka harus profesional dalam menjalankan tugasnya.
Hanya saja di dalam hati mereka masih ada ketakutan yang luar biasa. Hingga beberapa saat kemudian saat bayi iblis itu hendak di masukkan ke dalam peti, matanya terbuka dan suster itu berteriak.
"Aaaaaa ...." teriak salah satu suster yang menggendong bayi tersebut, tapi kini bayi itu terlempar ke udara.
"Setannnn ...."
Suster itu lari tunggang langgang karena terlalu takut. Karena hal itu, seketika salah satu lorong di Rumah Sakit tersebut menjadi gaduh. Mereka yang siap menemani bayi tersebut sampai ke pemakaman sampai berlarian keluar ruangan karena saking takutnya.
Sementara bayi iblis tadi kembali hidup dan mencoba mencari keberadaan ibunya yang masih pingsan di Recovery Room. Bagaimanapun bayi yang baru lahir tentu akan merasa lapar. Maka ia pun juga membutuhkan ASI untuknya.
__ADS_1
Sayangnya siapa saja yang melihat bayi itu akan ketakutan setengah mati. Sedangkan tubuh Delima masih belum sadar karena pengaruh obat bius. Bayi iblis itu menunggu ibunya sampai sadar diatas langit-langit.
Karena suasana Rumah Sakit sudah tak terkendali, satu lantai ruangan ibu dan anak itu kini di sterilkan dari umum.