Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH

Berbagi Cinta: CEO-KU YANG BODOH
KEJUJURAN EZZA


__ADS_3

...Jangan pernah menilai seseorang dari kulit luarnya karena kebaikan hati seseorang itu bukan dinilai dari kulitnya melainkan dari hatinya....


...⚜⚜⚜...


Ezza yang melihat Candy masih terdiam dibibir tangga segera menghampirinya. Ia amat takut jika pecahan cangkir itu sampai melukai kulitnya.


"Bik, Bik Imah," panggil Ezza.


"Ya, Tuan," ucapnya sambil lari tergopoh-gopoh.


"Bersihkan pecahan cangkir ini, segera!"


"Baik, Tuan."


Setelah itu, Ezza menggenggam tangan Candy dan menariknya dalam pelukan Ezza.


"Kamu nggak kenapa-napa, 'kan?"


"Enggak, Mas. Aku baik-baik saja."


"Ya sudah, kamu istirahat kalau capek."


"Makan malam sudah siap."


"Ya, sudah ayo kita makan malam dulu."


Tanpa Candy minta, Ezza sengaja menggendong Candy menuruni anak tangga. Melihat perlakuan Ezza terhadap Candy semakin manis, semakin membuat keinginan untuk menyingkirkan Candy semakin besar.


Sementara itu, makan malam segera dimulai. Semuanya tampak hening tanpa ada percakapan yang berarti. Hingga akhirnya Tuan Hadi bertanya tentang perkembangan kuliah Candy.


"Oh, ya. Candy bagaimana kabar kuliahmu?"


"Alhamdulillah sampai hari ini lancar, Pa."


"Papa dengar dari dosen kamu, kamu termasuk murid yang teladan loh."


Candy hanya tersenyum.


"Ehem."


Tuan Hadi menoleh, "Apa ada yang ingin kamu katakan Ezza?"


"Begini Pa, sebenarnya keinginan kami untuk memiliki momongan memang sengaja kami tunda karena tidak ingin mengganggu kuliah Candy."


"Iya, bagus, terus?"


"Tapi Mama mendesakku untuk segera memiliki momongan."

__ADS_1


"Itu sangat bagus menurut Papa."


"Aku juga pernah menanyakan hal itu pada dosen Candy, jika di tengah semester Candy hamil bolehkah ia tetap kuliah atau harus menunda kehamilannya?"


"Trus dosennya bilang apa, Pa?"


"Tidak ada larangan untuk mahasiswa yang hamil di mata kuliah design."


"Jadi, kalian tak perlu menunda untuk memiliki momongan, bukan begitu, Ma?"


"Uhuk!"


Nyonya Hadi menjadi tersedak akibat pertanyaan mendadak dari suaminya. Ezza menyodorkan satu gelas air putih pada mamanya.


"Kamu setuju, 'kan, Ma?" tanya Tuan Hadi sekali lagi sambil memperhatikan gelagat istrinya itu


Nyonya Hadi mengangguk.


.


.


Akhirnya malam itu Candy dan Ezza bergegas ke kamar. Ingin rasanya Ezza mengajak Candy jalan-jalan keluar. Tapi ternyata Candy langsung menutup tubuhnya dan memalingkan badannya dari hadapan suaminya.


Ia bingung dengan keadaan ini. Tapi Candy wanita biasa yang terkadang mempunyai perasaan yang rapuh. Ezza pun bingung dengan perasaannya, bolehkah ia melakukannya malam ini.


Ezza mulai menyentuh selimut yang menutupi tubuh Candy. Bergetar, ya tangannya bergetar hebat. Seperti seorang maling yang sedang melancarkan aksinya. Candy pun merasakan hal yang sama.


Beruntung kamar mereka sudah dipasang peredam suara, jadi teriakan mereka tak terdengar di kamar lain. Lalu keduanya saling menatap satu sama lain.


"Kenapa kau berteriak?"


"Kau juga!"


"A-aku takut!"


"Takut apa?"


"Takut jika kau menerkamku!" ucap Candy ketakutan sambil memeluk selimutnya.


Ezza terkekeh akibat ulah Candy barusan, hingga akhirnya ia pun memegang perutnya yang tiba-tiba kaku akibat terlalu banyak tertawa.


"Kalau iya, memangnya kenapa?"


"Huaaaa ... kamu udah janji nggak bakal sentuh aku, sebelum .... " ucap Candy ketakutan.


"Tapi aku benar-benar sudah mencintai kamu Candy."

__ADS_1


Ezza beranjak dari ranjang lalu berjalan ke sudut ruangan, ditariknya sebuah map dari dalam sana. Sebuah map yang amat spesial dan terlarang untuk diambil.


Tapi Ezza membawanya ke hadapan Candy dan menyobeknya.


"Tidak ada lagi perjanjian lagi diantara kita, karena mulai saat ini dan seterusnya kamu miliku seorang Candy Salsabila."


Mulut Candy menganga tak percaya. Seakan saat ini ia seperti terkena siraman air yang sangat menyejukan di tengah gurun sahara. Di saat ia hampir putus asa, ternyata Allah menunjukkan jalannya. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan alhamdulillah.


"Jadi, apa kamu juga mencintaiku?" ucap Ezza ketakutan.


Karena malu Candy hanya mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut. Tanpa ia duga, Ezza langsung berhambur untuk memeluk Candy. Bahkan ia tak sadar jika membuat istrinya itu sesak nafas.


Candy memukul dada Ezza dengan spontan.


"Bodoh, kamu mau membunuhku!"


"Sorry, sayang, love you my wife."


"Love you too my hubby."


Akhirnya kejujuran dan buah kesabaran Candy berbuah manis. Semanis cinta pertamanya yang bersambut bahagia.


"Kalau begitu, bolehkah aku meminta hakku malam ini?" tanya Ezza malu-malu.


Meski takut dan bergetar Candy yang sudah blusing sejak tadi mengangguk perlahan. Ezza menggandeng tangan istrinya lalu diajaklah ia untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu. Baru nanti setelahnya ia meminta haknya.


Candy menuruti keinginan suaminya itu. Meski sudah terbiasa sholat berjamaah tapi entah kenapa malam ini rasanya lebih khusyuk dan damai. Setelah berjamaah mereka kembali duduk di tepi ranjang. Saling berpandangan satu sama lain. Meski masih takut tapi Ezza memberanikan dirinya. Didekatinya istrinya itu lalu dikecupnya kening Candy. Kemudian ia membacakan sebuah doa didalamnya.


بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."


Dari kening, ciuman itu mulai turun ke hidung lalu semakin turun ke bawah. Kedua benda kenyal itu saling bertemu, mencecap rasa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Saling bertautan, membelit apa yang ada di dalam indera perasa itu untuk beberapa saat.


Karena baru pertama kali tentu saja mereka masih kehabisan nafas. Istirahat sejenak semestinya sudah cukup untuk menetralkan detak jantung mereka yang sudah berdetak terlalu cepat sejak tadi. Belum lagi hawa panas yang tiba-tiba menyerang keduanya semakin membuat pasokan oksigen semakin berkurang saja di ruangan itu.


Karena sudah cukup beristirahat, ada rasa untuk melanjutkan apa yang terjeda tadi. Dibaringkan tubuh Candy dengan penuh cinta. Lalu Ezza memulai lagi mencium benda pink yang lembut dan kenyal itu, Candy pun pasrah jika mahkota yang ia jaga selama ini akan ia serahkan pada suaminya.


Ia menikmati setiap sentuhan Ezza di setiap inchi tubuhnya. Ada rasa geli dan hawa panas yang menyerang Candy, begitu pula dengan Ezza yang semakin memperdalam ciumannya.


"Bolehkah aku .... " suara Ezza yang parau terdengar begitu indah di telinga Candy.


Sehingga apa pun ucapan Ezza, Candy hanya bisa menjawabnya dengan anggukan dan re-mas-an di baju Ezza.


.

__ADS_1


.


Apakah di malam itu Ezza dan Candy melakukan hubungan suami istri? Tulis di komen ya. Makasih


__ADS_2