
Bip.
Ponsel Yoga bergetar menerima pesan masuk. Yoga melirik kearah layar ponselnya, ada pesan whatsapp dari Zayyan disana.
“ Bro, bagaimana keadaan Dionne?.” Tanya Zayyan di pesan tersebut.
“ Sudah baikan, dia lagi tidur sekarang.” Jawab Yoga.
Tidak lama pesan itu masuk kembali.
“ Gue kirim Edhi, ajudan judes nya Dionne pasti perlu teman untuk mengobrol kan.” Isi pesan wa dari Zayyan lagi.
“ Oke, Thanks brother.” Balas Yoga.
Tok..tok..tok...
Yoga melirik ke arah pintu yang di ketuk itu. Tidak lama Dita masuk sambil membawa satu koper kecil berisi segala macam keperluan Dionne.
“ Letakkan disana, nanti aku yang rapikan. Kamu kembali pulang saja.” Ucap Yoga.
Dita melihat tangan Yoga sedang membelai rambut Dionne.
Mendengar Yoga sepakat akan tinggal kerumahnya, membuat rasa sesak di dada Dionne berangsur-angsur hilang.Dia pun akhirnya bisa tidur dengan nyenyak seperti sekarang.
Tangan tuan Yoga terus-terusan membelai rambut puteri, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Puteri pasti tidak menyukainya. Dita
“ Maaf tuan Yoga, sebaiknya tuan saja yang pulang. Karena saya hanya membawa keperluan puteri Dionne. Biarkan saya saja yang menemani puteri disini.” Ucap Dita pelan takut membangunkan Dionne.
“ Saya sudah meminta asisten mengantar barang-barang keperluan saya. Kamu dengar Dita, kamu pulang saja. Jika tidak mau pulang kamu bisa menginap di kamar singgah VIP. Tidak jauh dari sini kok, Edhi akan mengantar mu kesana.”
“ Saya tidak akan meninggalkan puteri, biarkan saya menemani di kamar ini juga tuan. Kamar ini kan sangat luas.”
Zayyan benar, Dita perlu tandingan. Dimana Edhi, kenapa dia belum datang. Yoga
Yoga tidak merespon lagi, hati nya masih menggerutu dengan sikap Dita yang ngeyel tidak mau meninggalkan Dionne bersama dengan Yoga.
Dita membuka koper yang tadi di bawa nya, lalu merapikan beberapa lembar pakaian ganti dan skin care milik Dionne dengan rapi di dalam lemari yang disediakan.
“ Aku lapar, kamu bisa kan membelikanku makanan?.” Tanya Yoga ke Dita, tangannya sudah tidak membelai rambut Dionne lagi, isterinya itu sudah sangat lelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Puteri Dionne benaran tidur atau diberikan obat tidur ya, kalau nanti aku keluar beli makanan untuk tuan Yoga kemudian dia melakukan hal-hal yang menjijikan itu bagaimana. Dita
“ Dita, kenapa diam saja?. ” Tanya Yoga lagi.
“ Maaf tuan, di kamar ini kan ada fasilitas free makan untuk keluarga pasien. Biar aku hubungi customer service nya ya.” Jawab Dionne memberitahu Yoga.
“ Rumah sakit ini milikku, tentu aku tahu semua fasilitas yang ada di sini. Makanan yang aku mau tidak ada di sini, aku ingin pecel ayam mbok Susi di ujung jalan prapatan lampu merah melati. Kamu tahu kan prapatan itu?.”
Dita terdiam sejenak, lalu mengeluarkan ponsel miliknya.
“ Tuan, ternyata pecel ayam itu ada di aplikasi online. Biarkan aku pesan ya tuan.”
Perjalanan ke warung makan itu memerlukan waktu kurang lebih 30 menit lamanya, huh! kamu pasti mau mengerjai ku tuan. Jika aku yang jalan sendiri kesana bisa satu jam lebih baru bisa balik lagi kesini. Dita
“ Aku mau sekalian minta tolong kamu antarkan sesuatu ke toserba kakek Basuki. Toko itu tepat ada di belakang tenda pecel ayamnya mbok susi. Hmmm, kemarin aku berhutang padanya. Titip ini sekalian.” Yoga menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Yang dia sendiri tidak tahu jumlah nya berapa. Hanya sembarangan mengambil agar si ajudan ngeyel itu lekas pergi.
Tuan Yoga sedang memainkan taktik lagi, aku tidak boleh masuk dalam perangkapnya. Dia begitu ingin aku pergi dari kamar ini, pasti ingin melakukan sesuatu kepada puteri. Tidak akan aku biarkan!. Dita
Tok...tok..tok
Belum sempat Dita merespon lagi pintu kamar kembali diketuk oleh seseorang.
Edhi segera masuk kedalam kamar, melihat gerakan mata Yoga Edhi langsung paham dengan apa yang harus dia lakukan.
“ Kebetulan sekali ada Edhi, kalian bisa pergi bersama sekarang.” Ucap Yoga.
“ Baik tuan.” Edhi pun langsung membuka pintu dan meminta Dita ikut bersama nya.
“ Tidak bisa, kebetulan ada Edhi, jadi biarkan saja Edhi yang ke warung makan dan toserba itu. Aku di sini saja menjaga puteri.” Ucap Dita, tetap bertahan di posisinya.
“ Tuan Yoga adalah suami nona Dionne, kita hanyalah ajudan yang harus menurut apa yang di minta majikan. Apa kamu tidak punya kode etik dalam bekerja?!.” Tanya Edhi seperti menampar harga diri Dita.
“ Tapi...” Dita masih berusaha mengelak. Namun tangan Edhi sudah menariknya dan berhasil memaksanya keluar kamar.
Memang dapat diandalkan Edhi, hahaha. Thanks Zayyan, Edhi mu sungguh membuatku happy saat ini. Yoga
Di luar kamar Edhi masih menggenggam tangan Dita dengan erat nya.
“ Hai...kamu ini bukannya pengawal tuan Zayyan?!. Kenapa jadi ikut campur masalah rumah tangga puteri Dionne dan tuan Yoga?!” Tanya Dita kesal.
__ADS_1
“ Siapa yang ikut campur urusan rumah tangga mereka?, aku hanya menjalankan perintah.“ Jawab Edhi.
“ Kalau begitu kamu saja yang pergi kesana, aku akan kembali menemani puteri Dionne. Aku harus tetap menjaganya dengan baik!.”
“ Tuan Yoga mengirim pesan, jika kamu ngeyel. Dia akan mengaduhkanmu ke raja Sebastian.” Ucap Edhi dan Dita langsung diam seketika.
Jika benar di adukan, maka puteri juga yang akan kena masalah. Mereka ini benar-benar menyebalkan. Dionne
“ Yasudah, ayo kalau begitu kita pergi sekarang. Biar cepat kembali lagi!.” Ajak Dionne
“ Kita akan kemana?.” Tanya Edhi. Tangannya masih menggenggam tangan Dita dengan erat.
“ Hahaha kamu tidak tahu kita di perintahkan kemana?. Katanya tadi hanya mau menjalankan perintah.” Ledek Dita.
“ Ya, tadi perintah untukku adalah mengantarmu pergi. Apakah kamu tuli?!.”
“ Siapa yang tuli?!. Aku ini lulusan militer wanita terbaik. Kamu sudah menghinaku, sama saja menghina negaraku!.”
“ Kenapa jadi bawa-bawa negara?. Lebay banget.”
“ Lepaskan aku!!!” Teriak Dita kesal.
“ Katanya lulusan militer wanita terbaik di negaramu, masa melepaskan genggaman pelan kaya ini saja tidak bisa.”
Edhi dan Dita saling beradu mata kini, Dita melakukan gerakan sentakan kearah jari jempol Edhi. Dengan cara seperti ini biasanya lawannya sudah berhasil melepas genggaman tangannya. Namun Edhi masih tidak bergerak sedikitpun.
Berbagai cara lain juga sudah di coba Dita namun tangan Edhi masih erat menggenggam tangan Dita.
“ Kamu meremehkan ku sekali Edhi, rasakan ini.!” Dita melakukan serang dadakan ke arah ular kadut Edhi, ini adalah tekhnik yang sudah si ajarkannya ke Dionne ketika menghadapi Yoga. Namun ternyata tidak mempan di Edhi. Ajudan macho itu berhasil mundur sedikit dan menahan tendangan Dita dengan satu tangan kirinya.
Dita hampir saja terjatuh, namun Edhi menahannya dengan menarik ke atas tangan Dita yang sedang di genggamnya. Namun, itu malah membuat tangan Dita lebih terasa sakit.
Pria ini sangat menyebalkan, ini pertama kalinya aku tidak bisa lepas dari genggaman tangan lawanku. Tapi di luar itu, kemampuan bela dirinya sangat mengagumkan sekali. Dita
******************************************
Sampai bab 11 bagaimana menurut kalian? Apakah alur cerita seperti ini membosankan, atau kita langsung masuk ke pokok masalahnya saja? 😁
Jangan lupa berbagi kebaikan dengan memberikan Like, Comment dan Vote nya ya 🙏🏻🥰🙏🏻
__ADS_1
Gratis kok hehehe 😘