
Langit yang cerah tiba-tiba menggelap, dengan hembusan angin yang kencang dan dentuman suara petir yang menyambar. Suasana yang sama dengan perasaan di hati Yoga saat ini.
“Sayang...” Samar-samar Yoga mendengar suara Dionne memanggilnya pelan.
Yoga yang sedang tertidur pulas pun langsung membuka kedua matanya secara perlahan. Lalu terlihat sosok wanita yang sangat dicintainya itu sedang tersenyum sambil membawakannya segelas susu segar.
“Kamu mengigau lagi ya. Dari tadi terlihat gelisah sekali, lihat tuh matamu juga membengkak, malu ih. Cowok kok cengeng.” Ucap Dionne.
“Sayang...benar ini kamu?” Tanya Yoga penasaran.
“Memang nya siapa? Kamu lagi mimpiin wanita lain ya? Cih! Dasar Yosum!” Jawab Dionne lalu meninggalkan Yoga begitu saja. Dia meletakkan gelas berisi susu tersebut kesamping meja kecil yang berada persis disebelah ranjang mereka.
“Ya tidak lah sayang, dalam dunia mimpiku pun tetap kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan. Tidak ada yang lain lagi.” Yoga mengejar Dionne.
Yoga memeluk tubuh Dionne dengan erat dari belakang.
“Aku tadi mimpi buruk, kata mereka mobil kamu terjatuh dari jembatan yang tinggi kelautan. Kamu tahu sayang, duniaku terasa hancur seketika ketika mendengar kabar tersebut. Kami semua mencari mu.” Ucap Yoga dengan linangan air mata yang kembali mengalir di kedua pipinya.
“Kenapa kamu jadi secengeng ini sih sayang? Bukannya kamu sudah berjanji kepadaku. Ada atau tidak adanya aku kamu harus kuat. Kamu harus pegang janjimu waktu itu, aku tidak suka Yoga yang lemah, aku ingin suamiku ini memiliki kekuatan yang teguh dan tidak mampu tergoyahkan dari berbagai macam aral rintangan yang datang menghadang.” Dionne membalikkan badannya, lalu memegang kedua pipi Yoga.
“Yang mereka inginkan adalah kehancuranmu, tangisanmu dan juga nyawamu. Biarkan mereka sekuat tenaga menyerangmu dari berbagai sisi tersebut. Tapi, kamu harus tetap kuat, jangan biarkan mereka tertawa dan bahagia dengan melihat air mata mu ini. Haiii Yosum ku, bukanlah pria cengeng seperti ini.” Ucap Dionne lagi sambil menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Yoga.
“Iya sayang, tapi kamu juga harus janji. Jangan pernah meninggalkanku.“ Pinta Yoga.
“Aku tidak pernah meninggalkan mu sayang, aku selalu ada disini.” Ucap Dionne sambil menunjuk dada nya Yoga.
Jantung Yoga langsung berdetak sangat kencang ketika mendengar ucapan manis isterinya itu.
“Katakan padaku, ini bukanlah mimpi. Katakan padaku sayang, kamu masih hidup kan? Kamu baik-baik saja kan?” Yoga kembali memeluk Dionne.
__ADS_1
“Aku masih hidup sayang, bahkan aku sudah melahirkan Yodi kita dengan selamat.” Ucap Dionne lagi-lagi membuat Yoga terkejut.
“Melahirkan? Kapan kamu melahirkan?” Tanya Yoga tidak percaya sambil melihat perut Dionne yang ternyata memang sudah mengempes.
“Hahaha, kamu yang tidur terlalu lama jadi tidak tahu kalau aku sudah melahirkan anakmu. Lihat itu...ganteng kan?” Jawab Dionne sambil menunjuk kearah sebuah box bayi berwarna biru.
“Itu bayi kita?, benarkah itu Yodi kita?” Tanya Yoga lagi.
Yoga berjalan perlahan mendekati box bayi tersebut. Di atap box tersebut tergantung mainan bayi yang berputar dan mengeluarkan suara yang sangat menenangkan siapapun yang sudah mendengarnya.
“Kami mencintaimu Yoga, kamu harus kuat.” Ucap Dionne sebelum Yoga benar-benar sampai di box bayi tersebut dan melihat bayinya dengan jelas.
Yoga kembali membalikkan badannya untuk melihat Dionne lagi, namun Dionne yang dicarinya tidak ada disana. Yoga pun langsung membalikkan badannya lagi kearah box bayi tadi, namun box bayi itu juga menghilang. Semua menjadi berwarna putih tanpanada warna lain disana.
“Tidak boleh! Ini bukan mimpi! Dionne!!! Dionne!!! Dimana kamu? Jangan membuatku bingung seperti ini! Kenapa kamu sembunyikan anak kita? Dionne!!!” Panggil Yoga berkali-kali.
Saat itu juga Yoga merasakan sentuhan tangan dari seseorang dan mendegar suara itu dengan lebih jelas lagi.
“Zayyan? Mana Dionne ?” Tanya Yoga ketika dia sadar sosok yang berada didekatnya kini adalah Zayyan dan Nayla.
Zayyan tidak menjawabnya, dia hanya menundukkan kepalanya lalu memberikan segelas air putih untuk Yoga.
“Mana Dionne? Mana Dionne ku? Kenapa kalian semuanya terdiam? Kalian sembunyikan dimana Dionne ku?!” Yoga menyingkirkan gelas tersebut hingga terjatuh keatas lantai.
“Sabar Yoga.” Hanya itu yang mampu diucapkan Zayyan kepada Yoga saat itu.
••
Yoga kembali mengingat saat itu dia bersama dengan yang lainnya langsung berangkat dari Jakarta ke kota Badak. Mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di ujung jalan menuju jembatan yang hancur karena ledakkan bom.
__ADS_1
Yoga sangat berharap informasi yang diberikan kepadanya tentang kecelakaan yang terjadi dan menimpa isterinya di jembatan harapan cuma berita hoax.
“Hahaha, lo tahukan Dionne masih dinegara nya, dia masih di negara B, mana mungkin dia malah ada di kota ini! Jelas-jelas pas berangkat Dionne masih di negara B!” Seru Yoga sambil menatap tingginya jembatan yang berdiri kokoh diatas lautan dapat hancur seperti itu. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana caranya mobil Dionne sampai terjatu dari jembatan itu ke lautan lepas.
Saat itu Zayyan juga hanya terdiam, matanya ikut menelusuri luasnya lautan tersebut.
“Lapor kapte, kami menemukan ini.” Ucap seseorang team penyelam kepada Kapten Reza yang juga sedang berada di antara Zayyan dan Yoga.
Kapten Reza pun lekas mengambil sebuah tas kecil berwarna cokelat yang sebenarnya sangat dikenali oleh Yoga. Namun Yoga masih berharap itu adalah tas milik wanita lain, bukan tas isterinya tercinta.
Ingin mengabaikan namun kedua tangan Yoga malah mengambil paksa tas tersebut dari tangan Kapten Reza. Dengan tangan yang bergetar Yoga membuka isi tas tersebut.
Ada sebuah ponsel yang juga sangat dia kenali, juga sebuah dompet yang sama persis dengan milik Dionne.
Perlahan Yoga membuka isi dompet tersebut, walaupun sudah berada kurang lebih satu jam di lautan Yoga masih dapat melihat sebuah foto pernikahannya dengan Dionne disana.
“Hahaha lihat bro? muka gue jelek banget ya. Muka tertekan saat itu karena terpaksa menikahi seorang gadis yang ditinggal pergi pengantinnya satu hari sebelum pernikahannya. Hahaha.” Yoga terus tertawa hingga membuat Zayyan menariknya kedalan pelukannya.
“Maafkan gue bro! Maaf! Ini semua gara-gara gue. Jika saja gue enggak se egois itu dengan kalian, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Maafkan gue, Yoga!” Zayyan pun menangis dalam pelukan tersebut.
Yoga langsung melepas pelukan Zayyan.
“Bodoh!!! Satu jam lebih kalian disini dan belum bisa menemukan dimana keberadaan isteriku? Kalian ini bisa menyelam atau tidak sebenarnya?!” Teriak Yoga sambil mendorong penyelam dari pihak team sar yang baru saja memberikan tas tersebut kepada kapten Reza.
“Kami masih berusaha mencari keberadaan mobil tersebut dan dua orang wanita yang berada didalamnya.” Ucap penyelam itu.
Dari kejauhan Yoga melihat Edhi yang juga sama hanya dapat terpaku sedih menatap lautan yang luas itu.
“Cih! Kalian benar-benar tidak bisa berkerja dengan baik!” Geram Yoga, diapun langsung meloncat kelaut tersebut.
__ADS_1
^^^Aku akan menemukanmu sayang...aku akan menemukan kalian semua. Yoga ^^^