Berjuta Taktik Merayu Isteri

Berjuta Taktik Merayu Isteri
Terima Kenyataan


__ADS_3

“Ada sebuah alat dan formula rahasia yang sengaja ditanam didalam tubuh Chyntia, alat tersebut dapat menyadap semua yang diucapkan Chyntia. Kematian Chyntia disebabkan oleh racun yang dikeluarkan melalui alat tersebut, racun itu sangat kuat hingga dapat langsung menonaktifkan fungsi jantung dalam hitungan detik. Berdasarkan hasil penelitian kami, semua anggota black line ternyata dipasangkan alat yang sama. Oleh karena itu, mereka akan lebih memilih diam atau mati seperti ini. Chyntia dan anggota black line yang memberikan info kemarin kepada kita adalah bukti nyata betapa kuatnya formula tersebut.” Ucap kapten Reza.


“Apa formula itu ada ditubuh gue juga? Berhubung gue juga pernah disekap oleh black line?” Tanya Yoga penasaran.


“Sepertinya tidak, jika memang ada buat apa mereka repot-repot mengatur ini semua? Tapi untuk memastikannya lagi, apa lo bersedia diperiksa?” Tanya Kapten Reza balik.


“Sudahlah, tidak penting lagi. Mau mati kapanpun gue udah gak peduli, gue akan berusaha untuk menerima kenyataan ini. Selagi gue masih memiliki waktu, gue akan menggunakannya untuk fokus membangun project lintas benua, karena gue yakin, dimanapun saat ini Dionne berada, baik di dunia ini atau di alam yang berbeda. Dia pasti bisa melihat dan merasakannya, dia pasti tetap berharap project lintas benua nya berjalan dengan lancar dan sempurnah. Gue akan persembahkan sisa hidup gue untuk bangun project ini.” Ucap Yoga dengan suara yang bergetar.


“Jangan bicara seperti ini bro, sebaiknya kita segera keruang pemeriksaan untuk mengecek alat itu ada atau tidak didalam tubuhlo. Jika kita bisa mengeluarkannya sudah pasti kita bisa juga mengeluarkan dari anggota black line lainnya kan, dengan begitu semua informasi yang kita ingin tanyakan kepada mereka kita akan dengan mudah lagi mendapatkannya, termasuk informasi dalang sesungguhnya dibalik tragedi ini.” Ucap kapten Reza.


“Ok, periksa saja. Gue udah pasrah...” Yoga membuka kedua tangannya.


Kapten Reza pun tertawa lalu memeluk sahabat baiknya itu.


“Jika memang ada alat itu ditubuhlo, sudah pasti lo sudah mati saat ini juga Yoga!” Bisik kapten Reza.


Drrrt...drttt kapten Reza melepaskan pelukannya dari Yoga ketika merasakan ponselnya bergetar.


“Lapor komandan, semua anggota black line yang kita tangkap tiba-tiba saja meninggal secara bersamaan.” Ucap anak buahnya kapten Reza di sebrang sana.


“Apa?! Baiklah, mereka ingin menutup rapat-rapat siapapun yang dapat membocorkan rahasia ini. Kami akan segera kembali ke Jakarta!” Kapten Reza menutup panggilan tersebut.




Sesampainya di Jakarta Yoga langsung merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang nya. Kenangan atas kebersamaannya dengan Dionne kembali terbayang di kedua matanya yang sedang terpejam.

__ADS_1


“Dionne, dimanapun kamu sekarang. Lihat lah sayang, aku tidak akan membuatmu kecewa. Jika memang yang mereka inginkan adalah kehancuranku karena sudah membuatmu menderita, mereka tidak akan mendapatkannya. Aku akan berusaha menjadi Yoga yang kuat dan bangkit dari keterpurukan ini. Aku akan membuat permata group dan sun group lebih kuat lagi. Aku akan berhasil membangun project lintas benua. Semua akan aku lalukan untuk mu sayang...semua untukmu!” Teriak Yoga dari atas ranjangnya masih dengan matanya yang terpejam.


••


Malam berlalu, dipagi hari yang baru Yoga kembali menjalankan aktifitas seperti biasanya. Melawan semua gejolak dihatinya ketika bayangan Dionne kembali menghantuinya disetiap sudut ruangan yang ada dirumahnya.


“Pergi kamu dari sini!” Terdengar suara teriakan Edhi dari depan gerbang rumah.


Yoga yang baru saja keluar dari dalam rumahnya menuju mobil yang akan dikendaraianya bersama Edhi dapat mendengar semua itu dengan jelas. Yoga pun segera menghampiri Edhi dan melihat siapa orang yang sedang di maki-maki oleh ajudan terbaiknya itu.


“Aku hanya ingin memastikan tuan Yoga baik-baik saja.” Ucap seoang wanita.


“Siapa dia?” Tanya Yoga kepada Edhi.


“Tidak penting tuan, hanya ular pengganggu yang memang harus disingkirkan.” Jawab Edhi.


“Ini aku tuan Yoga, aku Rachel...aku hanya ingin melihat tuan Yoga sebentar saja, aku mohon...” Ucap Rachel memelas dari balik pintu gerbang yang juga sudah dijaga dengan dua pengawal lainnya.


“Baik tuan.” Edhi pun memberikan kode agar kedua pengawal yang menjaga pintu gerbang tersebut membukakan pintu gerbangnya untuk Rachel.


“Tuan Yoga...kamu baik-baik saja kan?” Rachel langsung memeluk Yoga.


“Aku baik-baik saja, untuk apa kamu mencariku lagi?” Tanya Yoga sambil melepaskan pelukan Rachel darinya.


“Aku dengar kabar kalau puteri Dionne menghilang, aku takut tuan Yoga jadi depresi berat.” Jawab Rachel dengan tatapan penuh perhatian kepada Yoga.


“Kamu lihat kan? Aku baik-baik saja. Sudah lega kan...sekarang kamu bisa pulang dengan tenang. Aku mau berangkat kerja.” Ucap Yoga sambil tersenyum kepada Rachel.

__ADS_1


“Tuan Yoga, ijinkan aku menemani tuan Yoga sampai puteri Dionne kembali. Aku mohon...berikan aku kesempatan untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk tuan Yoga. Aku tidak akan mengganggu atau mendekati tuan Yoga jika tidak diinginkan, aku hanya benar-benar ingin mengabdikan hidupku untuk tuan Yoga, hanya itu.” Rachel memohon kepada Yoga sambil berjongkok dan memegang kedua kaki Yoga.


“Cih! Menjijikan sekali! Lepaskan tuan Yoga, kembalilah kehabitatmu wanita ular!” Geram Edhi sambil menarik paksa Rachel.


“Tuan Yoga aku mohon, aku memang sangat mencintai tuak Yoga. Tapi aku tidak akan memaksa tuan Yoga harus membalas cintaku ini, aku hanya ingin mengurusi tuan Yoga saja tidak lebih. Aku hanya ingin memastikan tuan Yoga baik-baik saja. Hanya itu...” Ucap Rachel, Edhi terus menarik wanita itu hingga keluar dari pintu gerbang.


“Mari tuan.” Edhi mempersilahkan Yoga masuk kedalam mobilnya setelah memastikan kedua pengawal yang menjaga gerbang sudah membereskan Rachel dan menjauh dari rumah itu.


Yoga pun menuruti arahan Edhi, dia segera masuk kedalam mobil dan duduk dikursi penumpang. Edhi pun segera masuk untuk menjalankan kemudinya.


Baru lima meter mobil mereka melaju, Rachel sudah berbuat ulah lagi dengan menghadang mobilnya mereka. Wanita itu berdiri tengah-tengah jalan sambil membuka kedua tangannya.


“Dasar wanita gila, kamu mau mati...mati saja!” Maki Edhi, ajudan itu bukannya berhenti malah menginjak gas lebih kencang lagi.


“Edhi, hentikan!” Teriak Yoga, Edhi terus menginjak gas nya namun segera membelokkan setirnya.


Rachel yang sudah menutup kedua matanya dengan berharap mobil tersebut berhenti dan Yoga segera turun hanya dapat menelan saliva pahitnya kembali ketika melihat mobil itu malah berbelok dan menjauh darinya.


“Gila, kamu hampir saja menabrak Rachel tadi!” Geram Yoga sambil memegang sandaran kursi depannya.


“Hahaha ya tidak mungkin lah tuan, wanita itu pasti berharap tadi kita berhenti dan tuan Yoga kembali meladeninya. Makanya aku sengaja meledeknya seperti itu.” Ucap Edhi sambil tertawa.


“Sial kamu!” Seru Yoga, dia berusaha duduk kembali dengan tenang sambil menyenderkan kepalanya kebelakang.


“Tugas aku sekarang bukan hanya melindungi tuan Yoga dari ancaman orang-orang jahat lagi, tapi juga harus melindungi tuan Yoga dari kejaran wanita-wanita gatel seperti Rachel juga. Aku harus memastikan tuan Yoga tetap aman dari mereka semua, sampai puteri Dionne kembali kepelukan tuan Yoga.” Ucap Edhi dengan semangatnya.


“Apakah kamu yakin isteriku itu masih hidup?” Tanya Yoga.

__ADS_1


“Aku yakin tuan, puteri Dionne dan bayinya. Pasti masih hidup, makanya tuan Yoga harus tetap kuat dan semangat menjalankan kehidupan ini lagi.” Jawab Edhi.


“Ya, sudah pasti Edhi.” Yoga kembali memejamkan kedua matanya. Karena hanya dengan menutup kedua matanya dia akan dapat melihat bayangan Dionne lebih jelas lagi.


__ADS_2