
“Edhi...” Panggil Dionne dengan lembutnya, namun sudah membuat Edhi sangat terkejut mendengar panggilan tersebut.
Edhi yang sedang mengintai Yoga dari tadi langsung menoleh kearah panggilan tersebut, Dionne berdiri tegap dibelakangnya sambil menggendong seorang anak balita yang sangat tampan sekali.
“Tu-tuan puteri Dionne? Be-benarkah?” Tanya Edhi tidak percaya.
“Iya ini aku Dionne, dan ini Yodi. Mana suamiku?” Tanya Dionne dengan antusiasnya.
“Astaga, tuan Yoga!” Edhi langsung berlari diikuti oleh Dionne.
Saat itu Yoga sudah berdiri di ujung menara, sambil memejamkan kedua matanya Yoga pun langsung menjatuhkan dirinya sendiri tanpa menoleh sedikitpun ke teriakan suara Edhi dan Dionne yang sudah memanggil namanya berkali-kali. Bukan karena Yoga tidak mendengar panggilan mereka, tapi Yoga beranggapan itu hanya khayalannya saja, mendengar Dionne memanggil namanya seperti selama ini yang dia rasakan.
“Yoga!!!! Tidak.....!!!!!!!” Teriak Dionne histeris sambil menangis memanggil nama suaminya, Yodi yang masih berada didalam gendongan Dionne pun ikut menangis.
“Ma, kenapa papa oncat? Papa malah ama kita ya? Papa gak cayang ama kita ya?” Tanya balita berusia tiga tahun itu membuat tangisan Dionne semakin nyaring terdengar.
Edhi yang tidak sempat menangkap Yoga langsung terpaku berdiri menatap kearah bawah menara tempat Yoga menjatuhkan diri.
“Mari puteri, kita lekas turun!” Ajak Edhi.
Edhi lekas mengambil Yodi dalam gendongan Dionne, mereka pun berlari menuju lift yang akan membawa mereka turun kelantai dasar.
“Tenang puteri, tuan Yoga baik-baik saja kok.” Ucap Edhi ketika mendengar isakan tangis Dionne yang sangat pilu memanggil-manggil nama Yoga didalam lift.
“Maksudmu?” Tanya Dionne penasaran.
“Aku tidak mungkin membiarkan tuan Yoga lepas dari perlindunganku sedikitpun.” Jawab Edhi sambil tersenyum.
Di lantai dasar sudah ramai sekali, para pengawal dan regu penyelamat yang sudah ditugaskan Edhi menyiapkan jala dan bantalan tepat di bawah posisi Yoga berdiri sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Bahkan alat pelindung berupa jala yang mereka miliki dapat menangkap secara otomatis tubuh Yoga dari ketinggian seratus meter, alat itu sudah dimiliki lama oleh divisi operational menara Permata sebagai alat pelindung petugas kebersihan kaca di menara mereka.
__ADS_1
Bukan hanya alat tersebut, para regu penyelamat juga sudah sudah menyiapkan tiga lapisan alat pelindung lainnya di bawah jala tersebut, terakhir berupa bantalan empuk berisi angin yang apabila terjatuh keatasnya siapapun tidak akan merasakan sakit. Namun Yoga sangat beruntung, karena dia dapat diselamatkan di lapisan awal alat penyelamat tersebut.
Yoga tidak sadar dengan persiapan yang sudah dilakukan karyawannya dibawah menara Permata, karena saat itu dia hanya menatap kosong kedepan, keatas langit dan malah memejamkan kedua matanya saat menjatuhkan diri, sebenarnya Yoga sangat takut ketinggian jadi tidak berani menatap kebawah, hanya saja saat itu dia sudah sangat yakin untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara seperti itu.
“Tuan Yoga pingsan.” Ucap salah satu pengawal kepada Edhi, pengawal itu melirik takjub kearah Dionne juga, puteri yang selama ini mereka cari-cari itu tiba-tiba saja muncul disaat-saat yang sangat menegangkan seperti ini. Hanya saja para pengawal dan karyawan lainnya disana tika berani bertanya langsung kepada Dionne dan juga Edhi.
Yoga pun segera dibawa ke rumah sakit permata untuk mendapatkan perawatan dan juga mengecek kondisi tubuhnya secera menyeluruh.
Sama halnya dengan pengawal yang lain, lidah Edhi juga masih sangat keluh untuk mulai bertanya kepada puterinya itu, kemana saja puteri Dionne selama ini.
Didalam kamar perawatan Edhi membiarkan Dionne dan puteranya menemani Yoga.
^^^Aku seperti mendengar suara Dionne barusan memanggilku, juga suara anak kecil yang memanggilku papa...Ya Tuhan, apakah saat ini aku sudah di alam kubur, atau alam lainnya? Tidak mungkin aku ada syurga kan, karena aku mati dengan cara bunuh diri. Yoga^^^
Yoga masih tidak berani membuka kedua matanya, karena dia takut semuanya hanyalah ilusinya saja. Dia malah jadi takut dengan berpikiran akan adanya kedatangan malaikat yang akan memarahinya karena sudah mengakhiri hidupnya sendiri.
“Yoga....suamiku....” Terdengar panggilan Dionne sangat jelas di telinga Yoga.
Yoga pun langsung membuka kedua matanya, lalu melihat dengan jelas sumber suara itu. Tepat dihadapannya kini terlihat dengan jelas seorang wanita cantik yang selama ini sangat dia rindukan sambil menggendong seorang anak laki-laki. Mereka pun tersenyum memandang penuh kelembutan kearah Yoga.
“Di-Dionne...apakah itu...Yo-Yodi?” Tanya Yoga dengan gugup.
“Iya sayang, ini Yodi anak kita.” Jawab Dionne, dia pun segera menuruni anaknya itu dari gendongannya dan membiarkan anak itu berlari kearah Yoga dan memeluknya.
“Papa...” Panggil Yodi sambil memeluk Yoga dengan erat.
“Yodi anakku, apakah saat ini papa sudah sampai syurga?” Tanya Yoga kepada anak balita yang baru berusia tiga tahun itu.
“Papa odoh! Kita di umah akit kalna papa oncat, papa nakal...papa nakal, papa halus di ukum kan ma, aku aja kalo oncat-oncat diukum uga ama ibu.” Jawab Yodi sambil melepas pelukannya membuat Yoga sangat terkejut.
__ADS_1
Ini semua bagaikan ilusi bagi Yoga, namun terlihat sangat nyata sekali. Yoga masih tidak percaya dengan apa yang sudah dilihat dan didengarnya. Yoga masih terpaku menatap isteri dan anaknya itu secara bergantian.
“Heiii Yosumku! Apa kamu tidak merindukanku?!” Tanya Dionne dengan berbisik ditelinga Yoga.
“Mimpi, apakah ini hanya mimpiku lagi?” Yoga balik bertanya kepada Dionne.
“Ini bukan mimpi sayang, ini aku dan ini Yodi anakmu. Kita kembali...maafkan kita ya.” Jawab Dionne sambil memeluk Yoga dengan erat.
“Ya Tuhan...benarkah ini nyata? Benarkah ini isteriku yang selama ini aku cari?” Tanya Yoga lagi sambil meneteskan airmata di kedua pipinya.
“Papa cuma cali mama? Gak cali odi?” Protes Yodi membuat Yoga sadar kembali atas kehadiran balita itu disampingnya.
“Ah iya, papa juga mencarimu sayang. Papa mencari kalian semuanya.” Ucap Yoga sambil melepaskan pelukan Dionne.
Dionne menggendong Yodi lalu kembali memeluk Yoga, mereka bertiga berpelukan dengan sangat eratnya.
“Kalian kemana saja selama ini? Kenapa kalian meninggalkan aku sampai aku gila mencari kalian kemanapun?” Tanya Yoga dalam pelukannya.
“Kami di umah ibu, oh iya pa...ibu ada dilual, dia mau acuk tapi atut. Oleh acuk gak yah? Cian ibu.” Jawab Yodi dengan polosnya.
“Ibu...siapa ibu?” Tanya Yoga bingung.
Mereka pun saling melepas pelukan. Dionne tersenyum menatap suaminya.
“Maafkan aku sayang, bukannya selama ini aku tidak mau berusaha untuk kembali kepadamu dan semuanya, aku hanya ingin menepati janjiku kepada penolongku dan juga Yodi saat itu.” Ucap Dionne pelan.
“Siapa?” Tanya Yoga penasaran.
“Wanita itu yang dipanggil ibu oleh Yodi, dia adalah Rachel.” Jawab Dionne membuat Yoga sangat terkejut.
__ADS_1
Kenapa bisa bersama Rachel....