Berjuta Taktik Merayu Isteri

Berjuta Taktik Merayu Isteri
Siapa kamu


__ADS_3

Bandara kebesaran maha raja, adalah bandara yang disiapkan khusus raja, kerabat dan juga pejabat terkait saja. Bandara ini tidak seluas bandara lain pada umumnya, namun di desain dengan sangat sempurnah hingga membuatnya sangat mewah dan elegan sekali.


Di bandara ini hanya ada pesawat boing pribadi milik kerajaan, salah satunya adalah Boeing Business Jet 747-8i yang saat ini akan membawa Yoga, Edhi dan Carlos ke Jakarta. Yoga dan Edhi tidak akan lama di Jakarta, sesuai rencana mereka akan kembali ke negara B sore nanti .


“Kabarin aku jika sudah sampai ya.” Ucap Dionne ketika Yoga baru saja mencium keningnya.


“Iya, sudah pasti sayang. Aku akan mengabarimu setiap waktu selama aku disana. Gak lama kok, nanti juga kembali. Kamu jangan terlalu kangen ya.” Yoga kembali memeluk dan mengecup kening Dionne kembali.


“Ingat janjimu ya...” Pesan Dionne ketika Yoga akan melepas pelukannya.


“Pasti sayang, aku akan selalu ingat janjiku.” Ucap Yoga sambil tersenyum manis.


“Ada atau tidak aku, kamu harus tetap fokus dalam bekerja. Ingat project lintas benua kita baru dua puluh lima persen berjalan, harus lebih fokus lagi. Dan juga sun group...aku titip mereka semua.” Dionne memegang kedua tangan Yoga.


“Kamu bicara apa sih sayang, aku ini hanya dua belas jam saja ke Jakarta. Sudah kaya mau pergi jauh aja bertahun-tahun. Hahaha kamu ini.” Yoga mengecup singkat bibir Dionne.


“Yasudah, sana jalan. Hati-hati ya sayang...I love you.” Ucap Dionne, membiarkan Yoga melepas pelukannya.


“I love you too honey, tunggu aku ya. Aku pasti lekas kembali kok. Aku kan pasti juga kangen sama kalian.” Yoga berjongkok untuk mengecup perut Dionne lalu kembali berdiri untuk mengecup bibir Dionne.


Dionne pun dengan berat melepas kepergian suaminya itu, walau hanya untuk beberapa saat saja. Entah kenapa, dari semalam sebenarnya perasaanya sangat tidak nyaman sekali. Hanya saja Dionne tidak ingin menjelaskannya kepada siapapun termasuk ke Yoga.


Sementara itu di sisi lain Dita juga dengan berat hati melepas kepergian Edhi, walau disana juga ada Carlos yang ikut balik ke Jakarta dengan mereka.


Carlos memeluk dan mengecup lembut kening Dita sebelum pergi. Namun Edhi lebih memilih diam tanpa sedikitpun menoleh ke arah Dita. Edhi tepat berjalan di belakang Yoga ketika majikannya tersebut sudah selesai berpamitan dengan Dionne.


“Ingat ya Dita, aku masih menunggu jawaban darimu ya. Aku pulang dulu ke Jakarta, bye!” Seru Carlos.


“Iya tuan.” Ucap Dita sambil menunduk.


“Jangan pernah panggil aku tuan lagi sayang, panggil aku Carlos saja ya.” Protes Carlos.

__ADS_1


“Ba-baik tu- hmm Carlos, cepat jalan nanti ketinggalan pesawat.” Ucap Dita sambil mendorong Carlos agar segera menyusul Yoga dan Edhi.


Carlos hanya tersenyum lalu mengikuti arahan Dita tersebut.


“Bye, Edhi!” Teriak Dita sambil melambai-lambaikan tangannya, membuat Edhi langsung terdiam sejenak. Namun bukannya menengok kearah suara gadis itu, Edhi lalu melanjutkan perjalanannya lagi.


“Kenapa kamu terus-terusan mencueki Dita?” Tanya Yoga.


“Sudah seharusnya kan tuan, karena Dita sudah memilih jadi calon isterinya tuan Carlos.” Jawab Edhi pelan.


“Si cantik itu sebenarnya belum memilih gue bro, tapi gue yang masih terus-terusan mengejarnya. Walau gue tahu, dihatinya saat ini hanya ada nama lo. Tapi gue yakin suatu hari nanti, nama lo itu akan segera tergantikan dengan nama gue dihatinya itu. Thanks ya untuk kesempatan yang sudah you berikan ke gue.” Ucap Carlos yang tiba-tiba sudah berada di belakang Yoga dan Edhi, pria itu langsung menepuk pelan punggung Edhi.


Edhi tidak membalas ucapan Carlos, dia kembali terdiam dan agak sedikit mundur dengan gagah untuk membiarkan Carlos berjalan sejajar dengan Yoga.


Dionne dan Dita berdiri di balkon bandara yang dari sana kita dapat melihat dengan jelas pesawat-pesawat yang akan mendarat ataupun yang lepas landas.


Mereka hapal pesawat mana yang akan mengantar pria-pria yang mereka cintai itu ke Jakarta.


“Bye, Yoga.” Ucap Dionne lirih dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.


“Puteri, kenapa sesedih ini. Sore nanti kan mereka akan kembali. Wajah puteri juga jadi pucat seperti ini. Kita pulang yuk puteri, agar puteri bisa istirahat.” Dita memegang tangan puterinya itu.


“Haha ya, sorry Dita. Semenjak hamil perasaanku memang sangat sensitif sekali.” Ucap Dionne sambil tersenyum.


Belum sempat mereka melangkahkan kaki meninggalkan balkon tersebut ponsel Dionne bergetar.


Dionne segera melepaskan tangannya dari Dita lalu mengecek siapa yang sudah menghubunginya itu.


“Siapa puteri?” Tanya Dita penasaran ketika dilihatnya Dionne hanya menatap bingung layar ponselnya.


“Tidak tahu Dit, panggilan video call dari nomer asing.” Jawab Dionne sambil menunjukkan layar ponselnya ke arah Dita.

__ADS_1


“Hmm, tidak usah di angkat puteri. Abaikan saja.” Saran Dita, Dionne pun menurutinya.


Panggilan tersebut pun berhenti. Baru saja Dionne akan meletakkan ponselnya lagi kedalam saku di cardigan nya. Ponsel itu kembali bergetar.


Karena penasaran Dionne kembali membuka layar ponselnya. Ada sebuah pesan disana.


...“Selamat pagi puteri, lama tidak berjumpa. Sulit sekali ya menyentuh suami nakal mu itu saat ini. Tapi kamu lihat mereka puteri? Mereka adalah para sniper yang sudah kami tempatkan dan tugaskan khusus untuk menembak wajah tampan suami mu itu dalam hitungan detik. Bahkan seribu Edhi pun tidak akan mampu melindung suami kesayanganmu itu.” ...


“Cih! Mereka berulah lagi! Dita, segera hubungi Edhi dan beritahukan hal ini kepadanya.” Perintah Dionne sambil menujukkan isi pesan tersebut kepada Dita.


Dita langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Edhi. Namun baik Edhi, Yoga maupun Carlos sudah mematikan signal ponsel mereka sehingga tidak bisa dihubungi sama sekali.


“Sial! Coba aku lihat puteri.” Dita mengambil ponsel Dionne, dan tidak lama panggilan video call dari nomer asing itu masuk kembali.


“Sini, biar aku angkat saja!” Seru Dionne, lalu menerima panggilan tersebut.


Dengan tangan yang agak gemetar Dionne menatap tajam kearah layar ponselnya.


“Pagi puteri, kamu lihat mereka kan. Aku tahu jika aku hanya mengirimkan foto-foto mereka saja ke ponselmu pasti kamu tidak akan percaya. Jadi lihat lah secara langsung saat ini mereka ada dimana, yang dari sana mereka akan dapat dengan mudah memecahkan kepala suami mu itu. Hahahahaha.” Ucap seorang wanita yang hanya bicara saja tanpa menunjukkan wajah nya.


Dionne mencoba mengenali bagunan itu, sepertinya beberapa gedung yang berada di sekitaran menara permata.


“Siapa kamu?!” Tanya Dionne kesal.


“Hahaha, yakin mau tahu siapa kami?” Tanya balik wanita itu.


“Hahaha tidak perlu tahu, kami akan dengan mudahnya menyingkirkan mereka semua. Terima kasih sudah menunjukkan keberadaan mereka.” Ucap Dionne dengan sinisnya.


Dita yang mendengarkannya terlihat sangat geram sekali.


“Tidak semudah itu puteri, itu hanya bocoran seperapat penempatan sniper yang kami siapkan untuk menghabisi Yoga saja. Sniper-sniper kami juga berada di sekitaran bandara XYZ, di jalan utama bahkan di sekitaran mobil-mobil yang akan membawa suami nakal mu itu dari bandara XYZ ke menara permata. Hahaha Seru kan!” Ucap wanita itu lagi.

__ADS_1


“Hentikan!!!” Teriak Dionne histeris. Dita pun langsung mengambil ponsel Dionne tersebut dari tangannya.


__ADS_2