
Negara I adalah negara yang sangat indah dan menjadi salah satu tujuan tempat bulan madu Yoga dan Dionne nantinya. Namun saat ini Yoga menginjakkan kakinya disana dengan hati yang sangat gelisah karena tanpa Dionne disisinya. Yoga sangat berharap Dionne bersama dengan Chyntia di negara ini.
^^^Dionne ku sayang, apakah kamu benar-benar berada di negara ini? Kita berada dinegara yang sama dan menghirup udara yang sama? Bagaimana keadaanmu dan anak kita sekarang? Apakah kamu dapat merasakan kehadiranku disini? Aku datang dan akan segera membawamu pulang sayang...Yoga^^^
Pihak kepolisian sudah berhasil mengepung kantor logistik milik Thalita Albertino yang diyakini wanita tersebut benar-benar Chyntia yang selama ini mereka cari. Jika Chyntia dapat di tangkap harapan mereka adalah segera dapat menemukan Dionne juga.
Kapten Reza sudah membawa semua dokumen yang dibutuhkan termasuk bentuk sidik jari Chyntia dan juga contoh dna dari anggota keluarganya Chyntia.
Sekian lama menunggu akhirnya team forensik datang membawa semua hasilnya kepada Kapten Reza dan Yoga.
“Sembilan puluh sembilan persen memiliki kecocokan yang sama, terutama dibagian sidik jari hasilnya seratus persen Thalita Albertino dan Chyntia adalah orang yang sama.” Ucap dokter forensik tersebut.
“Benar dugaan kita, dimana sekarang Chyntia?” Tanya Yoga penasaran.
“Sabar Yoga, jangan gegabah. Jika benar Dionne di sembunyikan olehnya, kita harus menggunakan taktik kembali agar Chyntia mau mengaku dan menyerahkan Dionne kepada kita.” Ucap kapten Reza.
“Sial! Harus menunggu berapa lama lagi? Bagaimana kalau sekarang Dionne malah semakin terancam karena mereka tahu Chyntia sudah berhasil kita tangkap?” Tanya Yoga lagi dengan penuh rasa khawatir.
Kapten Reza kembali menepuk pundaknya Yoga, mencoba kembali menenangkan kegelisahan dihati sahabat baiknya itu.
“Sabar ya, setelah team kepolisian memintai keterangan Chyntia, lo bisa langsung masuk keruangan dan bicara langsung dengannya.” Ucap Kapten Reza.
••
__ADS_1
Perlahan Yoga membuka pintu sebuah ruangan yang sangat sunyi, didalam sana sudah menunggu dengan tenang seorang wanita cantik sambil menghisap rokok.
“Chyntia...” Panggil Yoga dengan suara beratnya.
“Ya...sayang.” Saut Chyntia sambil tersenyum lalu membuang asap itu kearah Yoga yang sudah berjalan semakin mendekatinya. Yoga pun duduk persis dihadapan Chyntia.
“Dimana isteriku?” Tanya Yoga pelan.
“Mereka tadi juga menanyakan hal yang sama denganku. Aku sudah jawab berkali-kali kepada mereka semua. Memang nya mereka tidak memberitahu mu sayang?” Tanya balik Chyntia.
“Dimana isteri dan anakku?!” Desis Yoga.
“Aduh Yoga, kamu kok jadi seram sekali sih? Aku tidak pernah melihat kamu seseram ini, tapi kenapa jadi lebih jauh mempesona ya? Ah...aku jadi ingin mengulang lagi merasakan manisnya bibir seksimu itu.” Ucap Chyntia semakin membuat Yoga meradang.
“Cukup Chyntia!! Aku tidak main-main! Tunjukkan dan kembalikan anak dan isteriku sekarang juga! Atau kamu akan mendapatkan akibangnya!” Ancam Yoga.
Tamparan keras Yoga mendarat di pipi Chyntia, ini pertama kalinya bagi Yoga dalam hidupnya menampar seorang wanita.
“Yoga!!! Kamu kenapa bisa sejahat ini sama aku?” Teriak Chyntia sambil memegang pipinya.
Yoga kembali duduk dikursinya setelah menampar Chyntia.
“Aku bisa jauh lebih jahat lagi jika kamu masih belum mau mengaku dimana kamu sembunyikan anak dan isteriku!” Desis Yoga sambil menatap tajam Chyntia penuh amarah.
__ADS_1
“Kamu gila ya? Sudah aku bilang berkali-kali, aku tidak tahu mereka ada dimana. Bukannya mereka sudah mati ya tenggelam di laut empat bulan yang lalu kan? Memangnya kalian masih belum bisa menemukan jasad mereka?”
BRUAKKK!!! Yoga menendang meja yang ada ditengah-tengah mereka sampai membuat Chyntia terjatuh keatas lantai hingga mengeluarkan darah segar dari bibir dan hidungnya.
“Sial kamu Yoga! Apa kamu pikir aku yang sudah menyembunyikan isteri dan anakmu? Terimalah kenyataan, kalau mereka memang sudah mati...Hahaha mereka sudah mati Yoga! Kalau mereka belum mati, mana mungkin aku bisa menerima uang sebanyak ini sampai bisa membangun perusahaan di negara ini?” Ucap Chyntia membuat hati Yoga makin terasa pedih dengan irisan luka yang jauh lebih dalam lagi.
“Dionne dan anakku belum mati! Mereka masih hidup, kalian pasti sudah menyembunyikannya. Chyntia sialan!!!! Kamu jangan banyak bersandiwara, tunjukkan segera dimana mereka? Dimana anak dan isteriku?!” Geram Yoga, dia sudah berdiri tepat dihadapan Chyntia yang masih tersungkur diatas lantai.
“Ditanya dengan ribuan pelurupun aku tidak akan bisa menjawabnya, karena aku memang benar-benar tidak menyembunyikan isteri dan anakmu. Untuk apa aku sembunyikan mereka? Aku sudah hidup bahagia dan tenang disini dengan semua harta yang aku miliki. Buat apa lagi aku membawa masalah dalam hidupku yang baru?“ Ucap Chyntia dengan kerasnya.
Yoga pun sejenak terdiam, memikirkan semua kata-kata yang diucapkan oleh Chyntia. Harapan besarnya untuk bisa menemui Dionne melalui Chyntia musnah juga.
“Kamu jangan lupa Yoga...ini semua juga karena kamu, jika saja waktu itu kamu tidak pernah mempermainkanku dan meninggalkanku begitu saja, malah membuatku masuk kedalam penjara aku tidak akan mungkin jadi terpuruk seperti ini. Ini semua karena kesalahanmu juga, makanya isteri dan anakmu jadi kena batunya!” Sambung Chyntia menambah beban dihati Yoga yang kini kembali rapuh.
“Bukannya kamu sudah tahu, bukan aku yang menjebloskanmu kepenjara? Bukannya waktu itu aku sudah memberikan kesempatan padamu untuk memulai hidup baru mu lagi? Kenapa kamu masih saja dendam kepadaku, semua kesalahanku adalah milikku, bukan milik isteri apalagi anakku.” Yoga kembali menatap Chyntia dengan tajam.
“Katakan padaku, Siapa otak dibalik ini semua?!” Tanya Yoga.
“Jika aku mengatakan dengan jujur dan menunjukkan semua bukti siapa otak dibalik ini semua, apakah kamu mau melepaskanku kembali?” Tanya Chyntia balik.
“Aku tidak pernah ingkar janji, aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu menjajalani kehidupanmu yang baru disini. Semua tuduhan yang mengarah semua baik sebagai otak dari masalah ini, pelaku dan lainnya akan aku bebaskan darimu, aku akan menganggap Chyntia sudah mati yang sekarang hanyalah Thalita, asalkan kamu katakan kepadaku....siapa dalangmu sebenarnya?” Ucap Yoga sambil menghampiri Chyntia lebih dekat lagi.
“Baiklah, akan aku katakan. Kamu benar Yoga, aku memang tidak bergerak sendiri untuk semua ini, dalang semua ini ada-....” Ucapan Chyntia terputus, karena saat itu juga Chyntia tiba-tiba merasakan sakit yang sangat teramat dibagian dadanya.
__ADS_1
“Katakan Chyntia, siapa dalangmu?” Tanya Yoga lagi mempertegas.
“Yo-ini, sa- to...tolong, argggghhhh!” Chyntia ambruk keatas lantai sambil memegang erat dadanya.