
Rasa gelisah di hati Dita masih menghantui pikirannya. Di saat dia memaksa kedua matanya untuk terlelap namun saat itu juga bayangan Edhi selalu hadir dalam ingatannya.
Besok pagi dia akan ikut dengan Dionne dan Yoga kembali ke negara B. Harusnya dia bahagia karena akan kembali ke negara asalnya dan dapat berjumpa dengan keluarga serta kawan lama nya disana. Namun hatinya masih tak menerima jika harus berpisah dengan Edhi. Karena yang di ketahui Dita, Edhi tidak akan ikut bersama mereka untuk kembali ke negara B.
Hawa dingin yang keluar dari AC di dalam kamarnya juga ternyata tidak cukup membuat Dita merasa nyaman. Hatinya masih terus saja gelisah dengan hawa panas yang keluar dari dalam dirinya sendiri hingga membuatnya tambah tidak bisa tidur.
Dita pun memutuskan keluar dari kamarnya, sejenak dia terdiam di depan pintu kamar Edhi. Ingin rasanya Dita mengetuk lalu masuk kedalam kamar tersebut, namun dia tidak memiliki keberanian sampai sejauh itu. Akhirnya Dita berjalan menuju balkon yang tidak jauh dari kamarnya.
Perlahan Dita membuka pintu balkon yang ternyata tidak terkunci. Batinnya sempat mengumpat karena keterledoran team keamanan di rumah itu yang tidak mengunci pintu tersebut. Namun dia lupakan kesalahan itu begitu saja, disaat dia dapat merasakan wangi dan sejuknya angin malam yang langsung menyapa kehadirannya.
“Aku tidak butuh pengakuan cintamu, sebenarnya cukup bagiku dapat melihatmu setiap hari saja sudah mampu membuatku bahagia. Sayang nya kamu terlalu bodoh Edhi!” Umpat Dita ketika dia sudah sampai di ujung balkon yang di batasi pagar-pagar kecil.
“Apa jangan-jangan sebenarnya dia itu pria jadi-jadian. Yang tidak memiliki hawa nafsu kepada wanita?” Tanya Dita pelan kepada dirinyan sendiri.
“Cih! Edhi bodoh! Selamanya kamu hanya akan menjadi pria bodoh yang jomblo seumur hidumu!” Maki Dita lagi dengan kesalnya.
Saat itu juga Edhi yang ternyata sedang duduk manis di kursi yang ada di sudut balkon itu langsung terbangun dan menghampiri Dita.
“Siapa yang bodoh?” Tanya Edhi pelan di telinga Dita.
“Kamu yang bodoh Edhi!” Jawab Dita, pandangannya masih menatap kosong ke arah pemandangan taman yang terlihat dengan jelas dari balkon tersebut.
Edhi pun langsung membalikkan badan Dita dengan kasar ke arah badannya. Kini, mereka sudah saling bertatap-tatapan satu sama lain.
Jantung Dita hampir saja copot ketika mengetahui pria bodoh yang sedang di maki-makinya itu ternyata ada di hadapannya kini.
“Eh...hehehe, kok kamu ada disini...sejak kapan?” Tanya Dita sambil cengar-cengir sendiri.
“Aku sudah ada disini sebelum kamu datang.” Jawab Edhi dengan suara yang sangat berat.
“Apa...Jadi kamu mendengar semua kata-kataku tadi dong?” Tanya Dita lagi.
__ADS_1
“Ya, lebih tepatnya makian dan juga sumpah sarapahmu yang kotor itu!” Jawab Edhi kesal.
“Hahaha, maaf. Abaikan saja, anggap saja saat ini kita tidak pernah bertemu. Bye Edhi...”Ucap Dita, dia pun berlari hendak meninggalkan Edhi. Namun saat itu juga Edhi kembali menarik tangannya hingga membuat Dita terjatuh kedalam pelukan Edhi.
Kini wajah Edhi dan Dita sudah sangat dekat, saking dekatnya mereka dapat merasakan hembusan nafas dari masing-masing mereka.
Seluruh wajah Dita dan Edhi langsung terasa panas, dengan degupan jantung yang malah menuntun mereka agar semakin dekat lagi. Hingga akhirnya Dita memejamkan kedua matanya, saat itu juga Edhi mengecup lembut bibir Dita.
Dita membuka kedua matanya, lalu membalas gerakan bibir Edhi yang kini sudah melum*t bibir dan lidah Dita semakin dalam.
“Apakah kamu memang sedang sengaja menggodaku?” Tanya Edhi ketika dia sejenak menghentikan ciumannya.
“Tidak tahu, aku hanya sedang menginginkan mu saja saat ini.” Jawab Dita kembali melum*t bibir Edhi.
^^^Apakah ini hanya mimpi lagi....kami sedang berciuman...Ahhh Edhi...Dita ^^^
Dita agak mendorong tubuh Edhi ketika dia hampir saja kehabisan nafas karena ciuman tersebut.
“Ciuman siapa?” Dita tidak paham dengan pertanyaan Edhi.
“Hahaha, apakah kamu akan semudah itu melupakan ciuman mu dengan seorang pria? Sudah berapa bangak pria yang sering mencium bibir tipismu ini?” Tanya Edhi sambil membelai bibir Dita yang terasa dingin.
Plak!!!
Tamparan keras pun mendarat di pipi Edhi.
“Kamu gila ya? Mana pernah aku ciuman dengan pria lain! Ciuman pertama ku ya sama kamu saat di rumah sakit waktu itu. Dan yang terlama yang tadi itu!” Ucap Dita dengan kesal, dia pun beranjak pergi meninggalkan Edhi yang langsung tertunduk sambil memegang pipi sebelah kirinya.
^^^Cih! Kenapa aku jadi menciumnya. Sial! Tidak mungkin aku mencintai Dita, kami tidak boleh seperti ini.Edhi ^^^
•
__ADS_1
•
Yoga memeluk Dionne lalu membelai rambut Dionne dengan lembutnya. Saat ini mereka sudah berada di dalam pesawat jet pribadi yang akan membawa mereka kembali ke negara B.
“Sebentar lagi kamu akan sampai ke kampung halaman mu. Apakah kamu bahagia sayang?” Tanya Yoga.
“Pastinya sayang, walaupun aku akan bertemu lagi dan di ribetkan oleh berjuta macam peraturan yang sudah di buat ayahku. Kebebasanku akan sedikit terikat disana.” Jawab Dionne pelan.
“Biarkan saja ayahmu sayang, sebenarnya berjuta macam peraturan yang sudah di buat ayahmu itu masih jauh lebih sedikit dibanding berjuta taktikku dalam merayu mu lo.” Bisik Yoga di telinga Dionne.
“Yosum! Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh di dalam pesawat!” Seru Dionne sambil mencubit gemas hidung Yoga.
“Hahaha, siapa yang sedang memikirkan hal yang aneh-aneh? Aku hanya mampu memikirkan bagaimana caranya agar lebih membuat mu bahagia lagi.” Ucap Yoga.
“Banyak sayang, salah satu caranya adalah dengan memijatkan kedua punggung ku yang terasa pegal ini.” Dionne menarik tangan Yoga dan meletakkan kedua telapak tangganya tepat di atas bahuku.
“Hanya itu saja, hahaha gampang sekali.” Ledek Yoga.
Kini Yoga sedang duduk langsung menghadap punggung Dionne. Dia pun mulai memijid kedua punggung Dionne pelan-pelan.
“Eh lihat ajudan mu, tampang nya menyedihkan sekali.” Ucap Yoga membuat Dionne ikut menoleh ke arah mata nya Yoga yang sedang menatap Dita.
“Dita, apakah kamu sedang sakit?” Tanya Dionne penasaran. Namun Dita tidak menjawabnya sama sekali. Pikirannya masih menerawang membayangkan kembali ciuman bibir yang sudah di lakukannya semalam bersama dengan Edhi.
“Dita...” Panggil Dionne lagi.
“Oh iya, kenapa puteri? Maaf, aku tidak dengar begitu jelas tadi.” Tanya Dita kebingungan.
“ Apa kamu sedang sakit?” Dionne mengulang pertanyaannya.
“Oh tidak puteri, aku baik-baik saja kok.” Jawab Dita.
__ADS_1
“Hmm, Yoga. Panggilkan Edhi. Sepertinya hanya itu saja obat yang dibutuhkan Dita saat ini.” Bisik Dionne di telinga Yoga.