Berjuta Taktik Merayu Isteri

Berjuta Taktik Merayu Isteri
Green Castle


__ADS_3

“Selamat datang di negara B.” Ucap Dionne dengan riangnya sambil melebarkan kedua tangannya seperti baru saja menghirup udara bebas.


Yoga pun mengikuti kelakuan isterinya, dengan tersenyum dia berjalan sambil berputar-putar lalu memeluk Dionne. Mereka sangat bahagia seperti dua anak kecil yang baru saja diberikan mainan oleh orang tuanya.


Tanpa sadar Edhi langsung melirik ke arah Dita ketika melihat kelakuan dua majikannya yang aneh tersebut. Dita pun membalas lirikkan nya lalu mengedipkan matanya dan ikut berlari sambil berputar-putar dengan riangnya memasuki halaman utama Green Castle peninggalan mendiang ibunya Dionne yang merupakan selir pertama raja Sebastian.


Green castle adalah kastil kecil yang terletak di tengah-tengah aliran sungai yang mengelilingi kastil tersebut. Di tumbuhi banyak pepohonan dan tanaman bunga yang berwarna-warni. Sepanjang jalan kita dapat melihat beraneka ragam ikan air tawar yang terlihat jelas di sungai tersebut.


Ini kali pertamanya lagi bagi Dionne menginjakkan kakinya di kastil tersebut, karena setelah kematian ibunya. Raja Sebastian membawa paksa Dionne untuk tinggal di istana Cereli dan tidak mengizinkannya kembali ke kastil tersebut.


Namun saat ini, di karenakan Dionne sudah menikah, raja pun mengizinkannya kembali dan tinggal di kastil tersebut.


Tidak banyak perubahan yang terjadi di kastil tersebut, bahkan para pelayan dan penjaga yang disana juga rata-rata masih orang-orang yang di kenalnya dahulu.


“Selamat datang kembali puteri Dionne dan tuan Yoga.” Ucap para pelayan tersebut menyambut kepulangan mereka.


Dionne mengajak Yoga untuk masuk kedalam kastil nya, bangunan tua yang tetap terlihat elegan dan kuat itu sudah membuat Yoga jatuh hati pada pandangan pertamanya.


“Sepertinya aku akan betah tinggal disni.” Ucap Yoga, tangannya masih merangkul mesrah pinggang Dionne.


“Kamu memang akan tinggal di sini kan, bagaimanapun. Kastil ini juga rumah mu sayang.” Dionne menempelkan kepalanya di bahu Yoga.


“Lucu kali ya, kalau kita berdiri disini sambil mengawasi si Yoga junior merangkak nantinya. Lalu dia memanggil kita...mami...papi...” Ucap Yoga.


“Apa kamu sudah memikirkan nama untuk anak kita ?” Tanya Dionne.


“Kamu bagaimana? Apakah kamu sudah menyiapkan nama juga? Aku ikuti kamu saja sayang, terserah kamu mau memberikan jagoan kita ini nama apa.” Yoga mengusap pelan perut Dionne.


“Dia akan menggunakan nama Atmodjo atau Cereli?” Tanya Dionne lagi.


“Terserah kamu sayang, aku tidak masalah jika dia memakai nama belakangmu.” Jawab Yoga lagi masih sambil mengusapkan tangannya di perut Dionne.

__ADS_1


“Hahaha kamu kan ayahnya, anak ini harus ikut nama keluargamu. Lagian, keluarga Cereli itu terlalu banyak, kamu tahukan ada berapa banyak pangeran dan puteri di negara ini.” Ucap Dionne.


“Asalkan kamu dan ayahmu setuju, aku ikut saja sayang.” Bisik Yoga ditelinga Dionne.


“Udah ah, aku lelah. Nanti malam ayah mengundang kita makan malam di istana. Sebaiknya kita istirahat dulu sekarang.” Dionne menarik tangan Yoga agar mengikuti langkahnya.


Mereka berjalan menuju sebuah tangga yang sangat luas dan tinggi. Tangga itu berada tepat di tengah ruang utama kastil tersebut. Kamar Dionne ada di lantai dua, kamar utama yang paling luas dan sangat cantik.


“Cantik sekali...” Puji Yoga ketika dia melihat sebuah lukisan yang menggambarkan wajah mendiang ibunya Dionne dan Dionne yang masih kecil. Lukisan itu berada tepat di dinding atas ranjang nya Dionne.


“Siapa yang cantik?” Tanya Dionne, bibir nya tersenyum ketika Yoga menatap penuh kagum ke arah lukisan itu.


“Kamu dan mendiang ibumu. Kalian cantik sekali.” Jawab Yoga.


“Hahaha jika ibuku masih hidup, dia pasti akan langsung menimpukmu dengan pot bunga itu. Ibuku itu seorang wanita kuat yang sama sekali tidak menyukai pujian dan basa basi dari orang lain.” Ucap Dionne.


“Tidak akan, aku sangat yakin. Jika saja ibumu masih hidup, beliau pasti akan sangat menyayangiku sebagai anak mantu tertampannya.”


“Dih, ke GR an sendiri. Dari mana kamu yakin ibuku akan seperti itu?” Tanya Dionne sambil merebahkan dirinya di atas ranjang nya yang sangat empuk.


“Kasur mu kok empuk sekali ya, ini merk apa ya?” Tanya Yoga sambil menepukkan tangan dan kakinya di atas kasur tersebut.


“Masa kamu tidak tahu sih. Ini salah satu karya terbaik Sun Group ku loh. Memang sih belum kami ekspor ke negara lain.” Jawab Dionne dengan bangga nya.


“Nanti kalau kita kembali ke Jakarta, aku mau bawa satu yang seperti ini ya sayang. Biar kita bisa tambah enak nanti pas buat adonan. Apalagi kan perut mu juga semakin membesar...eh, mau di coba sekarang gak? Pasti enak rasanya buat adonan di atas kasur yang empuk ini.” Yoga mengangkat tubuhnya, lalu menghadapkan wajahnya tepat di depan wajah Dionne.


“Dasar Yosum!” Dionne mendorong wajah suaminya itu. Yoga pun tertawa dan kembali menatap Dionne.


“Aku hanya ingin menciumi aroma wangi tubuhmu saja kok sayang. Tidak lebih, apalagi sampai buat adonan. Boleh ya...” Tanpa menunggu persetujuan dari Dionne, Yoga langsung mengecup bibir Dionne sekali, lalu kedua kalinya, di kecupan yang ketiga kali Dionne pun langsung membalas nya lagi dan lagi.


__ADS_1



Sementara di taman samping kastil, Edhi terlihat sedang memandang aliran sungai yang jernih dan di penuhi ikan-ikan yang berwarna warni.


“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku kalau ternyata kamu ikut ke sini?” Tanya Dita membuyarkan lamunan Edhi.


“Kenapa aku harus bilang kepadamu?” Tanya Edhi balik tanpa menatap Dita sama sekali.


“Kamu itu sudah buat aku sedih berhari-hari. Membayangkan hari-hariku akan terasa hampa kalau jauh darimu. Itu sangat membuat dadaku terasa sesak jika membayangkannya Edhi!” Jawab Dita dengan jujurnya.


“Bodoh!” Umpat Edhi masih dengan tidak menatap Dita sama sekali.


Dita yang sudah sangat paham sikap dan sifat pujaan hatinya itu langsung memeluk Edhi dari belakang. Saat itu juga jantung Edhi berdetak lebih kencang.


“Kebodohan apa lagi ini Dita?!” Desis Edhi, namun Dita sama sekali tidak melepas pelukannya dan Edhi pun membiarkannya melakukan hal itu.


“Apa kamu sudah mencintaiku...Edhi?” Tanya Dita kembali mendebarkan jantung Edhi.


“Cih! Siapa yang sudah jatuh cinta kepadamu?” Edhi melepaskan tangan Dita yang melingkar erat di pinggang dan perutnya.


Edhi membalikkan badannya dan menatap Dita dengan tajamnya.


“Kamu mau membuatku mati jantungan ya?! Hentikan perbuatan dan pertanyaan bodoh itu lagi Dita!” Seru Edhi langsung melangkah pergi dari Dita.


“Hai, mana boleh ada ajudan yang sakit jantung?! Itu debaran cinta Edhi...jangan bohongi dirimu lagi, kamu itu sudah mencintaiku!” Teriak Dita kembali membuat jantung Edhi berdetak lebih kencang lagi.


^^^Persetan dengan perasaan cinta itu. Kamu terlalu naif Dita. Edhi ^^^


Edhi tetap melangkah pergi, meninggalkan Dita yang terpaku diam menatap punggung pujaan hatinya itu.


^^^Jika kamu tidak mencintaku, kenapa semalam kamu menciumku?, sampai kapan pun aku tidak akan berhenti mengucapkan perasaan ini kepadamu, dan aku akan terus berusaha membuat mu mengakui perasaan mu kepadaku juga, suatu saat nanti. Dita ^^^

__ADS_1


Dita pun membalikkan badannya, membiarkan Edhi pergi dan menghilang dari pandangannya. Dia pun berjalan ke arah sungai dan melihat bayangannya sendiri dari aliran sungai tersebut. Dita memegang wajahnya dan juga rambut pendeknya yang agak kriwel.


^^^Aku akan jadi wanita seutuhnya untukmu Edhi. Dita ^^^


__ADS_2