
Perlahan Dita membuka kedua matanya yang masih terasa berat, pandangannya kabur belum dapat melihat semuanya dengan jelas, Dita memutuskan memejamkan kedua matanya lagi sambil mendengarkan cerita dari seseorang yang suaranya sangat dia kenali.
“Kamu pasti bahagia mendengarnya Dit, dengan hasil kerja sama yang baik antara pihak kepolisian negara kita dan negara B, kita sudah berhasil menumpaskan black line sampai ke akar-akarnya.” Ucap Edhi sambil menggenggam telapak tangan kiri Dita dengan kedua tangannya. Edhi mengatakan itu sambil menciumi tangan wanita yang sangat dicintainya itu hingga tidak sadar kedua mata Dita mulai bergerak.
“Bangunlah sayang, jika kamu terus seperti ini pasti puterimu akan sangat sedih sekali melihatnya.” Ucapan Edhi kali ini langsung membuat jantung Dita berdegup lebih kencang, Dita kembali teringat kenangan terakhirnya bersama dengan sang puteri.
Saat itu kejadiannya sangat cepat sekali, baru saja berhasil membanting setir untuk menghindarkan jembatan tol laut yang tiba-tiba saja runtuh, Sebuah truck besar menabrak mobil mereka hingga terjatuh keatas laut. Dita masih mendengar dengan jelas suara teriakan puterinya ketika mobil itu membentur air laut dengan keras, dan teriakan itu memudar ketika mobil itu masuk dengan cepat kedalam lautan.
“Puteri....puteri...” Panggil Dita parau dengan kedua mata yang masih terpejam.
“Dita, kamu sudah bangun?” Edhi langsung bangun dan menatap wajah Dita lebih tajam lagi.
Dita pun membuka kedua matanya, dilihatnya masih samar wajah Edhi dihadapannya. Dia kembali memejamkan matanya lagi, lalu kembali membukanya hingga dapat melihat sekeliling ruangan ICU itu dengan jelas.
“Puteri....” Panggil Dita lagi.
“Kamu tunggu sini ya!” Pinta Edhi, pria itu langsung berlari keluar ruangan dengan wajah yang sangat ceria.
^^^Puteri, kamu baik-baik sajakan? Puteri...pasti Edhi memanggil puteri Dionne, dia pasti mau mengabari puteri Dionne karena aku sudah bangun dari tidurku, kenapa aku bisa jadi selemah ini. Dita ^^^
Tidak lama pintu ruangan itu pun terbuka, Dita melihat kedatangan Edhi bersama dengan seorang dokter dan dua orang perawat masuk dan segera menghampirinya.
“Dimana puteri Dionne?” Tanya Dita khawatir, dia berusaha mencari sosok puterinya itu dari balik tubuh mereka.
__ADS_1
Dokter dan perawat itu hanya tersenyum kepada Dita, sambil mengecek semua result dari alat-alat penunjang kesehatan Dita diruangan tersebut.
“Semua normal, selamat datang kembali nona Dita. Tetap semangat ya, kami yakin kamu akan segera lekas pulih kembali.” Ucap dokter itu.
“Dimana puteri Dionne?” Ulang Dita dengan pertanyaan yang sama.
Edhi menghampiri Dita sambil memegang telapak tangan kirinya lagi, berusaha menangkan Dita dengan memberikan belaian dirambut Dita yang sudah mulai sedikit lebih panjang.
Selesai memeriksa dan memastikan semua baik-baik saja dokter dan perawat itu pun pamit keluar dari kamar tersebut.
“Edhi, kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku...dimana puteri Dionne?” Tanya Dita keras.
“Puteri Dionne...pute-.” Ucapan Edhi terputus ketika mendengar pintu ruangan mereka ada yang mengetuk dan membukanya dengan pelan. Mereka sama-sama melihat kearah pintu tersebut.
“Syukurlah kamu sudah sadar.” Ucap Yoga.
“Dimana puteri?” Tanya Dita lagi.
Yoga langsung melirik kearah Edhi, mereka pun langsung tertunduk dengan tatapan yang hampa. Membuat perasaan Dita jadi bertambah kalut dengan kegelisahan yang seakan kembali menjerat lehernya hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas.
“Istirahat saja Dita, lain kali kita bicara.” Ucap Yoga kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.
^^^Satu bulan berlalu, Dita pun sudah sadar dari komanya. Kenapa hanya sebuah pertanyaan saja tentangmu aku tidak bisa menjawabnya. Dionne ku sayang, karena pertayaan itu yang selalu kutanyakan setiap detiknya kepada sang pemilik waktu, pertanyaan yang belum juga bisa aku temui jawabannya. Dimana kamu...dimana Dionne ku? Ah...Ya Tuhan. Yoga ^^^
__ADS_1
Pencarian Dionne masih terus dilakukan, Di setiap harinya juga Yoga pasti ikut dalam proses pencarian tersebut, pencarian yang semakin melebar hampir keseluruh lautan yang luas tersebut, juga kesetiap pesisir yang kemungkinan besar akan membawa tubuh Dionne dalam kondisi apapun.
Semua cara sudah dilakukan, namun keberadaan Dionne masih belum juga ditemukan. Walau hanya menyisahkan sedikit harapan Yoga masih sangat yakin, isteri tercinta dan anaknya masih hidup. Itu yang membuat Yoga tetap bertahan dan terus melakukan berbagai upaya dalam mencari mereka.
Black line sudah tumbang, kemarahan raja Sebastian sudah mengguncang dunia hingga membuat gengster tersebut tidak memiliki tempat lagi didunia ini. Walau belum semuanya dapat terungkap termasuk bukti atas keterlibatan Ani Atmodjo hingga membuat wanita itu masih hidup tenang didalam selnya. Juga keberadaan Chyntia yang masih menjadi misteri bagi mereka.
Informasi yang diberikan oleh salah satu anggota black line yang berhasil menjawab pertanyaan polisi adalah Chyntia sudah berhasil pergi keluar negeri bersama dengan pimpinan utama mereka, kesebuah negara yang memang sangat terkenal dengan dunia mafianya, negara I. Namun sampai saat ini keberadaan mereka disana masih belum bisa ditemukan, walaupun kepolisisan bahkan kepala negara I sudah membantu mencari keberadaan mereka.
“Chyntia masih belum bisa ditemukan, entah kenapa gue sangat yakin isteri dan anak gue ada bersamanya.” Ucap Yoga pelan sambil duduk disamping kapten Reza yang sedang melihat laporan dari anak buahnya.
“Kemungkinan besar iya jika puteri Dionne masih hidup.” Ucap kapten Reza membuat Yoga terasa panas ketika mendengarnya.
“Dionne masih hidup! Kenapa lo bilang begitu?!” Bentak Yoga mengejutkan mereka semua yang berada didalam cafe lantai dasar dirumah sakit kota Alpha.
“Iya sorry bro, sorry banget...gue juga sangat berharap isteri lo masih hidup.” Kapten Reza langsung menyadari kesalahannya dalam berucap kepada Yoga.
Zayyan yang melihat dan mendengar ketegangan tadi pun langsung membawakan sebuah cangkir berisi coklat hangat untuk Yoga.
“Diminum dulu bro, hari ini kita akan mulai pembangunan project lintas benua di negara D. Mereka meminta salah satu dari kita kesana untuk menandatangani langsung sebuah dokumen, mau lo apa gue aja yang kesana?” Tanya Zayyan sambil menepuk punggung Yoga berkali-kali.
“Sorry bro, kayanya gue perlu bantuan lo lagi, wakilin gue lagi ya untuk mengurus semuanya. Gue masih ingin bicara dengan Dita dan bertanya kepadanya tentang keadaan Dionne saat itu. Selesai ini, gue janji akan lebih fokus lagi ke project lintas benua ini, karena bagaimanapun project ini project impian terbesarnya Dionne, gue sudah janji dengannya, apapun yang terjadi project ini harus berjalan dengan sempurnah.” Ucap Yoga.
“Pasti bro, dulu lo yang selalu back up pekerjaan gue. Sekarang saatnya gue harus balas budi kebaikan lo selama ini.” Zayyan kembali menepuk punggung Yoga, lalu mereka pun berpelukan.
__ADS_1
“Thanks bro” Ucap Yoga.