Berjuta Taktik Merayu Isteri

Berjuta Taktik Merayu Isteri
Seribu Mainan Lebih Untuk Yodi


__ADS_3

“Selamat datang kembali isteriku dan anakku tercinta.” Ucap Yoga ketika mereka sudah sampai halaman rumah mereka.


Dionne menghirup udara kebebasan yang selama ini sangat dirindukannya itu, sedangkan Yodi langsung memilih turun dari gendongan Yoga, anak balita yang sangat tampan namun imut itu langsung memilih berlarian di halaman rumahnya yang sangat luas itu.


“Ebat, umah papa ede anget...ede anget. Odi uka inggal diini. Kemalin umah ibu dan mama ecil.” Ucap Yodi dengan senangnya.


“Hahaha ini baru satu rumah mama mu sayang sebenarnya.” Yoga mencoba mengejar Yodi, namun Dionne segera menariknya.


“Iyakan saja sayang, tidak usah berkata seperti itu dengan Yodi. Bilang saja ini rumahmu atau rumah kita.” Ucap Dionne sambil tersenyum.


Yoga pun ikut tersenyum dan menarik Dionne dalam pelukannya. Benar-benar Dionne yang sangat berbeda, dulunya Dionne adalah seorang isteri yang selalu membanggakan semua yang dipunya olehnya, bahkan sering meremehkan kemampuan dan yang dimiliki oleh suaminya.


“Papa dan mama pelukan ulu nih aya eleabis, Odi diuekin ulu.” Protes Yodi yang tiba-tiba sudah berada di dekat depan Dionne dan Yoga hingga membuat suami isteri yang masih ingin melepas rindu itu langsung melepaskan pelukannya masing-masing.


“Hahahaha maaf ya, karena kan papa rindu banget sama kalian.” Ucap Yoga sambil menggendong lagi Yodi.


“Papa akan mengantarmu kekamar kebesaranmu sendiri.” Bisik Yoga di telinga Yodi.


“Odi unya amal cendili pa? Becal ya pa.” Tanya Yodi lagi mempertegas.

__ADS_1


“Iya sayang, sangat besar. Kamu pasti suka” Yoga pun langsung membawa putera imut nya itu masuk kedalam rumahnya, diikuti oleh Dionne yang tersenyum puas melihat kedekatan suami dan anaknya itu.


Yoga sudah mempersiapkan kamar yang istimewa untuk Yodi dirumah mereka di tiga tahun yang lalu, bahkan hampir setiap harinya Yoga selalu mempersempatkan diri membelikan mainan untuk Yodi selama tiga tahun itu. Hingga membuat kamar yang di dominan warna biru itu sudah seperti outlete mainan.


“Pa...ini unya Odi cemua?” Tanya Yodi tidak percaya, anak balita itu sangat takjub dengan semua yang ada disana.


“Iya sayang, semua yang ada dirumah ini punya Yodi.” Jawab Yoga sambil menurunkan Yodi kembali.


Yodi pun langsung berlari dan mengecek sekeliling kamar nya, kemudian mulai mengambil mainan-mainan tersebut dan menciuminya satu persatu, memeluknya lalu mulai memainkannya.


“Banyak sekali mainan sayang, sejak kapan kamu mulai menyiapkan ini semua?” Tanya Dionne sambil menggandeng tangan Yoga.


“Ya, maafkan aku ya pasti sudah membuatmu sangat menderita selama ini.” Ucap Dionne.


“Aku yang harusnya minta maaf, karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik sampai kalian menghilang.” Yoga memegang wajah isterinya dengan kedua tangannya.


“Pasti ada hikmah dibalik semua tragedi ini, aku semakin yakin dengan cinta dan ketulusanmu. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuktikan apakah kamu sanggup hidup tanpa seorang wanita ataupun tidak, aku sungguh terharu kamu yang memiliki Anupthapobia bisa melewati semuanya. Ternyata kamu terbukti bukan playboy sejati sebenarnya.” Ucap Dionne.


“Hahaha aku kan memang sudah berubah dari awal, dari seorang playboy sejati menjadi suami sejati yang hanya mencintai isterinya satu dan satu-satunya selamanya. Tidak akan ada satupun wanita yang sanggup menyingkirkan singgasana mu dihati dan pikiranku sayang” Yoga mulai mendekatkan wajahnya ke Dionne.

__ADS_1


“Ciaaatttt, inju papa ulk. Papa nakal....mali kita celang....” Yodi sudah menerjang bokong Yoga dengan mainan berwarna hijau yang cukup besar itu.


“Aduh...ampun, papa nyerah...papa nyerah.” Yoga langsung berbalik badan dan memeluk Yodi. Dionne pun langsung tertawa, mereka harusnya sadar. Sekarang tidak akan bisa dengan semudahnya berpelukan apalagi berciuman dirumah ini. Karena ada jagoan kecil itu yang selalu mengawasi mereka.


“Papa angan enit-enitan ulu ama mama, main ama Odi uga. Cekalang Odi mau mainin cemua mainan ini ama papa, emenin Odi main.” Pinta Yodi.


“Iya siap jagoan papa, mari kita main bersama, ajak mama juga ya...” Yoga pun mulai membuka mainan tersebut satu persatu.


“Iya dong, mama alus itutan main.” Yodi menarik tangan Dionne, mereka pun bermain bersama dan membuka semua mainan yang ada dikamar tersebut, mainan yang tidak akan cukup sehari ini memainkan semuanya. Ada seribu mainan lebih untuk Yodi dikamar itu yang dibeli Yoga.


Yoga yang selama ini sangat takut dengan kesendirian dan tidak memiliki pasangan dapat berusaha melewati malam-malamnya yang sunyi dan penuh kerinduan dengan menyiapkan semuanya. Menata rapi mainan tersebut sambil membayangkan wajah ceria anaknya nanti.


Jika sudah selesai menata mainan dikamar Yodi, Yoga akan kembali kekamarnya dan melanjutkan pekerjaan di Permata Group dan Sun Group milik Dionne. Dia menghandle semua dengan sangat baik dan sempurnah hingga membuat kedua group perusahaan itu semakin berkembang pesat menjadi raksasa di industrinya masing-masing.


Sedangkan Dionne yang memiliki gamophobia dan workaholic juga dapat melewati masa sulitnya selama tiga tahun ini, Rachel benar-benar tidak memberikan ponsel, laptop, televisi atau bahkan radio. Dia benar-benar terkurung dalam sebuah rumah yang sebenarnya dapat dengan mudah baginya kabur dari sana.


Namun bayangan akan ketakutan jika sampai terjadi apa-apa dengan Yodi langsung menundukkan keangkuhannya selama ini. Dionne berusaha sabar dan melatih emosinya selama tiga tahun ini agar bisa bertemu lagi dengan Yodi.


Selama waktu tersebut Yodi diasuh oleh Rachel hingga membuat Yodi memanggil Rachel menjadi ibu, namun ketika Rachel sudah menyerah dengan segala upayanya mendekati Yoga Rachel pun mengembalikan Yodi ke Dionne, dan menceritakan semuanya ke Yodi bahwa anak balita yang sangat mendambakan kasih sayang utuh dari seorang ayah itu juga memiliki ibu kandung yang selama ini bertahan dan berjuang menahan kelainan psikis nya demi anaknya. Rachel jujur kepada Yodi kalau bukan dia ibu sebenarnya, dan menceritakan betapa baik dan sempurnahnya kedua orang tua yang dimiliki anak balita itu.

__ADS_1


Dionne yang sudah terlatih dengan kesabaran dan emosinya selama ini bahkan hampir lupa dengan ambisinya selama ini, dia hampir tidak memperdulikan lagi keinginannya untuk terus bekerja dan mengejar project lintas benuanya. Dionne yang sudah melewati batas antara kematian dan kehidupan sangatlah tipis pun tersadar, bahwa sebesar apapun harta yang dimilikinya tidak akan mampu menandingi besar arti kata keluarga. Buat apa dia miliki semuanya jika harus kehilangan anak pertamanya itu, bahkan dia mampu melawan kerinduan nya untuk berjumpa dengan Yoga demi anaknya. Begitulah kasih sayang yang terbentuk secara alami di hati seorang ibu untuk anaknya.


__ADS_2