
33 Tahun Yang Lalu
“Menikahlah dengan ku, aku sangat mencintaimu...Renatha.” Pinta Sebastian saat itu. Saat Sebastian memaksa masuk kedalam rumah milik Renatha.
Saat itu hujan baru saja turun di kota D. Negara B memang tidak begitu besar, ukurannya tidak lebih luas dari provinsi DKI. Namun rakyat nya hidup sangat terjamin karena perkenomian yang sangat baik di bawah pimpinan raja dan perdana menteri.
“Kamu mencintaiku, sementara kamu sudah menikahi wanita lain, bahkan wanita itu sudah mengandung anakmu bukan? Hahaha itu kah yang dinamakan cinta?” Tanya Renatha dengan tatapan sendu nya.
“Ya, memang benar Naura sudah hamil. Tapi pernikahanku dengan Naura adalah perjodohan wajib yang harus di terima sebagai syarat menjadi raja selanjutnya, aku sama sekali tidak memiliki perasaan dengan Naura. Yang aku cintai hanyalah kamu sayang.” Jawab Sebastian sambil memegang lembut kedua tangan Renatha.
“Tetap saja kamu sudah memiliki ratu didalam hidupmu, walaupun kita menikah, aku tetap lah seorang selir. Hahaha Tian, aku tidak memiliki banyak hati yang dapat menampung banyak cinta di dalamnya seperti kamu. Walaupun aku mencintaimu, tapi aku tidak akan mau berbagi suami dengan wanita lain. Jika dari awal aku tahu kamu adalah seorang pangeran, tidak akan mungkin aku membiarkan hatiku terjatuh dalam lubang pedih cintamu itu!” Seru Renatha lalu beranjak pergi dari Sebastian.
“Jika kamu mau, aku akan membangunkan satu istana khusus untukmu sayang, disana kamu akan menjadi ratu ku satu-satunya. Kamu dan Naura tidak akan tinggal bersama.” Ucap Sebastian lagi menarik tangan Renatha dan membawa nya kedalam pelukan hangatnya.
Belum sempat Renatha mengatakan satu kata pun, Sebastian sudah menempelkan bibir nya ke bibir Renatha. Dia terus menciumi dan melum*t bibir itu dengan sangat rakus hingga hampir sama membuat Renatha kehabisan nafas di buatnya.
“Hentikan! Aku harap ini ciuman terakhir kita, lupakan aku. Selamanya aku tidak akan mau menikah dengan mu!” Seru Renatha sambil mendorong tubuh Sebastian dengan kerasnya.
“Tidak boleh! Kamu itu milikku, selamanya akan menjadi milikku, kita saling mencintai...hanya aku yang boleh menikahimu, dan kamu memang harus menikah dengan ku saja!” Sebastian kembali menarik tangan Renatha.
“Belum jadi raja tapi sudah sangat arogan dan egois sekali. Sudah lah Tian, kembalilah ke Naura mu. Dia akan menjadi ratu mu.” Pekik Renatha dalam pelukan Sebastian kembali.
__ADS_1
“Aku akan melakukan apapun agar kamu mau menikah dengan ku, jika kamu menolaknya aku pastikan semua keluarga mu dan usaha mereka akan hancur sehancurnya.” Ancam Sebastian.
“Hahaha, inikah caramu mencintaiku?” Renatha terus berusaha berontak dari genggaman erat tangan Sebastian.
“Jika dengan cara memaksa seperti ini dapat membuatmu jadi milikku sepenuhnya akan aku lakukan, walaupun dengan cara yang sangat kotor” Bisik Sebastian di telinga Renatha.
“Egois kamu! Aku benci kamu!” Maki Renatha, namun Sebastian malah kembali menciumi bibir dan leher jenjang Renatha.
“Hentikan Tian! Bi adab kamu! Tolong!” Maki Renatha kembali ketika Sebastian sudah berhasil melepas hampir seluruh pakaian yang Renatha gunakan.
“Teriaklah sekeras-kerasnya Renatha, tidak akan ada yang berani masuk kedalam rumah mu tanpa izin dariku. Bahkan orang tuamu sekaligus. Kamu yang memaksaku berbuat keji seperti ini.” Sebastian kini sudah membuka seluruh pakaiannya. Lalu menggendong paksa Renatha dan meletakkannya di atas ranjang tidur milik Renatha.
“Hentikan Tian...” Pinta Renatha sangat memelas. Namun Sebastian sama sekali tidak mendengar rintihan suara di wanita yang sangat tersiksa batin nya itu. Yang di inginkan Sebastian hanya satu, dia harus segera menuntaskan nafsunya dan membuat Renatha menjadi miliknya seutuhnya.
•
•
“Inilah Green Castle, kastil ini aku bangun khusus untukmu, isteriku sayang. Tinggal lah disini, selamanya kamu akan menjadi ratu di kastil ini dan bisa melahirkan serta membesarkan anak-anak kita disini.” Ucap Sebastian sambil mencium lembut perut Renatha yang sudah membesar.
“Terima kasih untuk kastilnya Tian, tapi cukup bagiku membesarkan Dionne saja untukmu.” Renatha menatap kastil indah itu dengan tatapan yang sangat sedih.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak pernah bahagia sedikitpun selama kita menikah? Bukannya kamu sangat mencintaiku?” Tanya Sebastian dengan kesalnya.
“Hahaha entahlah, aku malah tidak percaya lagi apakah cinta itu benar-benar ada.” Jawab Renatha dengan berat.
“Kenapa? Apa karena aku baru saja menikah lagi? Kamu kan tahu, aku menikahi anak perdana menteri untuk kepentingan politik negara kita juga, ini sudah menjadi keharusan juga untukku sayang. Tapi tetap, yang aku cintai hanya kamu seorang.” Ucap Sebastian mencoba meyakinkan Renatha.
“Kamu mau menikah dengan ratusan wanita lagi pun, aku tidak akan peduli. Hahaha aku harap, Dionne tidak merasakan hal yang sama denganku. Lebih baik anak itu tumbuh dengan hati yang keras tanpa rasa cinta.” Renatha tersenyum lebar ketika melihat Dionne kecil sedang berlari riang di tengah taman yang luas di depan kastil tersebut.
“Mana boleh kamu membuat Dionne ku seperti itu, jika itu rencanamu aku akan membawanya paksa ke istana. Biarkan Naura yang mengurusnya saja!” Ucap Sebastian, pria itu langsung berlari menghampiri Dionne.
“Hentikan Tian! Jika kamu sampai membawa Dionne ku pergi, aku akan bunuh diri saat ini juga!” Ancam Renatha sambil menempelkan ujung pisau di leher jenjang nya.
“Bu...huhuhu.” Tangis Dionne ketika melihat sedikiy tetesan darah sudah keluar dari leher Renatha.
“Sudah gila ya kamu?! Lepaskan pisau itu!” Perintah Sebastian.
“Lepaskan Dionne, berjanjilah biarkan kami berdua hidup tenang disini. Jangan ganggu kami lagi.” Pinta Renatha dalam isakan tangisnya.
“Baik, aku akan membiarkan kalian tinggal disini dengan tenang. Buang pisau itu Renatha!” Geram Sebastian sambil menurunkan Dionne dan membiarkan gadis kecil itu berlari dan memeluk Renatha dengan erat.
•
__ADS_1
•
Maafkan aku Renatha, karena ke egoisan ku saat itu sudah memaksamu menjalani pernikahan yang sangat menyakitkan bagimu. Pengaruhmu sangat kuat kepada puteri kita itu, dari mulai Dionne kecil hingga dewasa dia sudah menjadi wanita yang sangat kuat namun berhati keras, aku sempat khawatir dia benar-benar tidak ingin menikah apalagi mencintai pria manapun di dunia ini. Untung saja Tuhan masih mau mengabulkan doa tulus ku untuk puteri kita itu, kamu lihat Renatha, Puteri kita itu sangat bahagia dengan suaminya. Dia sangat mirip dengan mu, jika saja saat itu aku tidak mementingkan kepentingan kerajaan dan berjuang untuk cinta kita, mungkin aku juga akan mendapatkan senyuman ketulusan itu darimu, sama seperti saat Dionne tersenyum dan menatap lembut ke Yoga. Raja Sebastian