Berjuta Taktik Merayu Isteri

Berjuta Taktik Merayu Isteri
Perhatian Yoga


__ADS_3

Lantai dua puluh dua di menara Permata, yang awalnya hanya di khususkan untuk ruang kerja Ani Atmodjo kini sudah di sulap oleh Yoga menjadi ruang meeting, ruang billiard, mini golf, message room, ada juga cafe kopi dan cemilan serta tempat ibadah.


Semua Yoga lakukan agar karyawan-karyawannya dapat bekerja dengan kondusif namun tetap bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing. Bisa memberikan ide-ide segar dan lebih royal kepada perusahaan.


Sedangkan di lantai delapan gedung Sun group perwakilan Indonesia, Dionne tampak sibuk bersama dengan para karyawan nya di ruang meeting. Beberapa karyawan mulai merasa gelisah dengan kriukan perut mereka. Sudah lima jam lebih mereka meeting dan jam istirahat juga hampir saja habis. Namun Dionne masih belum sadar atas kegelisahan para karyawannya. Dia masih asik membahas pekerjaan dan meminta laporan dari mereka.


Tok...tok...tok


Pintu ruang meeting mereka di ketuk oleh tiga orang office boy yang sudah membawakan dua puluh kotak paket makanan sehat beserta minuman dan cemilan lainnya. Dionne sama terkejutnya dengan karyawan lainnya atas kiriman tersebut, dia sendiri lupa waktu istirahat hampir saja habis. Sedangkan dia membuat peraturan tidak ada yang boleh keluar dari ruang kerja lagi diluar jam istirahat selain untuk ke toilet atau ibadah, mereka harus kembali fokus bekerja setelah itu.


“ Siapa yang pesan ini semua?.” Tanya Dionne penasaran. Matanya menatap satu persatu peserta meeting yang ada didalam sana. Namun mereka semua hanya menggelengkan kepala. Sampai ketika seorang office girl membawakan sebuah buket bunga mawar putih untuk Dionne.


“ Maaf bu, ini untuk ibu.” Ucap office girl tersebut sambil menyerahkan buket bunga tersebut.


Dionne pun mengambilnya, lalu membaca surat yang ada di dalam tumpukan bunga canti dan wangi itu.


...Selamat siang sayang...


...Mamam siang dulu ya sayang...


...Miss you always ...


...-Your Handsome Husband-...


Tanpa sadar Dionne memberikan senyuman manisnya ke tulisan dan bunga tersebut. Membuat seluruh karyawan yang ada disana ikut merasakan kebahagiaan atas perhatian yang diberika Yoga kepadanya.


^^^Dari mana si Yosum ini tahu kalau aku sedang meeting hingga dia memberikan makanan ini kepadaku dan seluruh peserta meeting ini. Dita...apakah dari Dita. Dionne^^^


“ Yasudah kalian makan saja dulu. Saya mau kembali keruangan sebentar.” Ucap Dionne sambil berjalan membawa buket bunga tersebut. Di ikuti oleh Nikita salah satu sekretarisnya, Nikita membawa serta makanan dan minuman milik Dionne dan ikut masuk ke ruang kerja Dionne.


“ Letakkan disana saja.” Pinta Dionne kepada Nikita.


“ Baik bu.”


“ Kamu infokan kepada yang lain sipahkan istirahat. Satu jam kedepan kita kembali meeting.”

__ADS_1


“ Baik bu, kalau begitu saya permisi.”


Dionne langsung mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Yoga.


“ Halo sayang...” sapa Yoga terlebih dahulu ketika panggilan tersebut diangkat olehnya.


Namun tiba-tiba saja jantung Dionne berdegup ketika mendengar suara suami nya sendiri. Lidahnya keluh untuk mengatakan terima kasih saja. Hingga akhirnya Dionne memutuskan untuk mengakhiri panggilan tersebut.


Tidak lama ponsel Dionne kini yang bergetar karena panggilan dari Yoga. Entah kenapa karena rasa malu yang sangat kuat kini dirasakannya Dionne malah mematikan ponsel nya dan meletakkan di atas meja. Lalu dia meletakkan juga buket bunga yang dari tadi di peluknya dan mulai membuka makanan dan minuman yang di berikan oleh Yoga.


Baru beberapa suap makan pintu ruangan Dionne kembali di ketuk oleh seseorang.


” Puteri...ini aku Dita.” Ucap Dita


” Masuk.”


Dita segera masuk dan melihat Dionne yang sedang santai menikmati makan siang nya.


“ Puteri baik-baik saja kan?.” Tanya Dita khawatir


” Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Dionne kembali memakan nasi yang sudah dicampurnya dengan capcay dan udang krispy.


“ Tunggu...Yoga menghubungi mu?. Apa kamu juga yang memberitahu kalau aku memang sedang mimpin rapat dan belum makan siang?.” Tanya Dionne.


“ Ya puteri, tadi tuan Yoga hanya bertanya kepadaku puteri sedang apa karena di wa tidak di balas-balas. Aku hanya jawab puteri sedang di ruang rapat. Tapi tadi tuan Yoga menghubungi ku berkali-kali. Memintaku memastikan kondisi puteri karena puteri tidak bisa dihubungi lagi.” Jawab Dita dan Dionne malah tersenyum lebar.


“ Yasudah, kamu sudah makan belum?.” Tanya Dionne lagi.


“ Sudah puteri...tuan Yoga juga mengirimkan makanan untukku. Terima kasih ya puteri.” Jawab Dita.


“ Oke.” Dionne kembali makan dan Dita beranjak pergi darinya.


Belum lama keluar dari ruangan Dionne, Dita melihat Yoga sudah berdiri dihadapannya.


“ Dimana ruangan puteri mu?.” Tanya Yoga penasaran.

__ADS_1


“ Tuan..kan tadi aku sudah balas kalau puteri baik-baik saja.” Ucap Dita.


“ Dimana ruangannya?.” Tanya Yoga lagi.


“ Disana.” Tunjuk Dita.


Yoga pun segera berlari masuk kedalam ruangan Dionne. Para karyawan yang kebetulan berada didekat Dita langsung berbisik satu sama lain.


“ Itu Yoga Atmodjo...suami nya bu Dionne. Sudah tampan perhatian sekali ya. Aku jadi iri.” Ucap salah satu karyawan yang di dengar oleh Dita.


Didalam ruangan Dionne Yoga langsung memghampiri isterinya yang baru saja selesai menikmati hidangan makan siangnya. Dionne melihat Yoga dengan penuh kebingungan dan jadi salah tingkah sendiri.


“ Kamu...kenapa ada disini?.” Tanya Dionne.


“ Kenapa ponsel mu tidak aktif?. Kamu tahu aku khawatir sekali jadi langsung kesini untuk memastikan kamu baik-baik saja.” Jawab Yoga dengan nafas yang masih belum teratur.


“ Kamu dari mana?.” Tanya Dionne lagi ketika Yoga sudah duduk disamping nya lalu mengambil minuman Dionne dan meminumnya. Dionne langsung menelan ludah nya ketika Yoga meminum air miliknya.


“ Ah...aku tadi lagi meeting juga dengan team direksi lain di kantor.” Jawab Yoga setelah dia merasa lega dengan air yang baru saja diminumnya.


“ Dari kantor katamu?.” Dionne tidak percaya. Jarak kantor nya dengan Yoga cukup jauh. Biasanya membutuhkan waktu minimal tiga puluh menit untuk sampai itupun dalam kondisi jalan yang lancar. Dionne melihat jam tangan miliknya lalu menghitung jumlah menit semenjak dia menutup panggilan Yoga dan mematikan ponselnya hingga saat ini.


“ Dalam waktu lima belas menit kamu sampai kesini?. Naik apa...” Lanjut Dionne lagi. Walaupun mereka memiliki mobil sport tetap saja tidak akan secepat itu sampai di karenakan kondisi jalan jakarta yang cukup macet.


“ Lima lima menit menunggu kapten Ivan datang, delapan menit perjalanan udara menggunakan helikopter dan dua menit mencari ruanganmu. Masuk akal kan...” Ucap Yoga sambil menatap mesrah isterinya.


“ Helikopter ya...pantas saja. Ta....” Ucapan Dionne langsung terputus ketika Yoga memeluknya.


“ Kamu jangan mematikan telepon lagi ya. Aku tidak ingin ada apa-apa dengan mu. Sekesal-kesalnya kamu kepadaku jangan pernah mematikan ponselmu agar aku tidak bisa hubungi. Kamu marahi aku saja atau kamu maki. Maaf Dionne...apa kamu marah karena aku sudah memberikan makanan kepadamu dan karyawanmu yang lainnya?.” Ucap Yoga membuat debaran jantung Dionne kembali berdegup disertai desiran yang membuatnya merinding karena udara hangat yang yang terhembus dari mulut Yoga di dekat lehar Dionne.


“ Tidak apa Yoga...tadi aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja kepadamu. Aku tidak marah kok.” Ucap Dionne sambil mendorong Yoga dari tubuhnya.


“ Lalu kenapa kamu malah mematikan ponselmu?.” Tanya Yoga lagi.


“ Itu karena...karena aku malu padamu.” Jawab Dionne, dia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Yoga langsung merasa lega, lalu tersenyum lebar.


“ Haha kamu bisa malu juga rupanya.” Ucap Yoga sambil memegang lembut kedua tangan Dionne dan melepasnya dari wajahnya. Lalu perlahan Yoga mendekati Dionne kemudian mengecup keningnya. Saat itu juga Dionne merasakan ketenangan di tengah degupan jantung nya yang masih berdendang.


__ADS_2