
“ Kamu dan ajudan mu itu sama saja gila nya!. Jika terjadi sesuatu pada Dita aku akan menuntut kalian seberat-berat nya dan selanjutnya tidak akan membiarkan kalian bisa hidup dengan tenang lagi!!!” Ancam Dionne ke Yoga di atas kursi roda yang sedang di dorong oleh seorang perawat.
“ Hahahaha Dita mu itu gadis yang kuat, dia akan baik-baik saja. Edhi tidak mungkin membuatnya sekarat.” Ucap Yoga yang berjalan tepat di samping kursi roda Dionne.
“ Kamu ini, masih bisa-bisa nya tertawa?!.” Mata Dionne melotot tajam ke arah mata suami nya itu. Yoga langsung mengernyitkan kedua alis nya dan memberikan senyuman aneh nya kepada Dionne.
“ Rasanya ingin langsung memanggil kepolisian negara B untuk membawa kalian masuk kedalam penjara bawah tanah tingkat 10.” Ucap Dionne lagi membuat hati Yoga malah tambah tergelitik lagi.
Sesampainya di IGD dokter Arifin langsung menghampiri Yoga dan Dionne.
“ Pagi dokter, Bagaimana keadaan Dita ?.” Tanya Yoga.
“ Nona Dita sudah sadar, kadar gula nya sudah kembali normal dan dia sudah pulih kembali.” Jawab dokter Arifin.
“ Oh syukurlah...akhirnya aku bisa lepas dari penjara bawah tanah tingkat 10.” Ucap Yoga sambil melirik ke arah Dionne yang masih melipat wajah nya dengan kekesalan.
“ Aku tetap akan menuntut kalian! Dimana Dita?!.” Tanya Dionne mengejutkan dokter Arifin dan beberapa perawat jaga yang ada disana.
Perawat segera mendorong kursi roda Dionne ke arah ranjang Dita, disana Edhi terlihat sedang menunggu dengan setia di samping Dita. Mereka terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka ataupun memar di Edhi ataupun Dita.
“ Kamu apakan Dita ku?!.” Tanya Dionne kesal kepada Edhi.
“ Puteri, maaf jadi merepotkan mu. Ini bukan salah dia. Aku yang sudah ceroboh karena menabrak perawat.” Ucap Dita membuat Edhi dan Yoga terkejut mendengarnya.
Berterima kasih lah kepadaku Edhi. Dita
“ Benarkah?, bukan ulah dia?.” Tanya Dionne lagi memastikan, matanya melirik ke arah Edhi.
Ini memang karena kecerobohan ajudan bodoh mu itu puteri. Dia sendiri yang menabrak perawat tadi. Edhi
__ADS_1
“ Bukan puteri, ini murni kecerobohan diriku sendiri.” Jawab Dita dengan bangga nya.
“ Oke, kamu sudah tidak apa-apakan Dita, lain kali berhati-hati lah. Kalau kamu bisa seceroboh itu bagaimana kamu bisa menjaga isteriku dengan baik kedepannya.” Ucap Yoga sambil menepuk punggung Edhi.
“ Dita selalu bisa menjaga ku dengan baik, dia adalah ajudan terhebat yang aku miliki.” Dionne kembali menatap Yoga dengan tatapan tajam yang siap mencabik-cabik wajah Yoga.
“ Iya-iya...Dita mu tidak akan tertandingi. Karena kamu juga belum pulih, sebaiknya kita balik ke kamar perawatan lagi. Edhi akan membantu menemani Dita sekarang.” Ucap Yoga.
“ Tidak mau, aku mau pulang hari ini juga. Aku tidak mau di rawat lagi disini!.” Pinta Dionne.
“ Tapi kamu kan masih belum pulih.” Protes Yoga.
“ Aku mau di rawat di rumah saja.” Pinta Dionne lagi.
“ Oke, apapun kemauanmu. Asalkan hatimu bisa kembali tenang dan tidak stress lagi. Kita pulang sekarang. Aku akan meminta beberapa perawat dan dokter merawatmu nanti di rumah.” Ucap Yoga.
**
“ Kalian tunggu saja disini.” Pinta Yoga ketika mereka sampai depan lobby utama rumah sakit Permata.
“ Aku akan pulang bersama Dita.” Ucap Dionne.
“ Tidak bisa, Dita masih belum pulih banget. Biarkan Edhi yang mengantar Dita dan kamu bersamaku di dalam super car mewah mu itu.” Ucap Yoga, mereka sama-sama memiliki mobil sport yang hanya bisa menampung dua orang saja.
Dionne melihat ajudan tomboy nya itu memang masih terlihat sedikit pucat. Di sisi lain Dita malah sedang merasakan kesenangan karena akan diantar oleh Edhi.
“ Baiklah, kali ini saja aku membiarkan mu membawa mobil ku.” Ucap Dionne.
Yoga tersenyum sambil membelai lembut rambut Dionne.
__ADS_1
“ Tunggu ya sayang.” Pinta Yoga sambil memberikan senyuman termanisnya kepada Dionne. Saat itu juga Dionne merasakan ada getaran aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Senyumannya itu menyeramkan sekali. Sampai-sampai membuat bulu kudukku berdiri semua. Kenapa aku jadi takut kepadanya. Dionne
Yoga dan Edhi berjalan ke masing-masing supercar yang terparkir gagah di parkiran vip. Masing-masing membawa satu super car dengan penumpang cantik nya.
Dionne masih tanpa ekspresi memandang kedepan jalan. Sedikitpun tidak melihat apalagi melirik kearah Yoga. Otaknya sedang sibuk memikirkan ide apa lagi yang akan dituangkannya kedalam project lintas benua.
Sedangkan Yoga berkali-kali melirik ke arah Dionne. Sambil senyum-senyum sendiri memikirkan ide apa lagi yang akan di lakukannya untuk meluluhkan hati isteri cantiknya itu.
Selama ini Yoga dengan mudah bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan. Sebelumnya dia pernah mencoba mendekati Nayla dan hampir saja memaksa Nayla menikah dengannya. Walaupun Yoga tahu di hati Nayla hanya ada Zayyan. Namun Nayla masih bisa di rayunya, walau sekedar memberikan pelukan dan ciuman ringan saja.
Namun ternyata saat ini mendekati Dionne jauh lebih sulit dari yang dia bayangkan, isteri nya itu bagaikan gunung es yang sangat kokoh. Yang ada di dalam pikiran Dionne hanya kerja dan kerja saja. Dionne sendiri belum pernah merasakan jatuh cinta. Karena dia sendiri yang sudah membangun benteng kokoh di dalam hatinya agar tidak dapat merasakan perasaan itu.
Sebenarnya dari awal ketemu Yoga sudah tertarik dengan Dionne. Namun saat itu dia masih ragu apakah akan mengejar Dionne atau Nayla.
Oleh sebab itu, ketika Zayyan meminta bantuannya untuk menggantikan nya menikahi Dionne, Yoga seperti mendapatkan durian runtuh yang disukainya namun juga dapat melukainya.
Di dalam mobil lainnya Edhi dan Dita juga sedang sibuk memikirkan pikirannya masing-masing.
Dita semakin berfikir Edhi sangat mengagumkan. Dia terus melirik ke arah Edhi yang terlihat semakin cool saja ketika sedang fokus menyetir.
“ Hei, apa otakmu sudah sepenuhnya sadar?.” Tanya Edhi mengejutkan Dita.
“ Maksudmu apa?.” Tanya Dita balik.
“ Kenapa kamu memandangkau sambil mengeces begitu?!.” Tanya Edhi lagi membuat Dita langsung memukul mulutnya sendiri.
“ Hahaha, mungkin efek samping suntikan tadi.” Ucap Dita sambil mengelap mulutnya berkali-kali.
__ADS_1
Bodoh...bodoh...bodoh!!!. Edhi pasti sedang jijik melihatku sekarang. Dita