
Yoga memeluk Dionne dengan erat dalam tidurnya. Bahkan ketika malam sudah pergi bergantikan pagi yang cerah, dan dia terbangun lalu mengecup lembut kening dan bibir isterinya itu.
Pelan-pelan Yoga turun dari atas ranjang, lalu menyelimuti Dionne kembali. Yoga akan melakukan aktifitas rutin seperti biasanya. Menyiapkan sarapan untuk Dionne dan juga dirinya sendiri. Karena semenjak hamil, Dionne sangat sulit menerima makanan dari manapun kecuali Yoga yang memasaknya. Walaupun di usia kehamilannya yang sekarang Dionne sudah tidak merasa mual lagi dan sudah bisa menerima makanan lain masuk, namun Yoga masih tetap masak untuk isterinya itu.
Selesai menunaikan hajatnya di kamar mandi, Yoga berjalan dan menutup pintu kamar mereka dengan pelan agar Dionne tidak terbangun. Dia pun melangkah penuh semangat menuju dapur. Namun langkah nya terhenti ketika melihat meja makan sudah tersedia banyak sekali makanan yang juga tercium sangat harum sekali. Menggugah selera siapapun yang menciumnya, apalagi di perut kosong Yoga.
^^^Tidak mungkin mba Ida apalagi Dita yang memasaknya. Yoga ^^^
“ Selamat pagi tuan Yoga.” Sapa Rachel yang keluar dari dapur dengan segelas susu hangat di tangannya.
^^^Sial, aku hampir lupa ada wanita ini disini sekarang. Yoga ^^^
Yoga tidak menjawab sapaan Rachel, dia tetap melangkah ke arah dapur hendak menyiapkan sarapan untuk Dionne.
“ Tuan Yoga mau apa?, biar aku siapkan semuanya.” Tanya Rachel langsung meletakkan susu yang sedang di bawanya ke atas meja lalu mengejar langkah Yoga.
“ Apa perlu aku kasih laporan kepadamu aku mau berbuat apa?.” Tanya Yoga dengan sangat dinginnya kepada Rachel.
“ Aku sudah membuatkan sarapan untuk puteri Dionne dan juga tuan Yoga. Bahkan sarapan tersebut juga cukup untuk di makan semua penghuni di rumah ini. Kata mba Ida, selama ini tuan Yoga yang selalu masakkan. Mulai sekarang, selama ada aku di rumah ini, tuan Yoga tidak perlu melakukan apapun lagi. Tuan Yoga cukup fokus berkerja, lalu pulang kerumah dengan tenang dan melepas penat. Aku akan melayani semua kebutuhan tuan Yoga.” Ucap Rachel panjang kali lebar yang malah membuat telinga Yoga serasa berdenging.
“ Sudah diam, berisik!! Kamu tidak perlu repot-repot melayaniku, aku sudah punya Dionne ku, dia isteri terbaik ku.” Protes Yoga sambil mengambil dua buah telur dari dalam kulkas.
__ADS_1
“ Tuan, anggap saja ini sebagai bentuk rasa terima kasih ku terhadap kebaikan kalian. Biarkan aku melakukan semua pekerjaan yang tidak bisa isterimu lakukan, dia memang seorang puteri yang terbiasa di layani. Tapi tuan kan juga seorang suami yang seharusnya mendapatkan pelayanan dari isterinya.” Ucap Rachel lagi sambil merebut telur tersebut dari tangan Yoga. Bahkan dia sengaja menyentuh tangan Yoga lebih lama ketika mengambil telur tersebut.
“ Hahaha aku rasa justru kamu itu tidak memiliki rasa berterima kasih sama sekali. Isteri ku sudah berbaik hati membawamu tinggal disini malah kamu nyinyirin seperti itu.” Desis Yoga, dia pun langsung berjalan meninggalkan dapur tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Dionne ada di balik sekat yang memisahkan dapur dan ruang makan mereka.
“ Sayang, kamu sudah bangun?. Maaf...aku belum sempat membuatkan sarapan untukmu. Sebentar ya, biar aku ma-.”
“ Selamat pagi puteri Dionne. Mohon maaf, jangan salah paham. Tadi aku dan tuan Yoga hanya berdiskusi sebentar di dapur untuk menyiapkan sarapan untukmu.” Sapa Rachel memotong ucapan Yoga.
^^^Sial, wanita ini...buat apa dia bicara seperti itu. Seolah jadi terkesan aku dan dia habis melalukan sesuatu tadi di dapur. Yoga ^^^
“ Iya, tidak usah di jelaskan lagi. Aku sudah ada disini dari tadi dan mendengar dengan baik pembicaraan kalian kok.” Ucap Dionne lalu beranjak pergi untuk kembali masuk kedalam kamarnya.
Yoga mengikuti langkah Dionne sampai mereka masuk kedalam kamar lagi.
Dionne langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Dan menatap lampu kristal yang menempel cantik di atap kamar nya.
“ Sayang, kan aku sudah bilang. Jangan biarkan wanita itu tinggal di rumah ini. Jadi seperti ini kan kita sendiri yang jadi nya tidak nyaman.” Ucap Yoga sambil memijit kedua kaki Dionne. Saat itu air mata Dionne pun mengalir di kedua pipinya.
“ Sayang, kenapa menangis. Aku akan mengusir wanita itu dan membuang nya jauh-jauh dari kehidupan kita. Maafkan aku...” Yoga langsung mengeringkan air mata di wajah isterinya dan memeluknya.
“ Semua yang di katakan Rachel itu benar. Aku memang terbiasa di layani sebagai puteri. Jadi tidak tahu bagaimana caranya harus melayani suami sendiri. Jangankan memasak untukmu, mengambilkan mu minum air putih saja aku tidak pernah melakukannya.” Isak Dionne.
__ADS_1
“ Aku tidak pernah memintamu melayaniku dengan cara itu sayang. Cukup kamu bisa membalas cintaku saja itu sudah cukup bagiku. Aku membuatkanmu makanan memang karena aku suka, apalagi waktu itu kamu hanya ingin makan masakan dariku saja. Sama sekali tidak pernah merasa terbebani sedikitpun. Justru aku merasa sangat bangga ketika kamu memakan semua masakanku. Jangan dengarkan wanita buluk itu, aku tidak akan pernah terpengaruh olehnya, aku hanya akan mencintaimu dan menikah denganmu saja seumur hidupku.” Ucap Yoga, dia melepaskan pelukannya lalu memegang dengan lembut wajah Dionne yang masih terlihat sedih oleh ucapannya sendiri.
“ Maaf, semenjak hamil aku jadi lebih gampang menangis hahaha. Sebenarnya aku menginginkan Rachel tinggal bersama kita selain karena rasa bersalah dan iba kepadanya juga karena aku percaya kepada cintamu kepadaku.” Ucap Dionne sambil mengecup cepat bibir Yoga yang langsung terasa panas seketika di wajah dan seluruh tubuhnya.
“ Terima kasih sayang sudah percaya kepadaku, tapi wanita itu tidak seharusnya ada di rumah kita. Dia bisa tinggal di tempat lain kan. Aku bisa membelikan rumah dan memberikan nya modal untuk menjalankan kehidupannya selanjutnya.” Ucap Yoga.
“ Tidak sayang, kamu tidak lupa kan. Bagaimana pun ketika kalian sudah melakukan perbuatan itu di pulau C. Rachel mengatakan baru pertama kali melakukannya denganmu. Kamu sudah mengambil keperawanannya. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu atas kejadian itu. Tapi jika sampai Rachel benar-benar hamil. Aku pun harus yakin itu adalah anakmu, kamu paham kan...”
“ Maksud mu?.”
“ Aku sudah melihat dari awal saat dia menatapmu, Rachel sangat terobsesi kepadamu. Oleh sebab itu aku mengajaknya ke rumah ini. Pertama untuk lebih meyakinkan dia akan hamil atau tidak. Kedua, jika memang hamil aku ingin pastikan anak itu benar-benar anakmu bukan hasil hubungannya dengan pria lain, bisa saja kan karena terlalu ingin memilikimu dia lalu berhubungan dengan pria lain sampai hamil di luar sana. mungkin, kamu akan menilai aku sangat berlebihan. Tapi itu semua aku lakukan untuk menjagamu...menjaga Yoga ku agar tidak di manfaatkan oleh wanita lain.” Ucap Dionne, dengan senyuman manis nya yang menambah hati Yoga berbunga-bunga.
“ Dionne, kamu tidak perlu menjagaku. Dari awal saat kita menikah, aku sudah terlebih dahulu menutup pintu hatiku untuk wanita lainnya. Aku sudah terlalu lelah bermain dengan mereka, dan aku hanya ingin menikmati sisa umurku dengan mencintaimu saja.” Yoga mengecup bibir Dionne, lalu melum*t nya dengan lembut.
“ Ah...Yoga, sudah hentikan...Ah...aku lapar.” Ucap Dionne ketika Yoga semakin liar menjelajahi leher jenjang Dionne dan mulai turun ke bagian dadanya.
“ Astaga, maafkan aku ya. Pasti anak kita juga lapar. Kalau begitu, kita cari makan di luar saja ya. Sambil jalan-jalan menikmati pagi yang cerah ini.” Ucap Yoga langsung menghentikan serangannya.
“ Tapi aku belum mandi.” Ucap Dionne ragu.
“ Kamu tetap cantik dan wangi kok, selesai jalan pagi dan sarapan. Baru kita mandi bareng. Nanti aku pijitkan kamu kembali dengan plus plus yang lebih menarik dari sebelum-sebelumnya. Bagaimana?.” Tawar Yoga membuat wajah Dionne kembali memerah.
__ADS_1