
“Hentikan!!!” Teriak Dionne histeris. Dita pun langsung mengambil ponsel Dionne tersebut dari tangannya.
“Siapa kamu, dan apa maumu?!” Tanya Dita mengambil alih panggilan video call tersebut. Dita sambil menyalakan sistem tracking lokasi si penelepon yang ada di ponselnya Yoga.
Jantung Dita langsung berdesir ketika melihat si penelepon sedang berada di sekitaran Menara Permata. Sama persis posisi nya dengan yang ada di layar ponselnya kini.
“Sebenarnya aku mau bicara baik-baik dengan puteri mu. Bagaimana jika kita bekerja sama saja biar sama-sama enak dan nyaman? Mungkin jika mau, aku akan meminta para penembak jitu itu menjaga tangannya dan membiarkan Yoga tetap hidup?” Tanya si penelepon wanita tersebut.
Dionne langsung mengambil ponselnya dari tangan Dita.
“Apa yang kamu mau?!” Tegas Dionne.
“Temui aku di negara suami mu ini, tapi dikota Badak nya. Jarak dari negara mu ke kota Badak hanya memakan waktu dua jam saja kan? Pesawat kalian akan mendarat di kota Alpa dan kalian akan melewati jembatan harapan untuk ke kota Badak. Dua jam empat puluh lima menit dari sekarang, aku tunggu. Lewat dari itu, atau jika sampai kalian membocorkan rencana kita kepada siapapun aku pastikan, kepala suami nakal mu itu akan pecah saat itu juga. Ingat puteri dan kamu ajudan jelek. Nomer ponsel kalian sudah berhasil kami retas. Hahaha jika kalian tidak percaya coba cek isi pesan dan riwayat panggilan kalian. Pasti ada yang terkirim ke nomer lain padahal kalian tidak pernah mengirimnya. Oleh sebab itu sedikitpun pesan atau panggilan yang kalian tujukan untuk menyelamatkan Yoga, di detik yang sama kamu akan kehilangan suami mu itu untuk selamanya. Oke puteri, aku akan segera jalan ke kota Badak juga sekarang, sampai berjumpa disana ya.” Ancam wanita itu membuat tenaga Dionne semakin melemah.
“Baiklah, tunggu aku di jembatan harapan. Kami akan segera berangkat saat ini juga!“ Dionne pun menutup panggilan tersebut.
“Dita, hubungi pihak bandara. Urgent kita harus ke kota Alpa sekarang juga. Siapkan pesawatnya!” Perintah Dionne.
“Tapi puteri, aku takut ini hanyalah jebakkan.” Protes Dita.
“Apapun itu, asalkan bisa menyelamatkan nyawa suamiku. Aku harus lakukannya, karena jika sampai terjadi apa-apa dengan Yoga, buat apa lagi aku hidup.” Ucap Dionne dengan tetesan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
“Lekas jalankan Dita! Ini perintah!” Ucap Dionne lagi.
“Baik puteri.” Dita pun lekas menghubungi pihak bandara untuk mengurus perjalanan antar negara itu.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu, pesawat pun sudah siap untuk terbang. Dita memberikan selembar catatan kepada pihak keamanan bandara yang berada disana lalu Dita menuntun Dionne pelan-pelan menaiki pesawat boing pribadi tersebut. Tidak lama pesawat pun lepas landas menuju kota Alpa.
^^^Yoga...kamu akan selamat sayang, dulu buatku pekerjaan adalah segalanya. Tapi saat ini semua tidak penting jika sampai tidak ada kamu didalam kehidupanku. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu kepadamu. Dionne^^^
Dionne masih berusaha menenangkan hati nya yang sangat gelisah. Bayi yang berada dalam rahimnya pun dapat merasakan kesedihan yang saat ini sedang dirasakan ibunya. Bayi itu terus-terusan bergerak, mungkin juga karena guncangan pesawat yang mereka naiki saat ini. Membuat perut Dionne agak sedikit kram, namun dia masih dapat menahannya dan berusaha menenangkan bayinya dengan cara menenangkan dirinya sendiri.
“Puteri, bagaimana keadaanmu?” Tanya Dita khawatir.
“Aku baik-baik saja Dita.” Jawab Dionne dengan pelan. Dia pun berusaha memejamkan kedua matanya untuk mencoba lebih tenang lagi.
^^^Aku tidak pernah menyangka, puteri akan bisa seperti ini dengan tuan Yoga. Cinta mereka benar-benat kuat. Dita ^^^
Dua jam pun berlalu, sesampainya di bandara kota Alpa. Dionne dan Dita segera menaiki kendaraan yang sudah dipesan Dita sebelumnya menuju jembatan harapan.
Jembatan harapan merupakan jembatan yang sangat tinggi dan luas karena berada di atas lautan yang memisahkan kota Alpa dengan kota Badak. Sedangkan perjalanan dari bandara kota Alpa ke jembatan harapan adalah lima belas menit.
“Setelah kalian berhasil melewati jembatan harapan, aku akan beritahu posisi ku ada dimana.” Jawab wanita itu langsung memutuskan panggilannya.
“Ini pasti jebakan puteri.” Ucap Dita sambil di kursi kemudinya.
“Jangan hubungi Yoga atau Edhi dulu, sampai kita benar-benar sampai ke kota Badak.” Pinta Dionne walau dihatinya juga kini meragu, hanya saja ketakutan atas kehilangan Yoga jauh lebih kuat dibanding rasa keraguan yang ada dihatinya.
“Astaga, puteri!!!” Teriak Dita ketika dia melihat dengan jelas sebuah truk yang sangat besar sedang berjalan kencang ke arah mobil mereka dari arah yang berlawanan. Dita segera menyalahkan alarm bahaya di ponselnya dan membanting setir nya ke kanan untuk menghindari truck tesebut.
“Maaf puteri.” Ucap Dita ketika melihat Dionne sedang meringis sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
“Tidak apa Dita, aku yang minta maaf sudah membawa kalian kesini.” Dionne mencoba kembali menenangkan kembali dirinya sendiri.
Dita pun melanjutkan lagi kemudinya. Karena dibelakang mereka sudah ada mobil lagi dan mobil tersebut langsung menyalakan klakson.
“Kita kembali saja puteri.” Saran Dita.
“Iya, kita kembali.” Dionne setuju.
Namun saat itu juga jalanan yang ada didepan mereka meledak persis di depan mobil mereka. Hingga membuat jembatan itu terbelah menjadi dua. Lagi-lagi Dita membanting setir nya hingga tidak terkena ledakkan tersebut.
Mobil mereka kini dalam posisi menyamping di dekat jembatan yang sudah terbelah itu.
“Puteri....” Panggil Dita ketika dia melihat lagi-lagi ada sebuah truck besar yang menghampiri mobil mereka dengan kecepatan tinggi.
Dionne pun hanya mampu memejamkan kedua matanya lagi. Dia menutup rapat-rapat mulutnya agar tidak berteriak, lalu memeluk perutnya sendiri dengan erat.
Belum sempat Dita menginjak gas mobilnya lagi untuk mundur, truck tersebut sudah menabrak belakang mobil mereka hingga membuat mobil tersebut oleng dan jatuh kedalam lautan.
^^^Yoga...Maafkan aku. Dionne ^^^
•••
Sementara di ujung jembatan harapan kota Badak Chyntia langsung tertawa lepas. Saat ini dia bersama dengan anggota black line lainnya yang sudah berhasil menjalankan aksinya menyaksikan meledaknya jembatan yang kokoh itu hingga membuat mobil Dita dan Dionne terjatuh dari atas sana dan kini mobil tersebut sudah menghilang di telan laut yang luas.
“Permainan yang menarik bukan? Cepat ambil gambar-gambar mobil yang malang itu. Gambar itu yang akan membuat kita jadi semakin kaya raya lagi. Hahahaha selamat tinggal puteri. Maaf sudah merepotkanmu.” Ucap Chyntia.
__ADS_1
“Wajah baru, uang banyak dan karier baru hahahaha indah nya dunia ini. Sementara aku yakin, si pria playboy itu akan segera menghabisi hidupnya sendiri tanpa campur tangan kita lagi.” Lanjut Chyntia dengan tawa yang kembali terdengar nyaring.