
3 Tahun Kemudian...
Yoga langsung berlari menghampiri Senja, anak pertama dari pernikahan Zayyan dan Nayla. balita itu sedang berlari mengejar bolanya yang mengarah ke kolam renang.
“ Maacih om oga...” Ucap Senja. Dan Yoga pun langsung memeluk Senja dengan erat. Sambil membelai lembut rambut nya Senja. Dan tanpa disadari air mata nya menetes di atas kedua pipinya.
“ Sabar bro...” Ucap Carlos sambil menepuk punggung Yoga berkali-kali.
“ Om oga kok dah ede aci angis? Nja aja aci ayi nda angis.” (Om Yoga kok sudah gede masih nangis?. Senja saja masih bayi tidak nangis) Ucap Senja sambil menghapus air mata di pipinya Yoga.
“ Terima kasih keponakan om yang paling cantik.” Yoga mengecup kening Senja.
Hari ini ada acara mitoni kehamilan Nayla yang kedua. Yoga selalu membayangkan rupa puteranya, jika anak itu masih hidup mungkin saja saat ini sedang berlari-larian dengan Senja disana.
Tiga tahun sudah berlalu, namun Dionne dan anaknya belum juga bisa ditemukan keberadaannya. Mereka menghilang begitu saja tanpa jejak.
Selesai menghadiri acara mitoni Nayla dan Zayyan, Yoga pamit untuk kembali ke menara Permata bersama dengan Edhi yang masih setia menemaninya.
“Edhi, tolong siapkan helikopter. Aku ingin mengecek sekali lagi project lintas benua kita.” Pinta Yoga, Edhi pun segera menuruti kemauan majikannya itu.
__ADS_1
Baru saja seminggu yang lalu Yoga bersama dengan raja Sebastian dan beberapa kepala negara lainnya meresmikan project besar tersebut. Project impian Dionne yang sudah direalisasikannya dengan sangat sempurnah.
Sesampainya di menara Permata Yoga dan Edhi langsung menuju Helipad, disana sudah siap sebuah helikopter yang akan membawanya mengelilingi project lintas benua walau hanya yang ada di negaranya saja.
Yoga melihat jembatan besar yang menghubungi antar negara itu dengan senyuman penuh kepuasan. Melihat stasiun-stasiun kereta bawah tanah dan atas laut yang sangat mewah dan elegan dengan desain buatan Dionne sendiri.
^^^Kamu lihat itu sayang, aku sudah menepati janjiku. Aku harap kamu bahagia melihatnya, dari manapun dan dimanapun kini kamu berada sayang, inilah project yang kamu impikan selama ini. Yoga ^^^
Edhi yang melihat gragat aneh dari majikannya langsung menghubungi beberapa teamnya untuk berjaga di menara Permata.
Yoga lebih banyak tersenyum sambil memejamkan kedua matanya sehabis melihat project yang sudah digunakan oleh orang banyak itu. Karena hanya dengan memejamkan kedua matanya Yoga dapat melihat senyuman Dionne, bayangan Dionne yang sangat bahagia dengan hasil project tersebut dan juga bayangan anaknya yang selalu memanggilnya papa.
Selesai mengitari project tersebut,mereka pun kembali ke menara Permata.
“Baik tuan, jika perlu sesuatu panggil aku kembali.” Edhi pun berlalu dari Yoga.
Yoga masih berada puncak menara Permata tidak jauh dari helipad. Langkah Yoga berjalan dengan santainya menuju pinggiran roof top dimenara itu.
Dari kejauhan Edhi terus memantau gerak gerik majikannya itu sambil terus berkomunikasi dengan anak buahnya, feeling Edhi sangat kuat mengatakan kalau majikannya itu akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan hidupnya sendiri.
“Dionne...dimana kamu?! Apakah selama ini kamu tidak pernah rindu padaku? Bertahun-tahun aku menunggumu, meyakinkan hatiku bahwa kamu dan anak kita masih hidup, dan berharap suatu saat nanti kita dapat hidup bahagia bersama lagi. Tapi kenapa...jika memang iya kalian masih hidup, kenapa kalian belum juga kembali? Harus aku cari dimana lagi kalian? Dionne...Yodi...Apakah kalian dapat melihatku? Melihat betapa sebenarnya aku rapuh tanpa kalian disini? Aku sungguh sudah tidak sanggup lagi hidup seperti ini.” Ucap Yoga dikeheningan puncak menara yang sangat sepi itu. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi tidak ada aktifitas karyawan seperti biasanya di menara tersebut.
__ADS_1
“ Dua puluh empat tahun yang lalu, kedua orang tuaku meninggal dalam ledakan pesawat di atas langit sana, bertahun-tahun aku menangisi kepergian mereka sambil menatap langit. Karena ledakkan itu sudah mengubur mereka semua disana, tidak ada makam yang bisa aku datangi hanya untuk sekedar melepas rindu pada mereka, ledakan yang sangat kuat hingga tidak menyisahkan sedikitpun bagian tubuh orang tuaku untuk dapat dikubur dengan layak. Aku masih berusaha tegar untuk mereka, aku masih berusaha kuat dan semangat menjalankan kehidupanku untuk membanggakan kedua orang tuaku, berharap mereka tidak bersedih ketika melihatku sendiri didunia ini.” Ucap Yoga lagi pelan pada dirinya sendiri.
“Dan tiga tahun yang lalu, laut sudah menenggelamkan isteri dan anakku. Menghilangkan mereka tanpa jejak sedikitpun, hingga membuatku tak tahu harus mencari kemana lagi. Ya Tuhan...bertahun-tahun aku meratapi nasibku sendiri, orang-orang yang aku cintai sudah menghilang di langit dan laut milikMu, aku tidak akan menyalahkan takdirku sendiri, aku bisa menerimanya jika memang ini sudah suratan untukku. Tapi maaf, untuk kali ini aku benar-benar tidak sanggup lagi menjalani kehidupanku lagi, sudah tidak ada alasan untukku bertahan hidup. Semua tugasku sudah usai, biarkan aku menjadi roh penasaran saja, jika dengan seperti itu aku dapat mengetahui dan melihat keadaan anak dan isteriku sebenarnya. Jadi...maafkan aku Tuhan, aku ingin akhiri hidupku, sampai sini saja.” Ucap Yoga kembali sambil menatap langit yang mulai menggelap.
Yoga membuka kedua tangannya, lalu menghirup udara bebas dari atas menara itu dengan bibir yang mulai tersenyum. Bayangan Dionne, puteranya dan kedua orang tuanya langsung terlihat jelas dipejaman matanya itu. Mereka ikut tersenyum seolah siap menjemput kedatangan Yoga di tengah-tengah mereka.
Yoga semakin yakin melangkahkan kedua kakinya lagi, dengan kedua mata yang tetap terpejam. Yoga pun melompat dari puncak menara Permata.
“Pulang lah nak, kasihan anak dan isterimu.” Ucap Lilyanda ibunya Yoga, wanita cantik itu sedang berdiri menatap Yoga sambil dirangkul mesrah oleh suaminya yang juga ayah kandungnya Yoga, Adrian Atmodjo.
“Yoga....suamiku....” Terdengar panggilan Dionne sangat jelas di telinga Yoga.
“Papa...papa.....papa” Panggilan dari seorang anak balita juga terdengar jelas di telinganya.
Yoga pun langsung membuka kedua matanya, lalu melihat dengan jelas sumber suara itu. Tepat dihadapannya kini terlihat dengan jelas seorang wanita cantik yang selama ini sangat dia rindukan sambil menggendong seorang anak laki-laki. Mereka pun tersenyum memandang penuh kelembutan kearah Yoga.
“Di-Dionne...apakah itu...Yo-Yodi?” Tanya Yoga dengan gugup.
“Iya sayang, ini Yodi anak kita.” Jawab Dionne, dia pun segera menuruni anaknya itu dari gendongannya dan membiarkan anak itu berlari kearah Yoga dan memeluknya.
“Papa...” Panggil Yodi sambil memeluk Yoga dengan erat.
__ADS_1
“Yodi anakku, apakah saat ini papa sudah sampai syurga?” Tanya Yoga kepada anak balita yang baru berusia tiga tahun itu.