Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Pengganti


__ADS_3

"Kak istirahatlah. Hari ini aku tidak ada kuliah kok. Biar aku yang berganti menjaga Kakakku." Kini Shopia pun ikut ramah pada Rista.


Semula ia begitu sinis pada Rista namun melihat semua perlakuan Rista yang menunjukkan dirinya bukan wanita memiliki rencana. Shopia pun mulai bisa menerima kehadirannya. Perut yang sudah semakin besar membuat Rista sering kali sulit bergerak untuk bangun dari duduknya.


"Benar kata Shopia. Pulanglah dan istirahat. Biarkan Shopia yang menjaga istriku selagi aku di kantor." pintah Zayn turut berucap.


Pagi ini Zayn sudah rapi dengan penampilannya. Ia sedang sarapan masakan yang Rista masak dan bawa ke rumah sakit. Masakan yang sudah sangat candu di lidah Zayn rasanya.


"Baiklah aku pulang dulu kalau begitu, Tuan." jawab Rista patuh. Namun, pergerakan tubuh wanita hamil itu yang hendak meninggalkan ruangan di cegah oleh Shopia.


"Eh tunggu. Kak Zayn kan bisa sekalian mengantar Rista. Lagi pula supir belum ada berjaga karena Tante Irene baru saja pulang mengambil barang yang tertinggal." sahut Shopia.


Zayn terhenti dari sarapannya dan menatap Shopia canggung. Ia tak terpikiran untuk hal itu sama sekali. Rista yang paham lebih dulu tatapan Zayn menolak usul dari Shopia.


"Tidak usah, Nona. Tuan Zayn sedang buru-buru sedangkan saya bisa saja naik taksi." sela Rista.


"Sudahlah Kak Zayn, apa salahnya sih mengantarnya? Aku yang menyuruh. Kak Calvina tidak akan marah dan salah paham." sahut Shopia bercanda di sela ucapannya yang benar.


Tak bisa lagi menolak tanpa alasan, akhirnya Zayn setuju untuk mengantar Rista pagi itu sebelum ia pergi ke kantor. Selama perjalanan suasana nampak sunyi.


"Masakanmu enak. Terimakasih." Ucapan yang spontan Zayn utarakan tanpa berpikir lebih dulu. Masakan yang sudah satu minggu ini memanjakan perutnya benar-benar membuat Zayn ingin makan dan makan terus.


Ia bahkan tampak lebih segar belakangan ini semenjak Rista mengurusnya dari perlengkapan pakaian hingga makan dan vitaminnya semua wanita itu perhatikan. Rista hanya tidak ingin jika Zayn sakit dan membuatnya kehilangan perlindungan. Rista sudah berhasil keluar dari cengkraman sang ayah, kali ini ia tidak ingin kembali ke kandang macan itu lagi.


Ucapan Zayn sama sekali tak tahu harus di jawab apa selain Rista hanya mengangguk kecil. Ia benar-benar takut salah ucap dan membuat Zayn marah nantinya.

__ADS_1


"Aw..." rintihan Rista tiba-tiba terdengar secara reflek.


"Ada apa, Rista?" tanya Zayn.


"Tidak, Tuan. Perut saya hanya nyeri karena gerakan bayi saya." jawab Rista takut-takut.


Sekilas bayangan di kepala Zayn terputar begitu saja tentang memori kehamilan Calvina saat mengandung dua anaknya.


"Hahaha dia berjoget, Sayang!" seru Zayn kala itu. Ia tertawa puas dengan tangannya yang terus berpindah ke sisi lain perut buncit sang istri. Wajahnya terlihat sangat bahagia merasakan tendangan demi tendangan sang anak.


"Aw jangan di ladeni, Zayn. Perutku nyeri. Kemarikan tanganmu." ucap Calvina tersenyum.


Zayn menurut mengikuti pergerakan tangan sang istri yang menuntun tangannya mengusap lembut perut buncit itu.


"Ayo ikuti ucapanku." pintah Calvina.


Sesaat lamunan Zayn pun buyar. Ia sadar dirinya sedang menyetir mobil saat ini. Melihat Rista di sampingnya yang sesekali meringis merasakan perutnya bergerak membuat Zayn bingung. Haruskah ia melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada kedua anaknya dulu?


"Eh, Tuan?" Betapa terkejutnya Rista di tengah keheranan kala mobil berhenti dan menepi di pinggir jalan.


Zayn sudah mengusap perut buncit Rista dengan ucapan permisi. Rista terdiam seperti patung hanya mendengar apa yang Zayn ucapkan pada calon anaknya.


"Hey...tenang yah. Lihat Mamahmu kesakitan tuh kamu nendang perutnya terlalu keras. Sapa Mamah dengan lembut yah? Om kasihan lihat Mamah kamu. Ayo anak pintar...dengar Om bicara kan? Nendangnya yang lembut yah?" Beberapa kali Zayn mengusap sembari berkata hingga akhirnya Rista mulai merasakan tendangan yang tidak begitu kasar.


Bersamaan dengan itu dadanya terasa berdegup begitu kencang saat ini. Gugup bersentuhan dengan pria seperti Zayn. Tak munafik Rista akui Zayn begitu terlihat sangat sempurna dengan pahatan wajah yang tegas tanpa kekurangan satu apa pun di wajah tampannya.

__ADS_1


"Dia sudah tenang kan?" tanya Zayn yang hanya mendapat anggukan kepala oleh Rista.


"Terimakasih, Tuan." sahut Rista tanpa balasan dari Zayn.


Perlakuan pria itu barusan murni hanya karena rasa tak tega saja. Sementara Rista yang merasa gerogi begitu sulit menormalkan pernapasannya saat ini. Sampai mobil tiba di rumah, segera wanita itu turun dan Zayn pun pergi tanpa menatapnya.


Berbeda hal dengan di rumah sakit. Gauri nampak lahap menikmati masakan Rista yang di bawa ke rumah sakit. Baru saja wanita itu meninggalkan ruangan sang besan di rawat sebab Irene sudah sampai di rumah sakit.


"Rista masaknya terasa kalo pakai ketulusan." sahut Gauri memuji sembari memejamkan mata menyeruput kuah ayam kari.


"Masa ia sih Bu dia masak pakai emosi? Kan nggak mungkin." sahut Shopia.


"Yah Ibu nggak nyangka aja Rista itu wanita yang benar-benar baik. Kita awalnya menyangka dia wanita jahat yang mau merebut Zayn. Kasihan dia, Shopia. Ayahnya seperti punya dendam kesumat sama anaknya sendiri. Anak hamil karena pelecehan bukannya di lindungi malah di sudutkan seperti itu." Panjang lebar Gauri berucap. Shopia tampak mendengarnya dengan setia. Sebab pandangannya pun sama dengan sang ibu.


"Dia juga merawat Kak Calvina sangat baik, Bu." tambah Shopia.


Gauri mengangguk. "Yasudah Ibu lanjut makannya yah? Aku antarin Tante Irene makanan ini dulu." Gauri mengangguk lagi.


Kini wanita paruh baya itu menikmati makannya dengan menatap Calvina yang tak kunjung bangun. Hatinya terasa kosong melihat sang anak yang sangat kecil harapan bisa sadar kembali.


"Apa ini jawaban dari penantian Zayn selama ini, Cal? Jawab Ibu, Nak? Sampai kapan kamu berbaring di ruangan ini? Apa Ibu jahat telah memaksa kamu tetap bertahan selama ini?" batin Gauri yang berpikir mereka semua memaksa Calvina tetap bertahan selama empat tahun ini.


Pelan wanita itu berdiri dan mendekati sang anak. Air matanya jatuh melihat wajah cantik sang putri yang tak kunjung membuka mata. Rasa rindu teramat sangat ia rasakan. Suara yang lemah lembut tak pernah lagi ia dengar semenjak kecelakaan itu.


"Ibu rela jika harus melepasmu, Cal. Ibu ikhlas asal kamu tenang. Apakah Rista wanita yang bisa menggantikanmu untuk Zayn? Bantu Ibu sayang-"

__ADS_1


"Tidak, Gauri. Tidak ada yang bisa mengganti Calvina termasuk wanita itu!" sentak seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu tanpa memberi kesempatan Gauri meneruskan ucapannya.


Tatapannya begitu tajam mendengar ucapan Gauri barusan di tengah hatinya yang sudah rapuh.


__ADS_2