Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Ketahuan


__ADS_3

"Apa Ibu tidak cemburu jika Ayah bertelponan dengan Tante cantik ini?" tanya Restu yang membuat Zayn tercengang mendengarnya.


Calvina yang mendengar pun juga terdiam. Anak sekecil Restu ternyata sudah memahami kata cemburu.


"Sayang...Tante dengan Ibunya Restu kan berteman. Begitu juga dengan Ayah Zayn. Tentu Ibu Restu tidak akan cemburu." Lembut wanita hamil itu berkata. Wajahnya yang tersenyum namun matanya melirik sinis sang suami.


Zayn tahu Calvina sangat tak nyaman dengan penjelasannya barusan.


"Restu...kemarin-kemarin lihat kan jika Ayah dan Ibu tidak pernah bertemu lagi di rumah?" tanyanya perlahan.


Zayn tak mau mengulur waktu mengatakan ini pada anaknya. Sebisa mungkin ia mengutamakan perasaan sang istri. Meski Zayn melihat kepala Cavina di ponsel itu menggeleng pelan. Bermaksud untuk tidak mengatakan semuanya pada Restu. Calvina tak tega.


Restu menganggukkan kepalanya sembari menatap sang ayah.


"Nanti Ayah akan ceritakan dan jelaskan semuanya. Sekarang Restu harus tidur dulu yah? Ayo Sayang istirahatlah agar segera sembuh." patuh Restu pun berbaring menutup matanya. Zayn menutup tubuh kecil itu dengan selimut.


Di sini Calvina tampak menghela napas lega. Bisa di bayangkan bagaimana kecewanya perasaan Restu ketika mendengar kedua orangtuanya tak lagi bersama. Anak kecil tak akan paham masalah orang dewasa. Yang ia paham adalah kebahagiaan ketika melihat kedua orangtuanya perhatian padanya dan bisa merasakan tidur bersama kapan pun ia mau.


"Zayn, jangan lakukan itu." ujar Calvina ketika sang suami berbaring di sofa dalam ruangan itu.


Suasana nampak sunyi ketika Zayn meminta sang anak buah keluar. Ia akan menjaga Restu sendirian malam ini.

__ADS_1


"Ini sudah waktunya, Cal. Aku tidak mau hubungan kita jadi taruhannya. Ayolah jangan seperti ini. Aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan pada mereka. Bahkan jika aku mau aku bisa saja melukainya karena telah membahayakan nyawa istriku." Calvina tertegun mendengar penuturan sang suami.


Kini wanita itu tak berdaya. Ia tak kuasa menahan kemauan sang suami. Zayn tentu tak akan perduli lagi ucapan Calvina jika menyangkut hubungan mereka. Keduanya mengobrol hingga melewatkan beberapa waktu.


Tak lama kemudian, panggilan dari luar kamar Calvina membuat keduanya menghentikan percakapan mereka.


"Iya, Bu?" sahut Calvina di seberang sana.


"Kamu sedang bicara dengan Zayn? Ayo makan malam dulu. Ayah dan yang lainnya sudah menunggu di meja makan." ajak Gauri. Calvina sontak mengangguk patuh.


Seperginya Gauri, lagi-lagi Calvina harus berdebat dengan sang suami.


"Zayn, aku hanya makan sebentar saja." tuturnya.


"Aku hanya makan saja, Zayn. Setelah itu aku segera kembali ke kamar. Aku matikan yah?" lagi Calvina menawar pada sang suami. Zayn tak lagi bersuara. Ia hanya menggelengkan kepala menolak keinginan sang istri.


Sampai pada akhirnya hanya helaan napas yang Calvina keluarkan. Ia pasrah membawa ponsel yang masih menyala dalam saku dressnya. Dengan perjanjian Zayn tak boleh bersuara. Calvina tak ingin jika ada keluarga yang tahu mereka melakukan panggilan meski hanya sedang makan.


Di meja makan semua anggota keluarga nampak menikmati makan dengan keadaan hening. Kebiasaan mereka ketika makan tak boleh berbicara demi menghargai makanan di depannya.


Waktu yang mereka lewatkan kini membuat Fara bersuara.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kamu, Cal? Apa yang tidak nyaman?" tanya wanita tua itu dengan perhatiannya.


Calvina tersenyum lembut. "Aku jauh lebih baik, Nek. Jangan cemaskan aku." sahut Calvina.


"Selama kamu masih bersama dengannya, Nenek tidak akan berhenti mencemaskan kamu." jawab Fara ketus mengingat sosok Zayn.


Zayn yang mendengarnya hanya diam menatap nanar ponsel gelap di depannya. Ia sadar apa yang ia lakukan di waktu lalu sudah sangat kelewatan. Mengabaikan Calvina demi mencemaskan sosok Restu.


"Aku tidak akan mengecewakanmu lagi, Sayang." gumamnya dalam hati.


Di keheningan itu tiba-tiba saja Zayn tersadar dari lamunan ketika mendengar suara Restu..


"Mengapa Ayah melamun?" Restu ternyata baru saja bangun dan melihat Zayn. Sontak suara itu tak hanya membuat Zayn menoleh. Tetapi di seberang sana Fara membulatkan mata mendengar jika Calvina sedang menelpon sang suami.


Shopia yang tahu akan hal itu sampai tersedak makanan. Ia sudah curiga sejak awal pasti sang kakak sedang bertelponan dengan suaminya.


"Em maaf semuanya..." Calvina tersenyum malu ketahuan. Ia buru-buru mengambil ponsel dan mematikan panggilan itu.


Zayn mendesah kasar. Ia pun memilih mengajak Restu tidur kembali dengan memeluknya. Tangan kekar pria itu mengusap kepala sang anak sembari bercerita niatnya sejak awal.


"Bagaimana jika Ayah dan Ibu ternyata sudah tidak bisa bersama? Apa Restu akan membenci Ayah?" tanya Zayn penuh kehati-hatian.

__ADS_1


Restu sontak mendongak membulatkan mata. Baru saja ia hampir kembali tertidur.


__ADS_2