
Desa yang Rista katakan kini telah menjadi tempat ia dan sang anak berdiri memijakkan kedua kakinya. Rumah tua dengan bangunan yang sangat sederhana. Restu hanya bisa menatap dalam diam. Sejak di kandungan ia menjadi anak yang tak pernah hidup bahagia, membuatnya sangat pengertian. Protes untuk rumah itu pun ia tak tega pada sang ibu.
"Ayo kita masuk." ajak Rista menggandeng tangan anaknya.
Keduanya memasuki rumah yang tidak terkunci. Rista melihat betapa banyaknya kerjaan yang harus ia kerjakan. Lama tak di huni membuat bangunan itu banyak yang rusak dan kotor.
"Ibu Restu bantu yah?" ujar bocah itu. Rista tersenyum mengangguk. Di tengah kerapuhan dirinya menghadapi berbagai cobaan, justru Restu menjadi anak yang sangat dewasa.
Jatuh air mata Rista memandang anaknya. Ia menunduk dan memeluk bocah itu penuh haru.
__ADS_1
"Terimakasih yah, Sayang. Kamu hadir dalam hidup Ibu. Ibu benar-benar beruntung punya kamu, Nak. Ibu tidak tahu jika kamu tidak ada di sini." Teringat beberapa waktu lalu ketika ia hamil tanpa status. Rasanya hatinya benar-benar hancur. Rista tak menyangka jika ternyata takdir jauh lebih tahu apa yang akan ia butuhkan di saat seperti ini.
Mungkin saja di saat itu Rista tak merasa butuh sosok anak. Tapi, kini ia mengerti mengapa Tuhan membuatnya hamil dengan keadaan yang salah seperti itu, lalu mempertemukannya dengan Zayn agar tidak jadi bunuh diri. Banyak pelajaran yang kini bisa Rista pahami dalam kehidupannya.
"Ibu tidak boleh menangis lagi. Restu sayang Ibu." ujarnya sembari mengusap air mata sang ibu. Rista hanya bisa tersenyum lebar mengangguk mendengar ucapan anaknya.
Tampak tangan mungil itu menggenggam tangan ibunya. Keduanya menarik satu persatu kain yang berhambur menutupi barang di rumah itu. Tak jarang Rista berteriak melihat tikus meloncat. Restu terkekeh melihat ibunya yang ketakutan. Keduanya perlahan mulai menikmati suasana bersih-bersih. Rista benar tak lagi berharap jika harus mengejar pria yang tidak mencintainya.
"Masih pagi, Bu. Tidak baik menebar wajah di tekuk seperti itu." tutur Firdaus menegur sang istri. Jelas Fara tak suka kala melihat Zayn yang menempel pada cucunya.
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanya Fara dengan ketus tanpa menjawab pertanyaan sang suami.
"Belum tahu, Nek. Kami masih mau jalan-jalan dulu. Nenek tenang aja, Calvina sudah aku sediakan kursi roda kok biar tidak kelelahan." Panjang lebar Zayn mengatakan sebelum Fara bertanya hal lain padanya.
"Aku ikut. Tentu kamu tidak keberatan bukan?" sahut Fara dengan sinisnya.
Zayn terkejut. Ia tak tahu harus menjawab apa. Padahal hari ini ia ingin sekali berduaan dengan sang istri di luar tanpa pengawasan dari nenek tua itu.
"Tahu begini lebih baik tadi berduaan di kamar saja." batin Zayn tanpa berani bersuara. Hanya bisa tersenyum kecut sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ayo Ayah, bantu Ibu bersiap. Kalian tunggu di sini." pintahnya pada sang suami lalu pada Zayn dan Calvina.
Gauri terkekeh melihat Zayn yang diam mematung. "Sabar yah, Zayn. Nenek kamu itu juga pasti penasaran dengan jalan-jalan versi kalian itu. Nanti pasti minta pulang juga kok. Nggak akan betah lama dia." Zayn kembali tersenyum kecut menatap sang ibu mertua.