Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kabar Baik


__ADS_3

"Calvina tidak sadar saat menjaga Nenek di rumah sakit. Kita harus segera berangkat sekarang juga, Zayn. Ibu sangat takut terjadi sesuatu dengan Calvina." Itulah yang Gauri ucapkan pada Zayn sembari menangis.


Kabar jatuh sakitnya Calvina mereka dapatkan dari sang kakek. Tentu saja dengan keadaan Calvina jauh dari mereka membuat Gauri cemas berkali-kali lipat. Ia tak ingin kehilangan lagi anaknya. Trauma kehilangan Calvina masih bisa di rasakan jelas oleh wanita beranak dua itu.


"A-apa?" Zayn pun sama terkejutnya. Ia takut jika sampai sang istri kembali koma.


"Bu, kita bertemu di bandara. Kita berangkat malam ini juga." Zayn mematikan sambungan telepon dan meminta bawahannya mengurus keberangkatan malam ini juga.


Perjalanan tetap saja memakan waktu lama. Hal itu tak bisa di usahakan lagi oleh Zayn selain sabar menunggu pesawat sampai di negara tujuan mereka. Sepanjang jalan semua berdoa untuk kebaikan Calvina. Kini bukan Fara lagi yang mereka cemaskan. Namun, Calvina yang memiliki riwayat koma membuat mereka takut jika ternyata psikis membuatnya kini jatuh koma lagi.


"Kali ini Calvina harus bahagia. Aku tidak ingin lagi membuatnya sedih, Bu. Sudah cukup selama ini aku kehilangan dia. Dia istriku. Sudah sepatutnya Calvina patuh padaku." Gauri hanya mengangguk mendengar ucapan sang menantu.


Itu juga yang ia pikirkan saat ini. Seharusnya Calvina patuh untuk menyelesaikan masalahnya bersama Zayn. Tapi, di sini Calvina berhak marah dan menjauh. Sebab Zayn bukan hanya suaminya saja. Ada Rista yang juga sudah sah menjadi istrinya.


Di Jerman, tepatnya di rumah sakit. Calvina baru saja sadar. Dokter di depannya tersenyum melihat mata Calvina terbuka.

__ADS_1


"Dokter," sapa Calvina heran.


Matanya menelusuri setiap sudut ruangan itu. Ia lupa jika dirinya sempat mengalami pingsan. Ada Firdaus sang kakek yang juga tersenyum padanya saat ini.


"Kakek tersenyum?" tanya Calvina heran. Bagaimana mungkin pria tua itu senang melihat cucunya jatuh sakit pikir Calvina.


Pria tua itu tampak senyum tanpa berniat mengatakan apa pun. Sampai akhirnya dokter wantia yang juga berasal dari negara yang sama dengan mereka berdehem. Tangannya memegang perut Calvina. Mereka sudah sangat akrab sebab saling mengenal.


"Calvina, selamat yah." Mata Calvina bergerak mengikuti tangan sang dokter saat ini.


"Di sini ada bayi kamu tumbuh. Syukurlah kamu hanya pingsan karena pengaruh hamil muda. Jadi kamu mudah lelah. Setelah ini kamu harus banyak istirahat yah." Calvina tak bisa menahan ekspresi syok di wajahnya. Bibirnya begitu terbuka sangat lebar.


Sang dokter mengangguk bersamaan dengan wajah sang kakek yang terlihat begitu senang. Ingin rasanya Calvina juga bahagia seperti mereka, namun air matanya tiba-tiba jatuh memikirkan hubungannya saat ini bersama Zayn sedang tidak baik.


Namun, di detik yang bersamaan bibirnya kini tertarik membentuk senyuman. Calvina bahagia mendapatkan anak. Ia tak perduli tentang pernikahannya yang hancur.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuhan. Terimakasih kau memberiku anak lagi kali ini. Terimakasih kau memberi aku kesempatan menjadi seorang Ibu lagi." tutur Calvina bahagia sekali.


Sang kakek memeluk cucunya mengusap rambut panjang milik Calvina. "Selamat yah. Kakek senang mendengar kabar baik ini. Sekarang kamu harus banyak istirahat di rumah. Kakek yang akan menjaga Nenek mu di sini." ujar Firdaus perhatian.


Calvina secepat mungkin menggeleng. "Tidak, Kek. Kakek juga harus istirahat di rumah. Biarkan aku yang mengurus semuanya sampai Shopia datang. Aku akan memintanya kesini menjaga Nenek." ujar Calvina.


Sebab ia pun tak ingin terjadi sesuatu pada calon bayinya. Calvina ingat kejadian di masa lalu yang membuatnya sangat keras kepala hingga melenyapkan kedua anaknya. Kini Tuhan memberikan kepercayaan lagi padanya. Ia tak ingin menyia-nyiakan hal tersebut.


"Cal, Ibumu akan segera tiba. Sebaiknya pulanglah. Kakek baik-baik saja." Keduanya masih saja berdebat.


Calvina diam sejenak. Entah mengapa pikirannya tiba-tiba saja teralihkan pada sosok Rista. Apa yang wanita itu jalani saat ini bersama Zayn. Hatinya mendadak nyeri sekali.


"Kenapa perasaanku begitu takut saat ini?" gumamnya dalam hati. Rasa takut jika sampai Rista dan Zayn semakin dekat dan benar-benar hidup seperti suami dan istri pada umumnya.


Air mata yang tak bisa di tahan mendadak jatuh begitu saja. Jujur mengetahui kabar baik ini ingin sekali rasanya Calvina merayakan kebahagiaannya bersama sang suami.

__ADS_1


"Zayn pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini." Sementara Calvina tak sadar jika sang kakek memperhatikan dirinya dan bergumam dalam hati.


"Kalau sudah begini, Fara bisa apa?" batin pria tua itu menertawakan istrinya yang tengah terbaring sakit di ruang rawat lainnya.


__ADS_2