Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Sosok Ibu


__ADS_3

Sebuah ponsel dengan tampilan foto sepasang suami istri yang begitu bahagia. Keduanya tampak saling berpelukan dan Zayn mengecup kening istrinya. Di tangan wanita itu ada gelang yang terlihat sangat indah. Di belakang mereka beberapa pelayan yang turut serta menjadi background bertepuk tangan. Suasana yang sangat romantis dan tak banyak wanita yang bisa mendapatkan momen seperti itu. Air mata Rista jatuh perlahan matanya ia tutup merasakan sakit yang luar biasa.


Dadanya sesak dan kini ia tahu perasaan sakit apa yang ia rasakan kini. Cemburu, ini adalah perasaan cemburu yang datang ketika tahu pria yang ia harapkan tak bisa bersamanya lagi. Zayn memilih mengakhiri hubungan mereka dan melanjutkan pernikahannya bersama Calvina.


"Jangan sedih. Kamu sudah melakukan yang benar, Rista. Memaksakan hal yang bukan milik kita itu sangat menyakitkan. Mulailah untuk bahagia dengan apa yang kamu miliki. Masa depanmu masih panjang, Nak." Rista terjingkat kaget ketika suara tiba-tiba terdengar di sekitarnya.


Ia sangat kaget melihat wanita yang tersenyum berjalan ke arahnya. Wanita yang sangat ia kenali wajahnya. Segera Rista pun menyimpan ponsel miliknya dan beralih mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Bu, kok ada di sini?" tanyanya terkejut.


"Reza yang kasih tahu kamu ke rumah ini. Kamu akan tinggal di sini kan?" tanya Bu Ida sembari matanya memperhatikan sekitar dalam rumah itu. Rista pun mengangguk.


"Rumah ini sayang kalau sampai rusak parah tidak ada yang mengurusnya. Kamu tinggal di sini sudah sangat tepat, Ris. Dekat juga dengan sekolahan untuk Restu." Lagi Rista tersenyum mengiyakan. Meski hatinya sangat rapuh menerima kenyataan jika dirinya harus menjauh dari kehidupan sang mantan suami.


"Yang sabar yah? Kamu tidak sendiri. Kita kan keluarga. Anggap saja kami adalah keluargamu. Katakan jika membutuhkan sesuatu." Bu Ida begitu baik pada Rista. Meski ia tahu betapa kejam ayah wanita itu pada suaminya dahulu.

__ADS_1


Dalam ingatannya selalu terngiang ucapan sang suami yang mengatakan Rista adalah anak yang begitu baik. Rista hanya butuh kasih sayang orangtuanya. Oleh sebab itu Bu Ida tak marah sedikit pun pada Rista.


"Kamu jangan terlalu banyak melamun. Ibu panggil-panggil sejak tadi di depan tidak ada sahutan. Ternyata kamu melamun di sini. Tidak baik untuk kesehatan kamu, Nak. Restu pun akan ikut sedih jika kamu seperti ini." lanjut Bu Ida kembali. Wajah Rista menunduk malu.


Keduanya pun duduk saling berbicara. Sesakit apa pun yang Rista rasakan ia harus tetap kuat untuk melanjutkan hidupnya. Bibirnya terbungkam dalam, ia hanya mengangguk meski air mata sekuat mungkin ia tahan. Rista berusaha tetap tersenyum mendengar nasihat Bu Ida. Sampai pada akhirnya Bu Ida melihat air mata jatuh begitu saja di pipi Rista. Tangan Bu Ida secepat mungkin mengusapnya. Ia hadir seperti menjadi sosok ibu bagi Rista. Ternyata tak hanya Pak Danang yang baik padanya, tetapi istrinya juga begitu baik pad Rista.


"Rista boleh peluk Ibu?" tanyanya tentu langsung mendapatkan jawaban iya dari Bu Ida. Keduanya cukup lama berpelukan. Bu Ida mengusap-usap punggung wanita rapuh itu.

__ADS_1


Meski ada kelegaan tersendiri sebab Rista tidak tumbuh menjadi orang yang penuh ambisi seperti ayahnya. Saat ini ia masih cukup mudah untuk di nasehati. Jika ia tumbuh bersama sang ayah lebih lama bisa saja pribadi Rista berubah menjadi seperti Candra yang tak memiliki rasa prihatin pada sesama.


__ADS_2