
Sinar mentari pagi yang biasa cerah, tidak terlihat pagi ini. Ketika sosok tangan mungil terasa memeluk tubuhnya barulah Rista sadar. Jika ia telah tertidur panjang di kamarnnya semasa gadis. Bukan kamar penuh kenangan indah, melainkan kamar yang menjadi saksi betapa sakitnya hidupnya selama ini. Matanya mengerjap memandangi ruangan itu. Ada kesedihan yang jelas ia rasakan saat ini.
"Aku kembali lagi kesini. Kembali menjatuhkan air mata. Aku pikir setelah meninggalkan kamar ini dan rumah ini hidupku akan berubah menjadi sangat bahagia. Ternyata tidak. Sakit membawaku kembali ke kamarku." batinnya mengadu.
"Ibu, peluk..." rengek Restu yang merasa gelisah saat kehilangan kehangatan tubuh sang ibu.
Sepanjang malam ternyata mereka tidur sambil berpelukan. Rista merasa gelisah saat ini sebab ia tak lagi mengantuk namun tahu tubuh sang anak pasti lelah. Akhirnya ia bertahan memeluk tubuh Restu sembari memainkan ponsel.
"Pesan? Dari Mas Zayn?" gumam Rista dalam hati. Keningnya mengerut kala membaca pesan dari sang suami.
Segera hubungi aku. Kita selesaikan masalah ini sesegera mungkin tanpa menundanya. Kabari aku jika sudah siap berbicara. Aku harus mendatangi Calvina ke Jerman.
Menetes air mata Rista membaca pesan tak berperasaan itu. Bagaimana mungkin Zayn setega itu padanya. Sikap hangat pria itu kini benar-benar tak tersisa untuknya. Andai tak ada Restu, ingin sekali rasanya ia menghantamkan kepala ke dinding kamar ini.
Yang di lakukan Rista hanya memejamkan mata meneteskan air mata. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua yang ingin ia pertahankan nyatanya tak bisa ia genggam. Zayn terang-terangan mengatakan tujuannya pergi saat ini.
"Tak ada lagi yang bisa aku harapkan. Bahkan di saat dia belum tahu semuany, sikapnya sudah berubah. Aku yakin ketika Mas Zayn tahu semuanya dia tidak akan sudi lagi bicara padaku." gumam Rista berpikir panjang.
__ADS_1
Entah bagaimana reaksinya jika tahu tujuan Zayn datang ke Jerman adalah untuk menjenguk sang calon buah hatinya. Berjuang seorang diri demi sang anak. Nyatanya sangatlah berat. Tetap terlihat baik-baik saja di depan Restu itu sungguh menyakitkan. Ingin sekali rasanya satu hari ia menyendiri tanpa sang anak demi melampiaskan semua sakitnya. Namun, Rista tetaplah seorang Ibu yang begitu mencintai anaknya.
Sakit yang ia rasakan selama hidup tanpa seorang ibu membuatnya tak ingin merasakan sakit itu pada Restu. Ia akan tetap berdiri menjadi wanita dan ayah sekali gus.
"Sayang, ayo bangun. Sudah siang. Ibu akan buatkan sarapan yah?" tuturnya tak lama kemudian.
Tubuh mungil sang anak menggeliat dalam pelukannya. Restu membuka mata dan mencium pipi Rista. Ia tersenyum senang.
"Terimakasih, Bu. Restu senaaang sekali bobo bareng Ibu lagi." serunya sembari memeluk tubuh Rista kembali. Mendengar ucapan sang anak, ia hanya tersenyum bahagia.
Keduanya bergegas membersihkan tubuh masing-masing lalu menuju dapur. Rista memasak seadanya yang di kulkas sedangkan Restu membantu menyapu dapur. Rumah yang mereka tinggali sudah tak ada lagi penghuninya. Entah kemana semua pelayan yang selama ini di pekerjakan oleh Candra.
"Pesannya masih pending. Itu artinya Mas Zayn belum sampai." gumam Rista menatap ponsel miliknya.
Ia pun melanjutkan memasak dan menata makan di meja makan. Sejak saat itu Rista sering kali mengecek ponsel miliknya untuk memastikan pesan yang ia kirim pada sang suami sudah terkirim. Sayang, sampai saat Zayn tiba di Jerman pun ia tak kunjung mengaktifkan ponselnya.
Rista tidak tahu jika di sini sang suami tengah menitihkan air mata melihat Calvina berbaring di rumah sakit dengan tangan yang di infus. Atas perintah Fara, sang cucu harus beristirahat dan di beri vitamin agar tidak lemas lagi.
__ADS_1
"Calvina..." Zayn memeluk tubuh sang istri ketika pintu ruangan di buka oleh suster.
Pelukan yang erat ia berikan pada sang calon ibu itu. Calvina hanya diam, bingung harus bagaimana pada Zayn. Malu tentu ia rasakan. Jika Zayn tahu ia tengah mengandung rasanya memalukan. Dimana mereka hanya melakukan sebagai tanda perpisahan bukan untuk membuat anak.
"Em, Zayn jaga sikapmu." ujar Calvina mendorong pelan tubuh sang suami.
Ia menatap satu persatu yang datang ke ruangan itu. Ibu, Ayah, Shopia, dan juga sang Kakek. Hanya mereka yang datang tak ada lagi orang yang Calvina cari.
"Ada apa, Kak?" tanya Shopia heran.
"Dimana dia?" tanya Calvina yang membuat Gauri paham.
"Rista tidak ikut. Hanya kami yang berangkat, Nak." jawabnya.
"Berhubung kalian semua sudah di sini. Saya akan beri tahu kabar bahagia ini. Jika sebenarnya Calvina tidak sakit. Melainkan dia hamil." Firdaus merasa tak sabar menyampaikan kabar bahagia itu. Sontak semua yang ada di ruangan menampakkan mata melotot mereka ke arah Firdaus lalu beralih pada Calvina. Semua kaget tak menyangka kabar yang mereka dengar barusan. Sedangkan Zayn langsung berdiri lemas tanpa bisa mendekat sang istri lagi.
Hal yang tak pernah ia duga. Hal yang menurutnya sangat mustahil terjadi. Hal yang ia niatkan sejak awal ternyata menjadi sebuah kenyataan saat ini.
__ADS_1