Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Pengamatan Zayn


__ADS_3

"Lupakan aku dan terima semua ini, Bu. Dia menantu Ibu satu-satunya. Jangan memperlakukan aku dengan baik lagi, Bu. Ini semua hanya akan menyakiti aku semakin dalam. Aku bisa, aku pasti bisa melewati ini semuanya. Tidak ada anak yang harus aku pikirkan untuk bertahan dengan Zayn. Sedangkan wanita itu, ia harus menghidupi satu anak bersama Zayn. Aku baik-baik saja, Bu." tutur Calvina.


Irene menggeleng. Betapa besar hati sang menantu merelakan suami yang sangat ia cintai bersama wanita lain. Menantu sebaik Calvina tak akan mau ia lepaskan begitu saja. Sampai detik ini Irene tak pernah merasakan perselisihan dengan Calvina. Sosok wanita yang begitu berhati lembut dan sangat perduli pada sesama.


"Sudah. Kamu tenang, jangan bicarakan apa pun dulu yah? Sekarang ayo makan. Ibu bawakan makan untukmu, Cal. Tolong kali ini jangan menolaknya lagi. Ibu sangat ingin memasak untukmu," Tanpa menolak, Calvina patuh bergegas duduk dan menikmati suapan demi suapan dari sang mertua.


Rasa sayang antar keduanya memang begitu sangat besar. Tak mudah bagi Rista untuk masuk dan menggantikan posisi Calvina di keluarga Zayn. Selama ini Irene baik dan dengan Rista masih terlihat ada batas. Tidak seperti perlakuannya pada Calvina yang sangat tampak seperti ibu dan anak.


Di sini dua wanita itu tampak saling diam saat Irene menyuapi Calvina. Mungkin dalam pikiran Irene ia sudah tenang bisa berdekatan dengan sang menantu. Tanpa ia ketahui jika satu hal terjadi di rumah sang anak.


"Apa Ibu yang mengantarnya?" Zayn yang memilih pulang dengan pikiran gelisahnya mendapati Rista tengah merapikan meja makan.


"Ayah!" seru Restu ceria. Zayn menoleh dan tersenyum lalu mengusap kepala sang anak.


"Restu sudah makan kan?" Bocah itu menjawab dengan anggukan kepala.


"Kalau begitu masuk kamar istirahat yah? Ayah mau bicara dengan Ibu dulu." Patuh Restu berlari masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Rista yang melihat sang suami datang hanya mencium punggung tangan tanpa berniat menjawab pertanyaan Zayn. Tubuhnya bergerak hendak melewati Zayn dengan rantang di tangan yang sudah kosong.


"Jawab pertanyaan ku, Rista. Apa Ibu mengantarkan rantangan itu ke sini?" tanya Zayn lagi.


"Iya, Mas." jawab Rista singkat. Zayn memperhatikan rantang di tangan Rista tanpa mencegah wanita itu meninggalkannya.


Rantang yang berbeda pikir Zayn. Keningnya mengerut dalam. Ingatannya jelas melihat bentuk dan warna rantang yang di siapkan sang ibu saat di rumah tadi beda sekali dengan yang Rista pegang saat ini.


"Bahkan kamu tidak bertanya apakah aku sudah makan atau belum, Mas? Apa yang kamu pikirkan saat ini hanya mantan istri kamu itu? Calvina bukan satu-satunya istri kamu saat ini, Mas. Ada aku yang bersama kamu saat kamu terpuruk." batin Rista menjerit histeris. Meski di mata Zayn ia tampak baik-baik saja saat ini.


Duduk termenung di kursi meja makan membuat Zayn tak memperhatikan jika sang istri pergi masuk ke dalam kamar. Keduanya sudah lama tak pernah berbicara hangat.


Waktu yang semakin berlarut tanpa adanya jawaban terus membuat hubungan Rista dan Zayn semakin dingin. Satu minggu sudah mereka lewati dengan pikiran masing-masing. Rista yang terus mencari sang ayah dan Zayn yang terus mencari tentang rantang yang Irene siapkan. Keduanya tak lagi punya waktu untuk bermain dengan Restu. Hanya menyelesaikan tugas masing-masing sebagai ayah dan ibu.


Hari ini tepat hari ke tujuh Irene kembali datang seperti setiap harinya. Rantang yang sama dan untuk orang yang sama.


"Calvina harus banyak makan biar segar dan pikirannya bisa semakin membaik." ujar Irene bersemangat di dapur. Tangannya yang begitu lincah menyiapkan semua tanpa mau di bantu oleh pelayan.

__ADS_1


"Ibu kembali menyiapkan rantang yang sama..." tutur Zayn dalam hati.


Rencana yang sudah ia susun dengan rapi tak membuat Irene bisa tahu jika pergerakannya beberapa hari ini sudah terpantau oleh Zayn di rumah.


"Bu, mau bawakan Rista lagi?" sahut Zayn bertanya mendekati Irene.


Suara yang sontak membuat Irene membulatkan mata terkejut. Tubuhnya secepat mungkin berbalik dan melihat Zayn yang sudah berdiri di dekatnya. Bibir wanita paruh baya itu terasa seperti terkunci saat ingin menjawab pertanyaan Zayn.


Dalam diamnya Zayn mencerna pergerakan sang ibu. "Hah? I-iya, Zayn. Buat Rista lagi. Memangnya buat siapa?" ujar Irene beralasan.


Sayang, wanita itu tak tahu jika beberapa hari ini Zayn terus memantau apa yang Irene siapkan dan mengecek di rumahnya setelah pulang kerja. Tak ada masakan yang Irene siapkan di rumahnya.


"Kamu kenapa, Zayn? Kok lihat Ibu seperti itu? Salah yah Ibu perhatian sama menantu Ibu? Memangnya kamu yang sangat cuek sama Rista? Kasihan dia, Zayn. Rista sudah begitu baik dengan kita semua..."


"Seandainya kebaikan di balas dengan kebaikan tanpa pernikahan mungkin semuanya akan baik-baik saja, Bu." potong Zayn pada ucapan Irene yang belum saja selesai.


"Apa itu artinya kamu menyesali pernikahan itu?" Pertanyaan yang tiba-tiba saja terdengar di telinga anak dan ibu saat itu. Irene terkejut begitu pun dengan Zayn yang juga berbalik badan melihat siapa yang datang tanpa terdengar suara langkah kakinya.

__ADS_1


__ADS_2