
Benar saja, tujuan yang Zayn dan Calvina tuju adalah salah satu keramaian di pinggir jalan dimana ada pemain musik biola yang sangat mahir memainkan alatnya. Hal itu memicu kegelisahan pada Fara. Sebagai wanita yang usianya sangat tua, merasa engga jika harus berlama-lama di sana.
"Zayn, kapan pergi jalan-jalannya? Kenapa di sini terlalu lama? Ayo cepat kita pergi." ajak Fara yang di ikuti oleh sang suami.
Zayn menoleh pada istrinya. Sebab ini adalah keinginan Calvina mendengar musik dengan suasana yang segar dann tenang meski di tepi jalan. Zayn tahu mungkin ini adalah salah satu dari banyaknya ngidam yang akan Calvina inginkan.
"Nenek, kita memang akan lama di sini. Calvina mengidam ingin mendengar musik-musik orang itu." jawab Zayn. Mendengar itu sontak Fara pun menghela napasnya kasar.
Menoleh ke kiri dan ke kanan. Banyak tempat area perbelanjaan. Matanya pun berbinar. Zayn tentu sangat paham apa yang Fara lihat saat ini. Sebuah counter bermerk mahal.
"Nek, ini pakai kartu ini saja. Nenek boleh sepuasnya memilih." ujar Zayn. Jika ia pikir itu adalah jalan yang baik untuk merayu nenek mertua, nyatanya ia salah besar. Fara begitu gengsi untuk di beri uang oleh Zayn.
"Kamu pikir saya akan luluh dengan sogokan kamu itu? Ayo Ayah kita pergi kesana." tunjuk wanita tua dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
Zayn terdiam melihat sikap acuh sang nenek mertua. Calvina yang kasihan pada suaminya sebab ini adalah tempat umum dimana semua pengunjung menatap ke arah mereka. Suara Fara barusan memang sangat lantang terdengarnya.
"Maafkan Nenek yah, Zayn?" tutur Calvina mengusap lengan sang suami. Zayn mengangguk tersenyum kecil.
"It's okey, Sayang." jawabnya.
Keduanya kembali fokus menonton sembari saling menggenggam tangan. Kepergian Fara benar-benar menjadi celah bagi keduanya menikmati waktu bersama. Sampai mereka tak tahu drama apa lagi yang terjadi di counter pada sepasang suami istri tua itu.
"Ada apa, Bu?" tanya Firdaus.
"Ayah bisa kan bantu Ibu?" tanyanya dengan wajah tersenyum licik.
"Bantu?" tanya Firdaus dan Fara mengangguk lagi.
__ADS_1
"Kembali ke sana yah? Ibu tunggu di sini. Bilang Ibu lagi belanja dan Ayah suruh Zayn kesini bayarin ini semuanya. Kan lumayan ngerjain dia, Ayah. Ini sangat mahal semua. Enak saja dia berduaan dengan Calvina enak-enakan di sana. Tidak bisa. Pokoknya Ayah suruh dia bayar ini semua, dan Ibu pura-pura tidak tahu." Firdaus membelalakkan matanya terkejut mendengar ucapan sang istri.
Bukankah barusan Fara menolak mentah-mentah tawaran Zayn untuk memberikan kartu belanja? Dan sekarang wanita tua itu justru seolah menjalankan akting di belakang cucu menantunya. Hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala mendengar ucapan sang istri.
"Ibu tunggu di sini saja." tuturnya. Namun, apa yang Fara perintahkan nyatanya berbanding terbalik dengan yang Firdaus kerjakan.
Di sini ia menceritakan jika ia kembali atas perintah sang istri. Fara yang mengutusnya untuk meminta uang pada Zayn. Mendengar itu Zayn hanya terkekeh lucu. Pasalnya tempat Fara belanja bukanlah tempat yang murah. Dan pasti akan sangat beruntung orang-orang yang bisa mendapatkan uang cuma-cuma untuk di bayarkan di toko itu.
"Zayn, apa kau akan memberikan uang untuk Nenek?" tanya Calvina ragu. Ia ingat bagaimana Neneknya tadi membentak Zayn di tengah keramaian.
"Ada masalah, Sayang?" tanya Zayn lembut.
"Apa kau tidak masalah?" tanya Calvina balik lagi.
__ADS_1
"Nenek juga Nenekku. Tentu tidak masalah. Kapan lagi aku bisa di beri kesempatan menyenangkan Nenek kalau bukan sekarang?" Firdaus meminta maaf atas perbuatan sang istri. Ia paham uang tidak masalah sama sekali bagi Zayn. Bahka Firdaus pun berharap hubungan Zayn dan sang istri segera membaik.
"Buat Nenek senang, Kek. Semoga marahnya segera hilang padaku." ujar Zayn senang.