
"Ayahnya melihatkan padaku dimana pernikahan Zayn dan Rista terjadi, Bu. Bahkan ketika aku mencoba kabur, mereka justru menyiksa aku dan Nenek. Begitu pun dengan Shopia." Calvina bercerita dengan pandangan sedih.
Hari pernikahan Zayn yang terjadi saat itu masih menggoreskan luka yang begitu dalam pada Calvina. Sampai detik ini pun ia masih ingat jelas bagaimana hari menyakitkan itu terjadi. Calvina melihat sendiri suami yang sangat ia cintai dan membuatnya bertahan hidup selama ini justru memilih menikah dengan wanita lain.
Rasa terkejut terlihat jelas di wajah Irene dan juga Prayan. Mendengar pelaku yang menyekap mereka adalah orang tua dari Rista. Rasa tak percaya rasanya mendengar jika orang jahat yang selama ini mengancam ketenangan Rista dan Restu juga orang yang sama menganiaya Calvina.
"Apa maksud motif dari ini semua, Ayah? Bagaimana mungkin pria itu sekejam itu pada Calvina?" tanya Irene sedih.
Berbagai penyiksaan yang Calvina dapatkan dari Candra tentu sangat menakutkan. Bahkan perlakuan itu lebih menakutkan dari yang ia perbuat pada sang anak. Prayan pun terdiam memikirkan apa yang ia dengar barusan.
"Cal, ini semua salah Ibu. Kamu mau kan kembali dengan Zayn. Kita pulang bersama demi Zayn. Kamu tetap yang utama di hati Zayn, Nak. Ibu pun demikian begitu sayang padamu." ujar Irene.
Sontak Calvina menggelengkan kepalanya. Ia tak akan mau bertemu Zayn apa lagi dalam waktu dekat. "Masih belum waktunya, Ibu. Aku masih belum siap. Zayn sudah bukan untukku lagi. Ada istrinya yang membutuhkan dia dan juga anaknya." ujar Calvina.
"Calvina, sampai kapan pun kamu masih sah menjadi istri Zayn. Ibu akan menindak ini semua. Ayah akan membantu proses untuk pria jahat itu. Jika selama ini Rista selalu memohon untuk membiarkan ayahnya, tidak kali ini. Ibu benar-benar tidak rela dia jahat padamu. Ini semua terjadi atas rencananya." tutur Irene mengusap lengan sang menantu yang nampak putus asa saat ini.
__ADS_1
Prayan mengangguk setuju akan ucapan sang istri. "Benar Calvina. Ayah akan usahakan secepat mungkin memberi pelajaran pada pria itu." Mendengar ucapan sang ayah mertua, Calvina hanya menggeleng.
"Semua sudah di selesaikan, Ayah. Mereka sudah mendapat hukuman setimpal. Pria jahat itu sudah mendapatkan hukumannya tanpa di ketahui pihak keluarga."
Panjang lebar mereka berbicara dan berusaha membujuk Calvina agar mau pulang bersama mereka. Namun, pendirian wanita itu begitu keras sehingga Irene dan Prayan tak bisa membujuknya untuk ikut pulang menemui Zayn.
Di perjalanan Irene nampak lemas sebab tak bisa membawa pulang sang menantu. Ia duduk di samping sang suami menikmati perjalanan pulang dengan pikiran kecewa. Hari ini keduanya benar-benar di buat syok dengan kemunculan Calvina tanpa mereka sangka.
"Bu, sudahlah jangan di pikirkan. Kita bersyukur Calvina bisa hidup saat ini dengan keadaannya yang sangat mengkhawatirkan. Untuk yang lain kita bisa pikirkan lagi kedepannya." tutur Prayan.
Irene menghela napas kasar. "Zayn bisa semakin kacau, Ayah. Ini semua salah Ibu. Seharusnya kita tidak menikahkan mereka sebelum semuanya benar-benar jelas. Bagaimana nasib mereka kedepannya, Ayah?" Irene merebahkan tubuh di dada bidang sang suami yang mengusap punggung tangannya.
Tanpa bertegur sapa, Zayn masuk ke dalam menuju kamar. Sementara kedua orangtuanya baru turun dari mobil. Irene dan Prayan saling pandang dengan wajah sendu melihat sikap anak mereka.
Di atas sana langit nampak masih biru, pertanda sore belum begitu larut. Angin sepoi tak bisa di nikmati ketika suasana hati hancur dengan banyaknya permasalahan pelik. Satu hari ini Zayn benar-benar tak memeriksa ponsel miliknya yang menampilkan banyak pesan dari sosok Rista.
__ADS_1
"Dimana kamu, Mas? Restu sudah menunggu kamu mulai pagi." Itu pesan terakhir dari Rista yang tak kunjung terbaca oleh Zayn.
Kegelisahan Rista di rumah sakit membuat wanita itu terpaksa mengadukan Zayn pada mertua.
"Iya, Rista. Ada apa?" sahut Irene ketika panggilan itu terhubung. Sebenarnya ia pun sudah tahu mengapa sang menantu menghubunginya. Namun, Irene sadar akan kesalahannya yang terlalu mencampuri rumah tangga sang anak. Dan kali ini ia tak ingin lagi salah.
"Bu, tolong beritahu Mas Zayn. Sejak pagi saya menghubunginya. Restu mencarinya. Dan sekarang kami di rumah sakit." ujar Rista langsung pada intinya.
Irene yang semula ingin bertanya-tanya tentang sang besan terpaksa menghentikan niatnya. Ia pun cemas akan keadaan Restu.
"Baiklah. Ibu akan sampaikan pada Zayn. Kami akan segera kesana yah, Ta?" Panggilan pun terputus.
Berbeda dengan keadaan di lain tempat. Di sini Calvina meneteskan air mata haru mendengar kabar baik dari sang nenek yang sudah sadar. Ia sangat senang ketika panggilan video tersambung.
"Nenek..." sapa Calvina berusaha tersenyum di tengah kerapuhan jiwanya.
__ADS_1
"Cal, Nenek mohon sama kamu. Jangan berurusan dengan keluarga Yonathan lagi. Nenek tidak akan setuju hal itu." Kata pertama yang susah payah Fara ucapkan akhirnya terdengar juga.
Senyum haru Calvina dan keluarga yang di sana nampak hilang saat mendengar ucapan Fara. Tak menyangka jika hal itu masih terlintas di benak wanita tua yang sangat keras kepala.