Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Nasihat Shopia


__ADS_3

Bukannya membalas, Zayn justru memilih berbaring di kamar dan menghubungi sang istri yang jauh di sana. Wajah Calvina terlihat mengembangkan senyum di layar ponsel itu. Zayn juga membalas senyumannya.


"Ada apa? Bukannya istirahat." tanya Calvina.


Sejujurnya Zayn tengah pusing dan Calvina adalah obat dari segala masalahnya. Ia merindukan kehadiran sang istri.


"Andai saja kau bisa ikut ke sini, Sayang. Aku sangat senang pasti selalu bersamamu." sahut Zayn.


Ia tak perduli jika di lain tempat seseorang gelisah menunggu pesannya tak kunjung di balas. Kini Rista sadar jika Zayn mulai menjauh dari mereka. Sedih melihat sang anak yang sampai sakit merindukan pria yang bukan ayah kandungnya. Hanya bisa menatap Restu dalam pandangan sendu.


"Restu harus segera tidur yah. Ibu akan menghubungi ayah nanti." patuh sang anak pun tidur dengan lelapnya. Rista memilih keluar dari rumah duduk di teras rumahnya. Pemandangan desa yang asri tentu membuat tenang siapa saja yang memandangnya.

__ADS_1


Di sunyinya hari ini, Rista menunduk menjatuhkan air mata penyesalan. Menyesal telah menyetujui rencana sang ayah. Andai ia tak ikut dengan rencana pria tua itu, sudah pasti semua keluarga Zayn tak akan membencinya. Penyesalan tinggallah penyesalan. Kini waktunya ia berpikir untuk menata hidup bersama anaknya lebih baik lagi.


Sampai pada akhirnya, Rista mengirim pesan lagi pada Zayn. "Aku minta maaf menyusahkanmu. Aku bisa mengatasi semuanya termasuk untuk anakku. Terimakasih atas kebaikan kalian selama ini." Setelah pesan terkirim, Rista mencabut kartu di ponsel dan mematahkannya lalu melempar ke sembarang arah.


Ia berjanji tak akan lagi berhubungan dengan Zayn. Di sini Zayn yang membaca pesan itu memilih mengakhiri panggilan video bersama sang istri.


"Sayang, aku mandi dulu yah." Panggilan pun berakhir setelah Calvina setuju.


"Zayn!" Dari luar kamar Zayn mendengar panggilan. Itu adalah suara sang ibu. Segera ia bergegas memakai baju dan membuka pintu.


"Makanan sudah siap. Ayo makan bersama." ajak Irene lembut. Keduanya berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada sang ayah yang duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


Tak ada yang tahu jika di sini Calvina melamun memikirkan sang suami yang entah kapan akan bertemu dengan Restu. Rasa kasihan pada anak kecil itu membuatnya terus memikirkan Zayn.


"Kak, lagi mikirin apa sih?" tanya Shopia mendekati Calvina.


"Kamu nggak ada kerjaan yah selain ngagetin begitu?" cetus Calvina kesal. Namun tetap saja suaranya terdengar lembut.


Shopia tersenyum melihat wajah cantik kakaknya. "Uluh...ini nih wajah yang bikin Kak Zayn susah move on. Cantik tapi nggak bisa galak." goda Shopia lagi.


Calvina justru acuh akan godaan sang adik. Ia mengalihkan wajah ke arah lainnya. "Shopia, Kakak jahat nggak sih sama Restu? Kakak sedih bayangin anak kecil itu pasti merasa kehilangan kebahagiaannya. Kakak aja yang pernah merasakan kehilangan anak sangat sakit. Apalagi anak seperti dia yang masih kecil harus merasakan kehilangan ayahnya."


Shopia menghela napas kasar mendengar ucapan sang kakak. Ia pikir permasalahan tentang Rista dan Restu sudah usai. Ternyata sang kakak masih saja memikirkan mereka.

__ADS_1


"Bisa nggak sih Kak, sekali aja Kakak itu mikirkan perasaan Kakak dan Kak Zayn? Kalau Kakak mau mikirkan semua perasaan orang kayaknya satu abad pun Kakak di beri umur nggak akan cukup. Kalau Kakak kuat dengan perasaan sakit Kakak, minimal Kakak pikirkan dong perasaan Kak Zayn. Selama ini Kak Zayn sudah sangat menderita hidup dalam kesedihan melihat wanita yang dia cintai koma bertahun-tahun. Masa Kakak masih mau memikirkan orang lain. Restu memang anak kecil, Kak. Tapi kasih sayangnya pada Kak Zayn belum sedalam kasih sayang Kakak ke Flora yang sudah bersama lebih lama. Anak kecil belum terlalu dalam menyimpan memori, Kak. Restu hanya butuh waktu dan butuh pengganti Kak Zayn saja."


__ADS_2