
Di kamar pengantin lama yang rasa baru itu berbaring dengan suasana hening. Jujur Calvina merasa berdebar kala berdekatan dengan sang suami yang sudah lama tidak bersamanya. Sebisa mungkin wajah wanita itu datar. Ia tak mau menunjukkan sikap malu pada Zayn. Zayn yang terus mengusap lembut perut sang istri.
"Semoga anak kita kali ini bisa baik-baik saja sampai tumbuh dengan dewasa." ujar Zayn penuh harapan. Setelah semua masalah yang mereka lewati kini Tuhan kembali memberikan kepercayaan pada mereka untuk menjadi orang tua.
"Maaf jika di masa lalu aku telah lalai menjadi seorang Ibu. Aku sangat menyesal." ujar Calvina.
Kini wanita itu akhirnya mengucapkan maaf pada suaminya. Meski kejadian itu sudah sangat lama, tetapi mereka baru memiliki waktu sekarang. Zayn pun mengangguk tersenyum. Ia mendaratkan kecupan dalam pada kening sang istri. Rasa rindu dan cinta menyatu dalam kecupan bibir pria tampan itu. Calvia pun tak lagi menolak, terlebih ketika tangannya di bawa oleh Zayn melingkar pada tubuhnya. Keduanya saling berpelukan berbaring di atas ranjang.
Sementara Fara tampak duduk merenung di dalam kamarnya. Memikirkan apakah keputusannya saat ini sudah tepat memberi kesempatan pada Zayn untuk bersama sang cucu. Kekhawatirannya terlalu besar jika pada akhirnya Calvina menangis kembali akibat ulah Zayn.
"Setiap pernikahan pasti akan ada ujian. Calvina sudah dewasa dan kuat saat ini. Biarkan dia menata rumah tangganya. Kita hanya perlu menjadi pendengar dan contoh untuk anak cucu kita, Fara. Kelak ketika kita sudah tidak ada mereka akan tetap baik-baik saja karena sudah mampu menghadapi masalahnya sendiri dengan kuat." Firdaus perlahan memberi nasihat pada sang istri.
Fara menoleh menatap sang suami. "Tapi, bagaimana jika aku memberi keputusan yang salah saat ini? Bisa saja Zayn kembali menyakiti cucuku. Aku tidak akan rela hal itu terjadi." tutur Fara. Firdaus menggelengkan kepala mengatakan dengan isyarat jika ia tidak bersalah sama sekali.
Keduanya pun berbaring setelah pria tua itu meminta sang istri ikut berbaring dengannya. Semua pun di pikiran mereka masing-masing tentang Calvina yang tak bisa di bawa pulang selama kehamilan. Meski dokter bisa membantu mereka untuk memeriksa, tetapi ketakutan jika gagal menjaga kehamilan Calvina membuat semuanya cemas.
Kini semua yang beristirahat di kamarnya akhirnya berkumpul menjadi satu di meja makan. Suasana malam itu tampak ramai sekali tak seperti biasa yang memasang wajah sendu. Malam ini mereka semua senyum bahagia kecuali Fara yang seperti biasa menampakkan wajah datar.
__ADS_1
"Makanlah yang banyak, Cal. Cicit Nenek membutuhkan banyak gizi untuk pertumbuhannya." Calvina mengangguk tersenyum.
Kali ini ia di layani seperti ratu oleh suaminya. Zayn mengisi semua makan di piring Calvina tak lupa ia mendekatkan susu di samping sang istri lalu mengusap kepalanya dengan sayang.
"Terimakasih." ujar Calvina. Semua mulai makan dengan tenang.
Setelah makan selesai, Zayn membuka pembicaraan.
"Nenek." panggilnya pada Fara yang langsung memberikan tatapan tajam.
"Bagus. Dengan begitu aku tidak perlu cemas dengan istri keduamu itu jika akan mengganggu cucuku." Fara membungkam ketika tangannya di genggam oleh sang suami.
Zayn terdiam beberapa saat sampai ia kembali angkat suara. "Maaf, ini hanya untuk sementara saja, Nek. Calvina memiliki riwayat lemah kandungan. Aku akan membawa kalian semua kembali setelah Calvina lahiran. Dengan begitu aku akan kembali ke sini setiap dua minggu sekali. Jika bisa, aku akan lebih cepat dari waktu itu kembali." Mendengar sang suami berkata dua minggu sekali, Calvina menoleh. Meski semuanya sudah mereka diskusikan sebelumnya di dalam kamar. Entah mengapa rasanya berat melepaskan suaminya pergi jauh lagi.
Rasa rindu yang ia rasakan selama ini begitu sulit untuk terbayarkan dengan pertemuan selama apa pun. Hanya bersama selamanya yang bisa membuat Calvina tenang. Sayang, posisinya yang sebentar lagi menjadi ibu memaksanya harus memilih. Menetap di Jerman demi sang anak, atau kembali ke Indonesia dengan kandungan yang terancam keguguran.
"Untuk Rista, Nenek tidak perlu khawatir. Dia sudah bukan istriku lagi. Dan secepatnya surat cerai kami akan keluar. Seseorang juga selalu memantau pergerakan mereka untuk keamanan Calvina." Bukannya menyahut ucapan Zayn, Fara justru membuang muka acuh dengan kata-kata cucu menantunya yang panjang lebar itu.
__ADS_1
Baginya ia tak butuh ucapan apa pun dari Zayn, yang terpenting adalah bukti dari tindakannya.
"Kami semua mendukung apa pun keputusan kalian, Zayn. Ibu percaya semuanya adalah yang terbaik untuk kalian dan juga kandungan Calvina. Kamu jangan cemas, Ibu dan Shopia akan tetap di sini menemani Calvina. Jadi kamu bisa bolak balik bersama ayahmu saja. Iya kan, Ayah?" tanya Gauri menyikut pelan sang suami. Sontak hal itu membuat Matthew mengangguk pasrah.
Meski sebenarnya ada rasa keberatan jika ia harus ikut berjauhan dengan sang istri. Tapi, semua demi anaknya. "Kalau Ayah mungkin akan seminggu sekali ke sininya kalau begitu, Bu." ujar Matthew dengan lucu menggoda sang istri.
Calvina dan lainnya terkekeh. "Dasar, yang muda malah kalah sama yang tua." umpat Gauri masih bisa terdengar.
"Umur kita sudah tua, Bu. Justru itu harus banyak-banyak menghabiskan waktu dengan pasangan. Soal uang kan sudah cukup untuk anak cucu kita. Apa lagi yang mau Ayah cari?" ujar Matthew menggoda istrinya.
Di depan mereka, Firdaus menuangkan air untuk istrinya lalu ia menuntun sang istri duduk di sofa ruang keluarga. Semua atas permohonan Zayn untuk kerja sama. Setidaknya dengan perhatian lebih dari suaminya, Fara perlahan akan membaik pikirannya. Jika wanita tua itu sudah bahagia mungkin akan mudah memaafkan Zayn dan menerimanya kembali.
Di sini keluarga mereka tengah menikmati hari bahagia berkumpul bersama, tanpa mereka tahu jika Rista tengah mengemasi barang-barang dari rumah itu. Pikirannya benar-benar kacau. Restu yang melihat semua barang mereka di kemasi mendadak bingung.
"Ibu, kita mau pindah lagi?" tanyanya dengan wajah sedih. Sebagai bocah ia tentu tak suka jika dengan suasana baru yang tidak ia sukai.
"Sayang, Ibu tidak tahu harus mencari uang di mana jika kita tetap di kota ini? Kita harus pergi ke desa untuk bisa bertahan hidup. Ibu belum mendapatkan pekerjaan." tutur Rista pada sang anak. Ia melihat perubahan wajah Restu yang sendu. Bahkan mobil pemberian Zayn pun sudah ia jual untuk membuka usaha di desa yang sudah ia pilih. Desa tempat sang ibu di lahirkan dulu.
__ADS_1