Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Demi Menebus Salah Pada Nenek


__ADS_3

Di tengah sunyinya malam di pedesaan kini Rista duduk termenung sendiri di dalam kamar. Bocah kecil yang setia menemani perjalanannya tampak lelap di sampingnya. Rista tak tahu bagaimana ia menemukan sang ayah kali ini. Orang yang ia harapkan bisa bercerita banyak hal justru jatuh sakit dan tentu informasi yang ia inginkan tak akan mudah ia dapatkan kali ini. Jarum jam yang terus berputar lambat laun membuat Rista memejamkan mata dengan posisi duduk bersandar. Lupa jika tubuhnya begitu lelah sampai ia tak sadar tidur dengan pikiran yang masih berputar di kepalanya.


Berbeda halnya dengan keadaan di rumah sakit. Fara yang sudah membuat semua keluarga cemas termasuk Zayn, kini akhirnya sadar juga. Bibirnya yang masih bungkam dengan mata menatap sekeliling sontak membuat wanita cantik yang menangis langsung berhambur memeluknya.


"Nenek, aku minta maaf. Nenek jangan sakit lagi. Nenek jangan tinggalkan kami." Calvina begitu takut kehilangan sang nenek. Ia sadar jatuh sakitnya Fara kali ini tentu karena kesalahannya. Calvina telah melanggar kesepakatan dengan sang nenek.


Dimana seharusnya ia tetap tidak keluar menemui Zayn dan apa lagi sampai berpelukan seperti itu. Calvina tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Fara. Sampai detik ini pun wanita tua itulah yang paling membela Calvina saat ia koma.


Fara mengangguk lemas. Ia senang mendengar permintaan maaf sang cucu. Tangan keriput yang menempel jarum infus itu mengusap kepala sang cucu. Bahagia rasanya ketika orang yang ia sayangi pun sama begitu menyayangi dirinya.


"Nenek senang ketika sadar melihat kamu, Cal. Nenek begitu sangat menyayangi kamu. Itu sebabnya Nenek tidak akan mau melihat kamu sedih dan menderita. Nenek akan memperjuangkan kebahagiaan kamu, Sayang." tutur Fara.


Semua yang ada di ruangan itu hanya diam saling pandang. Sudah bisa menebak apa yang akan Fara lakukan. Dan pasti Calvina tidak akan membantah lagi kali ini. Hanya Zayn yang menatap setiap gerakan tubuh sang istri dengan penuh harap. Ia berharap besar jika Calvina akan kembali padanya. Setidaknya Zayn mendapat kesempatan untuk berbicara dan memecahkan masalah mereka berdua.


Menemani Calvina sepanjang waktu bahkan Zayn sampai tak ingat lagi tentang keluarganya. Ia tak tahu jika saat ini sang istri sedang di rumah yang cukup jauh dari tempatnya bersama Restu pula.


"Bu, istirahatlah lagi. Kami akan menunggu Ibu di sini sampai sembuh. Tubuh Ibu benar-benar lemas." tutur Gauri mendekati sang Ibu.


Calvina bergegas melepaskan pelukan di tubuh sang nenek. Baru saja ia akan melangkah menjauh berganti dengan ibunya, tiba-tiba suara Fara terdengar bersamaan dengan tangannya yang menggenggam tangan Calvina.

__ADS_1


"Calvina ikut saya ke Jerman." Serentak semua bibir yang ada di ruangan itu tercengang lebar. Termasuk sang suami dari wanita tua itu.


Sebelumnya mereka sudah memutuskan untuk menetap hidup di Indonesia agar lebih dekat dengan anak dan cucu. Namun, kini keputusan Fara tiba-tiba berubah bahkan tanpa ada bicara dengan sang suami.


"Ne-nek?" Calvina terbata bibirnya terasa sulit berucap karena sangat kaget.


Zayn menggeleng menatap sang istri. Tatapan sangat jelas jika pria itu sedang memohon pada Calvina agar tidak ikut dengan ucapan neneknya. Begitu pun Gauri dan Matthew yang langsung mendekati anak dan ibu mereka.


"Baiklah, Nek. Aku akan ikut Nenek ke Jerman dan merawat Nenek di sana." Sampai pada akhirnya Calvina menyanggupi permintaan sang Nenek.


Matanya kemudian bergerak ke arah Zayn. Pria yang menatapnya dengan bola mata berkaca-kaca. Zayn terus menggeleng memohon agar Calvina menarik ucapannya.


Ingin sekali rasanya menolak ucapan sang ibu. Tapi, mereka takut jika sampai terjadi sesuatu pada Fara. Begitu pun dengan Zayn yang tak bisa berbuat apa pun. Baginya sudah cukup ia membuat kesalahan selama ini. Zayn tidak ingin Calvina semakin membenci dirinya jika sampai sang nenek terjadi sesuatu ketika ia menentang keputusannya.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Nenek ku, Zayn." Itu yang Zayn bisa tangkap saat mata keduanya saling pandang.


Susah payah Zayn menahan genangan air mata hingga pria itu membungkam bibirnya dengan bibir bawahnya sekaligus menganggukkan kepala paham. Ini bukan hal yang mengakihiri perjuangannya.


"Aku tahu aku salah, Cal. Dan aku tidak akan berhenti mengusahakan semuanya. Sekarang aku akan berjuang lagi untuk kita. Aku tidak akan menyerah jika hanya Jerman penghalangnya."

__ADS_1


Malam hampir subuh semua bersiap untuk tidur di ruangan itu. Sebagian menunggu di luar ruangan. Tentu saja Zayn dan ayah mertua yang duduk di luar ruangan. Bukan karena ruangan tak cukup. Melainkan Matthew ingin berbicara banyak hal pada sang menantu untuk pertama kalinya.


Di dalam, Calvina, Shopia, dan sang ibu sudah terlelap.


"Rumah tanggamu dan Rista masih bisa di pertahankan, Zayn. Apa kamu tidak memikirkan hal itu? Ada Restu yang akan menjadi korban jika kamu memutuskan hubunganmu dengan ibunya." tutur Matthew menatap sang menantu.


Zayn sebenarnya juga sangat bimbang jika harus memikirkan tentang Restu. Anak yang tidak bersalah sama sekali pasti akan merasa kehilangan sosok ayah yang selama ini begitu sayang padanya. Jika berpisah dengan Rista otomatis Zayn tidak akan bisa memberikan kasih sayangnya pada Restu setiap saat. Membawa Restu bersamanya pun hal yang paling tidak mungkin. Mereka berdua sama sekali tak ada hubungan darah.


"Aku hanya mencintai Calvina, Ayah. Satu-satunya istri yang sangat aku cintai sampai saat ini. Dan aku berhak mempertahankan istri pertamaku. Termasuk meninggalkan apa pun yang akan membuatnya sakit." ujar Zayn mantap.


Terdengarnya sangat egois. Namun, semua ini terjadi bukan keinginan Zayn. Melainkan keluar yang terus mendesak dan juga demi menolong Rista dari amukan ayahnya.


"Yah meski Ayahnya Rista sudah di penjara, tapi tidak menutup kemungkinan Rista akan terus mendapat tekanan jika dia tidak bersama kamu, Zayn." tambah Matthew menasehati. Dalam lubuk hati terdalam ia pun juga bingung di hadapkan masalah seperti ini. Apalagi jika ia di posisi Zayn, entah apa yang ia jadikan keputusan.


"Aku tidak memikirkan hal lain saat ini selain untuk Calvina, Ayah. Aku akan pikirkan semuanya setelah aku bisa menyelesaikan masalahku dengan Calvina. Aku sangat merindukan istriku, Ayah. Bertahun-tahun aku menunggunya sadar, mengapa setelah kami di pertemukan justru dengan keadaan seperti ini? Aku sangat ingin berada di sampingnya dan melepaskan semua rindu ini." Sedih Matthew mendengar curhatan hati sang menantu.


Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bagaimana Zayn sangat setia menemani Calvina yang sudah kecil kemungkinan sadar kembali.


"Tidak, Zayn. Aku tidak setuju." Suara itu tiba-tiba muncul.

__ADS_1


__ADS_2