
Suasana haru dan bahagia menyelimuti ruangat tempat Calvina di rawat. Hari ini tubuhnya sudah sangat baik dan segar. Dokter sudah menyampaikan pada Fara jika cucunya itu sudah bisa pulang. Dan tidak baik jika terlalu lama di rumah sakit yang banyak penyakit. Lantas wanita tua itu pun setuju. Ia meminta dokter mengeluarkan Calvina.
"Baiklah, Dokter. Tapi saya juga artinya harus keluar. Dimana ada cucu saya di situ juga harus ada saya." Semua terheran mendengar penuturan Fara.
"Nenek, kondisi Nenek masih lemas. Aku tidak mau Nenek jatuh sakit hanya karena aku lagi." ujar Calvina yang membujuk.
Fara menggelengan kepala kekeuh untuk tetap pulang. "Nenek harus tetap pulang. Ayo kita bersiap pulang." ujarnya.
Semua hanya diam saling melirik satu sama lain. Jika saja Firdaus tak mencintai istrinya ini mungkin ia sudah berdoa jika Fara segera di panggil sang kuasa saja.
"Dasar wanita keras kepala tidak ada berubahnya." gumam Firdaus.
Mereka pun akhirnya menurut. Berkemas dan pergi dari rumah sakit saat itu juga. Sepanjang perjalanan Calvina tampak bahagia mengusap perutnya yang masih rata. Meski rasa mual tiba-tiba hadir ia rasakan, itu bukan masalah. Baginya yang terpenting saat ini ia hamil dan sebentar lagi akan memiliki anak.
"Mamah harap kamu bisa lahir dengan baik dan tumbuh hingga dewasa, Sayang. Mamah tidak akan keras kepala lagi saat ini." ujar Calvina dalam hati.
__ADS_1
Jujur ia merasa sangat takut jika sampai lalai menjadi seorang ibu seperti yang ia lakukan sebelumnya pada kedua anaknya. Di saat mengingat masa lalu, mendadak Calvina merindukan makam anaknya. Flora yang sudah tumbuh lebih lama bersamanya tentu tak mudah terlupakan begitu saja. Ingin rasanya ia pergi ke makam dan bercerita pada sang anak jika dirinya tengah hamil. Sayang, jarak yang begitu jauh tak memungkinkan ia datang saat ini.
"Calvina, makan yang banyak setelah ini. Nenek tidak mau terjadi sesuatu pada cucu Nenek. Dia harus tumbuh sehat." ujar Fara menegur dan Calvina mengangguk tersenyum.
Pikirannya saat ini sedang bimbang. Mau selama apa Calvina menetap di Jerman? Sedangkan di Indonesia ia memiliki kedua orangtua, makam anaknya, dan juga suaminya ada di sana. Sekali lagi, rasa sayang dan bersalah yang terlalu besar membuat Calvina tak berdaya pada sang nenek. Ia takut jika sampai kehilangan Fara.
"Nenek juga harus tetap sehat yah? Calvina takut kalau Nenek selalu sakit-sakit begini." Tiba-tiba wanita hamil itu memeluk tubuh neneknya. Ia sangat menyayangi wanita tua keras kepala itu.
Fara tersenyum mengusap kepala sang cucu. "Nenek akan sehat untuk menunggu lahirnya cicit Nenek. Nenek akan sehat untuk melindungi kalian kelak. Satu pun orang yang berniat jahat akan berhadapan dengan Nenek." Begitu besar kasih sayang keduanya. Bahkan Gauri yang sebagai ibu dari Calvina pun tak pernah melakukan hal itu pada putrinya. Tampak kedekatan Fara melebihi anak pada ibunya.
Meski kini dalam hati Calvina sedang mencemaskan Zayn. Namun, di depan sang nenek ia tak berani menyebut nama sang suami.
Di sini, pria yang Calvina pikirkan tengah menunggu pelayan mengemas beberapa barangnya untuk ia bawa kembali ke Jerman.
"Zayn, kamu baru tiba di Indonesia. Apa tidak istirahat dulu baru berangkat?" tanya Irene mencemaskan sang anak. Darah di tangan pria itu masih terlihat belum benar-benar bersih.
__ADS_1
"Calvina membutuhkan aku, Bu. Kami harus segera berbicara. Aku sudah menceraikan Rista. Dan surat cerai kami akan segera menyusul. Doakan aku, Bu bisa membawa pulang istriku kembali dan calon anakku." Betapa kaget Irene mendengar ucapan anakya.
"Hah? Ca-calon anak? Maksud kamu?" tanya Irene gelagapan. Tak mengertia siapa yang Zayn maksud barusan.
"Calvina hamil, Bu. Bibit ku benar-benar unggul dalam sekali tanam." ujar Zayn yang terkekeh kecil kala mengatakan hal tersebut.
Irene memandang syok pada sang suami. Seolah meminta pembenaran apa yang ia dengar barusan. Prayan pun hanya bisa diam saja. Menunggu Zayn kembali melanjutkana ceritanya.
"Yang jelas ini semua berkat bantuan Ayah Matthew, Bu. Calvina hamil dan ini pertanda hubungan kami tidak bisa di pisahkan. Maka dari itu aku mengambil tindakan menceraikan Rista apalagi setelah tahu semua yang dia perbuat bersama Ayahnya."
Zayn menceritakan semuanya yang terjadi pada kedua orangtuanya. Mereka tahu bagaimana Rista sangat jahat. Itu sebabnya Irene bahkan tak lagi mau bersikap baik pada wanita itu. Singkat cerita Zayn pun pamit untuk pergi ke Jerman. Irene dan sang suami menunggu kepulangan Zayn membawa Calvina kembali ke Indonesia.
Berbeda dengan keadaan Rista yang berada di dalam mobil menuju pulang ke rumah sang ayah. Supir yang di utus Zayn mengantar mereka pulang mengemudikan mobil tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Restu menatap ibunya yang terus membuang wajah ke jendela samping. Wanita itu meneteskan air mata tanpa suara. Sedih kehilangan suami yang berusaha ia pertahankan. Kini tak bisa lagi ia berbuat apa pun. Restu tak berani berbicara pada sang ibu. Ia tahu saat ini Rista membutuhkan waktu sendiri. Hanya memeluk tubuh ibunya yang bisa Restu lakukan. Takut jika berbicara akan membuat sang ibu tiba-tiba marah.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega sama aku, Mas? Dari awal bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku hanya membalas kebaikan kalian semua. Tapi, di saat aku berusaha mempertahankan pernikahan kita, kalian semua memojokkan aku. Padahal kalian tahu jika aku tidak mencegah Calvina keluar. Sudah pasti cepat atau lambat pernikahan ini pasti hancur. Aku hanya mempertahankan apa yang kalian berikan padaku. Aku hanya mempertahankan statusku yang kalian berikan dahulu." Jeritan hati rasanya pilu sekali Rista rasakan saat ini. Selain Restu, ia tak punya siapa-siapa lagi.