
Zayn yang bergegas kembali ke Jerman membuat Irene dan sang suami tak bisa mencegah anak mereka. Zayn tidak akan mendengarkan mereka lagi jika menyangkut tentang Calvina. Istrinya tidak ada yang tahu yang paling baik selain dirinya sendiri saat ini. Menyadari jika semua terjadi karena mereka, akhirnya Irene hanya mengantar kepergian sang anak dengan pelukan hangat. Dewasanya Zayn saat ini bagi Irene tetaplah dia anak kecil yang selalu ia rindukan kepulangannya.
"Hati-hati, Zayn." ujar Irene bersama Prayan. Zayn mengangguk meninggalkan rumah dengan perasaan gelisah. Gelisah karena perjalanan yang ia tempuh harus memakan waktu lama. Andai bisa membeli jarak tempuh mungkin akan Zayn lakukan saat ini.
Selama di perjalanan pria itu nampak gelisah tak sabar untuk segera tiba dan memeluk istrinya. Ia begitu merindukan Calvina. Rindu yang sangat sulit untuk ia lampiaskan karena berbagai masalah menghalangi keduanya bahagia bersama.
Sementara di sini Rista yang baru terbangun dari tidurnya ketika hari telah pagi, segera wanita itu bergegas menyiapkan sarapan sang anak dan mengantarnya sekolah. Restu harus tetap sekolah di samping ibunya yang menghadapi berbagai macam cobaan. Sedih memang namun sebagai orangtua tunggal itu adalah hal yang seharusnya di jalankan oleh Rista saat ini.
__ADS_1
"Ayo sayang, bangun. Kita siap-siap ke sekolah kamu yah?" ujar Rista saat membangunkan sang anak.
Restu patuh namun beberapa saat bocah itu tampak linglung seolah mencari seseorang. Rista tahu sebab ini bukan pertama kali Restu lakukan. Sejak jarang bersama Zayn, sang anak sering menanyakan keberadaan sang ayah. Meski kali ini Restu tak mengucapkan isi hatinya. Ia hanya terdiam beberapa saat lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kasihan kamu, Nak. Maafkan Ibu yah. Ibu gagal melengkapi hidup kamu dengan mempertahankan Ayah. Maafkan Ibu, Restu." Rista sangat sedih. Mengingat dirinya sudah di jatuhkan talak oleh Zayn. Sementara surat perceraian hanya menunggu waktu untuk ia dapatkan.
Restu yang menuju kamar mandi tampak mengintip sang ibu. Ia lihat jika Rista menunduk meneteskan air mata. Ibunya benar-benar rapuh saat ini. Tak Rista sangka jika pernikahannya yang tiba-tiba terjadi dan membuatnya bahagia harus berakhir secepat ini. Meski ia sudah tahu hubungannya bersama Zayn cepat atau lambat pasti akan hancur. Namun, tidak sesingkat ini juga dalam bayangannya.
__ADS_1
Pagi itu Rista bergegas menyiapkan dua bekal. Yang satu untuk sang anak dan satunya lagi untuk sang ayah.
"Ibu, kenapa bekalnya dua?" tanya Restu penasaran.
"Ini buat Kakek yang satu. Ayo sekarang Restu harus pergi sekolah." jawab Rista lembut.
"Kakek itu jahat. Tidak usah di beri makan, Bu." sahut Restu kesal.
__ADS_1
Ia tak suka dengan tingkah Candra yang terlampau kasar pada mereka. Namun, Rista membujuk anaknya agar tidak marah pada kakek. Ia memberi pengertian pada sang anak untuk menerima kakek dan menunggu ia berubah menjadi baik. Keduanya meninggalkan rumah menuju sekolah dan terakhir Rista menuju tempat sang ayah di penjara.
"A-ayah?" Syok pertama kali bertemu ia melihat wajah sang ayah babak belur.