Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Perjanjian


__ADS_3

Dengan wajah syoknya Zayn berlutut di depan sang anak, kedua tangannya berpegang pada kedua lengan sang anak yang menunjuk foto milik sang istri. Di lain arah Rista justru membungkam bibir dengan wajah pucatnya.


"Sayang, kamu benar melihat wanita yang di foto ini? Restu tidak bohong kan? Dimana Restu bertemu? Ayo katakan pada Ayah." pintah Zayn mendadak antusias. Tanpa sadar aksinya justru melukai hati seorang wanita yang baru saja merasa puas dengan apa yang ia miliki.


"Mas Zayn, sudah cukup. Restu masih kecil. Dia tidak tahu apa-apa apalagi membedakan seseorang. Sayang, ayo ganti baju dan segera makan." Tanpa mendengar ucapan Zayn, Rista sudah bergegas menarik sang anak menuju kamarnya.


Tak puas mendapat ucapan sang istri, Zayn lebih memilih keluar dari rumah. Rasa penasaran membuatnya tak bisa lagi menahan diri. Zayn kekeuh harus memastikan ucapan sang anak salah. Mobil yang ia kendarai dengan laju kini mengarah ke rumah sang mertua.


"Jika memang benar ucapan Rista, lalu siapa wanita itu? Aku tidak akan pernah membiarkan diriku melakukan kesalahan. Lalu, apa ini alasan Ibu selalu menghindari aku selama ini?" gumam Zayn bertanya-tanya.


Sudah beberapa kali semenjak kepulangannya dari luar negeri bersama keluarga kecilnya, ia begitu sulit bertemu dengan sang ibu mertua mau pun ayah mertuanya. Seolah mereka menjauhi Zayn secara halus meski sesekali memberi kabar melalui pesan.

__ADS_1


Di kediaman yang baru saja Zayn tinggalkan nampak Rista mondar mandir di kamar Restu menggigit ujung jarinya. Keningnya penuh dengan cucuran keringat.


"Aku harus menemui Ayah. Aku harus meminta penjelasan dengan Ayah. Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Tidak mungkin dia bebas. Ayah sudah berjanji padaku akan menjaganya." ucap Rista yang baru mengakui jika dirinya pada akhirnya bersekutu dengan sang ayah demi menyelamatkan sang anak.


Semula Rista tak menyetujui dengan ide licik sang ayah. Tanpa sadar ancaman yang sering di lakukan oleh Candra pada sang anak membuat Rista merasa ketakutan hingga akhirnya menyetujui untuk memiliki Zayn dan semua hartanya.


**Falshback on**


Rista duduk menangis menatap pria kejam di depannya. Hangat pelukan seorang ayah sangat ingin Rista rasakan saat ini. Tubuh tegap milik Candra ingin sekali ia peluk dan mengatakan ia sangat merindukan kasih sayang orangtuanya. Sayang, semua itu hanyalah hayalan semata.


"Restu cucu Ayah. Bagaimana bisa Ayah bersikap kejam seperti itu? Apa salah kami, Ayah?" tanya Rista menangis.

__ADS_1


Candra bahkan tak gentar sama sekali melihat tangisan sang anak.


"Pilihan ada di tanganmu, Rista. Bahkan aku bisa saja memunculkan wanita itu dan membuatmu jadi tersangka atas penyekapan menantu keluarga Yonathan. Dan kamu tahu apa konsekuensinya jika mereka tahu hal itu?" Sunggingan senyum licik terpancar di wajah pria tua itu. Rista hanya menangis menggelengkan kepala tak menyangka dengan ucapan sang ayah yang begitu tega melibatkan namanya dalam rencananya sendiri.


Tak ada pilihan, Rista hanya bisa menuruti ucapan sang ayah. Ia setuju untuk menjadi istri Zayn dan memiliki apa yang Candra perintahkan.


"Baiklah. Aku setuju tapi dengan syarat. Ayah membiarkan hidup anakku aman tanpa menyentuhnya sedikit pun. Bahkan aku meminta waktu untuk menjadi istri Zayn dengan hamil anaknya. Beri aku waktu, dan satu lagi. Ayah tidak boleh menyakiti istri pertama Zayn. Mereka orang yang sangat baik." Hanya anggukan dengan tawa licik yang Zayn prelihatkan saat ini. Pria tua itu seakan tidak tertarik sama sekali dengan syarat yang Rista utarakan. Pikirannya hanya fokus pada tujuan untuk mendapatkan sebagian milik keluarga Yonathan.


"Pastikan anakmu laki-laki, Rista."


Di pemakaman sang ibu Rista hanya menangis melihat kepergian sang ayah dengan santai tanpa simpatik sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2