Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kedatangan Keluarga Kembali


__ADS_3

Hentakan langkah kaki yang bersentuhan dengan lantai marmer rumah milik Irene terlihat terus bergerak tanpa ragu. Ada air mata kehancuran yang berusaha wanita itu tahan sampai detik ini setelah mendengar ucapan Zayn pada sang ibu. Tak ada kata penyesalan yang Zayn ucapkan dalam pernikahan keduanya. Tetapi, arti kata yang Zayn utarakan seolah ingin ia hindari sejak dulu sampai saat ini.


"Bu-bukan begitu. Jangan salah paham, Rista." sahut Zayn melihat sang istri menatapnya dalam.


Tak ingin semakin melukai hati sang istri, Zayn hanya bisa berkilah tanpa tahu alasan apa yang bisa ia gunakan saat ini. Rista dengan segala penat di pikirannya mencoba mengembangkan senyum kecil.


"Kita sudah menikah dan berkomitmen untuk bahagia bersama bukan?" tanyanya pada Zayn. Pria itu hanya bisa mengangguk tanpa suara.


"Apa komitmen seperti itu masih bisa di rubah dengan hal lain? Mas Zayn, apa arti aku dan Restu untuk Mas?" Satu minggu Rista mencoba bertahan dengan keadaan pernikahannya yang terguncang, tidak hari ini.


Ia memilih datang ke rumah sang mertua ingin membicarakan tentang Calvina yang sempat di bahas oleh Irene padanya di rumah sakit waktu itu. Sayang, Rista justru mendapati sang suami berada di rumah sang mertua. Ia pikir Zayn sedang sibuk bekerja.


Zayn terdiam mencerna pertanyaan sang istri. Bahkan ia sendiri tak tahu apa arti Rista baginya. Sementara Restu adalah anak yang sudah ia sayangi sejak lahir ke dunia. Tapi, apa pun itu tak akan bisa mengalahkan sayangnya Zayn pada Calvina.


Melihat Zayn yang hanya diam, Rista enggan berlama-lama di tempat itu. Pikirannya menangkap ada sesuatu yang tak beres. Irene yang tiba-tiba membahas Calvina, dan Zayn yang tiba-tiba kembali berubah.


"Aku harus segera menemukan penyebabnya secepat mungkin. Aku tidak bisa biarkan apa yang sudah aku dapatkan dengan baik hilang begitu saja. Aku melakukan yang benar. Pernikahanku dan Zayn adalah takdir. Tidak ada yang bisa memisahkan kami." gumam Rista.

__ADS_1


"Rista," panggil Irene namun tak ada jawaban atau pun respon dari sang menantu. Berbalik badan Rista mengusap air mata yang jatuh. Kini ia memilih pergi ke alamat satu-satunya anak buah sang ayah yang belum sempat ia kunjungi karena jarak yang cukup jauh.


Zayn pun memilih pergi dari rumah sang ibu. Irene hanya berdiri dalam pikirannya yang bingung. Selang beberapa saat berlalu kini Rista sudah berhasil membawa sang anak ikut dengannya. Kebetulan besok adalah hari libur Restu bersekolah.


"Kita mau kemana, Bu?" tanya Restu antusias.


"Ibu ada urusan. Restu mau kan temani Ibu?" Dengan wajah bahagia, Restu mengangguk setuju. Ia tak keberatan kemana pun harus pergi asal bersama sang ibu.


"Apa Ayah tidak ikut? Restu juga belum salim sama Ayah, Bu." sahutnya mengingat sosok Zayn.


"Ayah sudah memberi izin. Sekarang Ayah sibuk jadi Restu sama Ibu saja perginya." Keduanya pun diam menikmati perjalanan yang entah berapa lama baru berakhir.


Rumah milik keluarga Matthew akhirnya terlihat ramai. Calvina dan Shopia keluar menyambut bahagia kedatangan sang nenek dan yang lainnya.


"Nenek!" seru dua cucu cantik itu.


Fara tersenyum memeluk keduanya. Rasanya seperti mimpi mereka bisa berkumpul utuh kembali. Bahkan sang suami pun ikut sehat melihat keadaan Fara yang segar seperti semula lagi.

__ADS_1


"Bi, pria itu tidak ada datang ke rumah ini kan?" Sontak semua wajah bahagia berubah datar mendengar Fara bertanya pada salah satu pelayan di rumah itu.


Sosok Zayn yang sudah ia catat dalam hati tak akan pernah ia beri restu lagi bersama cucu kesayangannya. Calvina sedih mendengarnya namun ia tak bisa berkata apa-apa. Nenek begitu baik melindungi dirinya dan menentang pernikahan itu sejak awal.


"Nenek jangan khawatir. Aku dan Zayn tidak mungkin bersama kembali kok." ucap Calvina. Wajahnya tersenyum demi menenangkan sang nenek. Meski dalam hati rasanya begitu nyeri ketika mengatakan kebohongan itu.


Gauri menggeleng pelan seolah memberi isyarat pada sang anak untuk tidak melakukan janji apa pun pada wanita tua yang sangat keras kepala itu. Namun, Calvina mengabaikan peringatan sang ibu. Kesehatan Nenek baginya saat ini yang paling penting.


"Apa sebaiknya kita kembalikan Ibu ke negaranya saja? Untuk sementara, Gauri. Ayah cemas tentang Calvina dan Zayn jika Ibu yang menanganiny." tutur Matthew ketika mereka semua berada di kamar untuk istirahat.


Fara di temani sang suami dan kedua cucunya di dalam kamar. Di sini kedua orang tua Shopia dan Calvina tengah berdiskusi untuk mencari jalan keluar. Mereka pun sangat paham bagaimana kuatnya perasaan Calvina dan Zayn.


"Aku belum berani mengambil keputusan sebelum bertemu dengan Irene dan Prayan, Ayah. Kita perlu berbicara dengan mereka. Sebab ini kan keputusan kita juga." tutur Gauri dan Matthew pun mengangguk paham.


Keduanya saling berpikir tanpa tahu di sini Calvina mendapat informasi jika Zayn tengah menguntit sang ibu yang pergi ke rumahnya. Panik tentu saja Calvina sangat cemas mengetahui hal itu.


Calvina melupakan jam dimana Irene akan datang membawakan makan untuknya. Dan kali ini ia tak bisa menghubungi wanita paruh baya itu yang berkendara menuju rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa, Cal? Kamu mengubungi siapa? Bukan Zayn kan?" tanya Fara melihat sang cucu yang gelisah. Calvina berulang kali memperhatikan ponselnya hingga menimbulkan kecurigaan pada sang nenek.


"Hah? Ti-tidak, Nek. Calvina hanya...oh iya Shopia ayo katanya mau cari rekomendasi masker rambut buat rambut kamu yang rontok. Ayo kakak temani." panggilnya berusaha menghindar. Takut jika sampai Fara mengeruk dalam-dalam informasi tentang Zayn dan keluarganya.


__ADS_2