Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Niat Jahat Seorang Ayah


__ADS_3

Fara sangat marah saat melihat sang cucu menantu justru datang bersama wanita yang ia terka adalah wanita yang di maksud sang anak barusan. Di ranjang cucunya sedang terbaring koma bagaimana mungkin Zayn justru berdekatan dengan seorang wanita yang perutnya membuncit. Berbagai prasangka buruk ia pikirkan saat ini. Tuduhan dalam benaknya adalah Zayn telah menikah diam-diam di belakangnya.


"Wanita ini? Siapa wanita ini?" teriak Fara menunjuk wajah Rista begitu dekatnya setelah berjalan mendekati wanita berbadan dua itu.


Semua yang melihat kemarahan wanita tua di depan sana sangat was-was. Mereka pun tidak bisa membiarkan Rista di sakiti oleh Fara. Rista telah menunjukkan ketulusannya yang tengah membutuhkan bantuan mereka.


"Ibu, tolong sudah cukup, Bu. Sudah cukup, Bu. Hentikan. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya orang yang sedang membantu kami merawat Calvina. Keluarga kita sedang sangat kesusahan saat ini. Prayan pun sedang di rawat di rumah sakit ini juga." sahut Gauri mencegah hal buruk di lakukan oleh san ibu.


"Nenek, tolong jangan salah paham." ucap Zayn bersuara.


Tatapan hangat yang biasa Fara berikan pada pria tampan itu kini berubah begitu sinis penuh curiga.


"Kamu hamil. Anak siapa ini? Katakan!" teriak Fara lagi. Di pundaknya ada kedua tangan sang suami yang memintanya lebih tenang berbicara. Takut jika sampai suatu penyakit tiba-tiba menyerang dirinya di usia yang sudah renta itu.


Rista yang ketakutan melihat tatapan mengerikkan Fara hanya bisa tertunduk tanpa bisa berkata apa pun. Tak menyangka jika di keluarga baik ini ia masih harus berhadapan dengan orang baru yang begitu menakutkan.


"Nenek, saya hamil..." Rista terbata-bata saat menjawabnya. Ia sama sekali tak berani mengangkat wajah menatap wanita tua di depannya.


"Hamil anak siapa? Katakan! Ingat kamu tidak bisa melakukan apa pun dalam keluarga saya selama saya masih hidup. Cucu saya akan sembuh dan kamu jangan pernah berpikir untuk berani menyentuh keluarga ini sedikit pun.


Semua nampak menggelengkan kepala melihat bagaimana Rista yang tak di beri kesempatan bicara.


"Nenek tolong hentikan. Dia hamil bukan anak saya. Itu kan yang Nenek takutkan. Saya sangat mencintai Calvina. Tidak seharusnya Nenek seperti ini pada Rista yang sudah membantu kami merawat Calvina." sahut Zayn.

__ADS_1


Perasaan cinta yang besar untuk sang istri kini di pertanyakan oleh sang nenek. Tentu Zayn tak akan tinggal diam. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya membuktikan kesetiaan pada sang istri.


"Bu, sudah yah? Ibu baru sampai. Tenangkan diri Ibu. Semua baik-baik saja. Kita hanya perlu berdoa Calvina segera sadar kembali. Zayn selama ini bahkan tidak pernah pulang ke rumah. Hanya ruangan ini yang menjadi rumahnya bersama Calvina." Matthew sebagai menantu dari Fara pun turut bersuara.


Fara yang terdiam memilih duduk kembali menjauh dari Rista yang menahan air mata. Suasana benar-benar canggung saat ini. Ketika tubuh wanita tua renta itu duduk barulah semua pun ikut duduk. Zayn berjalan menyapa sang istri dengan mencium kening Calvina. Kejadian hangat itu di pandangi oleh Rista dengan mata sendu.


"Ini ada yang nggak benar. Saya sangat yakin." gumam Fara menerka-nerka.


"Rista, kamu ikut makan juga yuk. Kan kamu yang masak jangan sampai tubuh kamu kelelahan karena mengurus kami semua sampai kamu lupa dengan diri sendiri." sahut Gauri yang menegur Rista agar teralihkan menatap sang menantu. Gauri sangat paam bagaimana tatapan benci sang ibu pada wanita hamil ini.


Mereka pun semua makan bersama dengan masakan yang Rista buat. Tentu tak ada yang protes dengan cita rasanya. Fara pun mengakui jika masakan yang ia makan saat ini memang sangat enak. Sampai akhirnya malam pun semakin larut. Zayn yang baru saja membersihkan diri memilih berada tetap di rumah sakit.


"Tuan Zayn, apa anda butuh sesuatu lagi yang bisa saya bawa dari rumah?" tanya Rista ketika semua bergerak hendak meninggalkan ruangan rawat.


"Untuk apa kamu bertanya? Apa gunanya pelayan di rumah dan supir? Sudah ayo pulang dan jangan berbicara apa pun pada cucu menantu saya." telak Fara dengan ketus.


"Bu, ayo." ajak Gauri.


"Ayo pulang. Nenek akan sangat marah nanti. Yang sabar yah?" sahut Shopia merangkul lengan Rista. Hatinya menjadi lembut dan sangat perhatian pada Rista. Wanita yang hidup menderita dengan perut hamil besar tentu membuat Shopia paham bagaimana beratnya menghadapi hidup yang kejam ini.


Mereka semua pulang. Zayn tidur memeluk sang istri seperti biasa selama empat tahun ini. Tak ada yang tahu di luar sana tampak wajah pria sangat kesal.


"Sialan! Seharusnya wanita itu mati saja. Sampai saat ini Rista bahkan belum mendapat pengakuan juga darinya. Ini tidak bisa di biarkan." umpatnya memukul stir kemudinya.

__ADS_1


Candra rupanya mematai-matai sang anak malam ini dengan matanya sendiri. Ia tak lagi mengharapkan laporan dari anak buah sebab rasanya sangat kurang puas. Di depan sana ia menatap Rista yang bergandengan dengan seorang gadis cantik.


Saat yang bersamaan pun Rista terkejut melihat mobil yang tidak asing baginya. Matanya membulat sempurna.


"Ayah..." gumamnya dalam hati.


Langkah wanita itu terhenti seketika. Semua tak perduli selain Shopia.


"Ada apa?" tanya Shopia menyadarkan Rista dari lamunannya.


Segera wanita itu menggeleng. Mereka kembali melanjutkan jalan ke arah mobil. Dimana sebuah mobil yang Rista perhatikan beberapa kali kini sudah tak lagi dalam posisi diam. Kendaraan roda empat itu kini bergerak ke arah mereka. Rista menggeleng berusaha berpikir baik pada sang ayah.


"Tidak. Apa maksud Ayah?" gumamnya bertanya bingung.


Ketakutan mendadak menyerang pikiran wanita itu saat ini sampai akhirnya benar-benar sebuah mobil yang ia yakini adalah mobil sang ayah bergerak laju ke arah mereka. Tepatnya ke arah Rista dan juga Shopia.


Semua tak ada yang fokus sebab merasa mereka sudah berjalan di arah yang benar. Dan Rista yang sangat peka dengan sikap sang ayah pun panik. Mobil yang melaju membuat tubuhnya reflek mendorong Shopia begitu kasar menjauh darinya.


"Aaaaaa!!!" teriak Shopia kesakitan menghantam mobil yang terparkir.


Baru saja semua hendak menoleh ke arah Shopia, tiba-tiba suara teriakan Rista pun terdengar begitu nyaring. Bersamaan dengan mobil yang melaju sangat kencang.


"Rista!"

__ADS_1


"Rista!" Semua berteriak bergantian panik. Pun dengan Shopia yang justru tak perduli dengan luka di tangannya. Ia justru berteriak mendekati Rista yang memegang perutnya kesakitan akibat kontraksi.


"Ahhh sakit!" rintihan pun Rista keluarkan.


__ADS_2