
Derap langkah kaki yang terdengar pelan dan lambat perlahan menyita perhatian sepasang suami istri yang sedang duduk di sofa ruang televisi. Saat ini jam masih menunjukkan pukul dua sore. Dimana jam kerja masih belum berakhir.
"Zayn, kamu sudah pulang?" tanya Irene yang tahu sang anak baru dari kantor.
"Entahlah, Bu." jawabnya acuh dengan melangkah terus menuju kamarnya.
Rumah yang selalu ia tuju saat ini tentu rumah kedua orangtuanya. Sebab rumah kenangannya bersama Calvina tidak lagi ia tinggali semenjak ia memutuskan memperjuangkan istri tercintanya.
"Ayah harus awasi perusahaan anak kita. Bisa-bisa perusahaan Zayn bangkrut kalau begini." peringat Irene pada sang suami. Hal itu pun sama dengan pikiran dari Prayan. Anaknya benar-benar tak bisa mengontrol emosinya lagi kali ini. Berjauhan dengan Calvina bukanlah sesuatu yang baik.
Di sisi yang berbeda, di sini seorang ibu yang tersenyum senang setelah menatap anaknya di depannya.
"Restu!" seru Rista ketika pintu ruangan rawat terbuka. Air matanya jatuh melihat anaknya menutup mata dengan napas yang teratur. Zayn tak ada dan anak buahnya membawa Rista bersama Restu saat ini.
Pintu pun kembali di tutup. Satu anak buah Zayn tetap berada di ruangan rawat itu. Seperti perintah Zayn jika ia harus memastikan Restu keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat
"Ibu." lirih bibir Restu terdengar bersuara.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan? Ayo kita keluar dari sini, Nak. Ibu akan membawamu ke rumah sakit yang bagus. Kamu akan segera pulih yah?" Rista dengan kondisi emosional tak terkendali menangkup wajah sang anak.
Sayang, niat baiknya yang tulus pada sang anak tak bisa membuat Restu setuju. Pelan kepala bocah itu menggeleng usai manik matanya menatap sekitar. Mencari keberadaan Zayn yang tidak terlihat di sudut mana pun.
__ADS_1
"Ayah ada di sini bersamaku, Bu. Aku mau tetap di rawat di sini." jawab bocah itu dengan penuh harap.
Rista tertunduk hancur. Bagaimana bisa anaknya yang darah dagingnya justru memilih ayah yang tidak memiliki ikatan darah apa pun padanya dari pada ibunya sendiri.
"Tuan akan kembali setelah pekerjaannya selesai. Ia harap anda mau bergantian menjaga Tuan kecil saat ini." Restu tersenyum mendengar pria anak buah sang ayah berbicara pada ibunya.
Senang dan bahagia memiliki kedua orangtua yang sama-sama perduli padanya. Sedangkan Rista hanya diam tak menjawab ucapannya. Ada perasaan marah pada Zayn ketika sadar pria itu memiliki kendali atas pikiran sang anak.
"Restu belum makan kan? Ibu suapin mau?" anggukan pelan bocah itu berikan. Dengan penuh kasih sayang Rista merawat anaknya. Menyuapi makan sampai ia menggantikan pakaian sang anak setelah menyeka tubuhnya ketika hari sudah mulai semakin gelap pertanda malam akan tiba.
Lama Rista memperhatikan sang anak. Restu beberapa kali menguap setelah meminum obatnya. Matanya yang mengantuk terus ia tahan dengan sesekali menatap ke arah pintu. Jelas ia tahu siapa yang Restu tunggu saat ini.
"Ayah masih lembur, Sayang. Kamu harus istirahat. Nanti ayah kembali kamu pasti sudah bangun." ujar Rista membujuk sang anak.
Rista hanya terdiam meneguk pelan salivahnya. Tante cantik, gelar yang anaknya panggil terlalu pahit untuk ia dengar saat ini.
"Hari sudah malam. Sebaiknya anda pulang dan segeralah beristirahat. Tuan sudah hampir tiba." Rista paham atas perintah itu. Ia hanya patuh mengangkat tubuhnya dari kursi duduk dan mencium kening sang anak.
Hanya bisa mengalah yang bisa ia lakukan. Jika saja ia berontak atas peraturan yang Zayn buat, bisa saja Restu justru membencinya.
"Sayang, Ibu pulang dulu. Ada Ayah yang akan menemani di sini. Besok pagi Ibu datang kembali. Restu harus cepat pulih yah? Kita akan segera kembali pulang." Satu kecupan di kening kembali mendarat.
__ADS_1
Ciuman kasih sayang yang rasanya sangat menyakitkan saat ini bagi Rista. Seorang ibu yang tidak berdaya ketika di hadapkan lawan pria asing untuk sang anak.
"Ibu hati-hati yah. Sampai jumpa besok." ujar Restu bersemangat. Sebentar lagii ia akan bertemu dengan sang ayah.
Benar saja.
"Hai anak Ayah!" Seruan itu terdengar bersamaan pintu ruangan yang terbuka setelah kepergian Rista. Kedua tangan kiri dan kanan tampak penuh dengan paperbag. Sontak melihat pemandangan itu Restu menebarkan senyum bahagia.
"Ayah...apa itu?" tanyanya dengan antusias.
Banyak makanan dan banyak mainan. Zayn baru saja membelinya. Dan semua itu tentu yang Restu suka.
"Malam ini kita akan bermain setelah Restu istirahat. Bagaimana?" Anggukan cepat Restu gerakkan di kepalanya.
Ternyata Zayn mendapat laporan dari sang anak buah jika Restu tak kunjung tidur sebelum melihat kedatangan Zayn di ruangan itu. Ia pun berinisiatif datang lebih cepat sebelum jam makan malam di rumah ibunya.
"Ayo sekarang Restu pejamkan mata. Sebelum itu jangan lupa sapa Tante cantik dulu dong." Ternyata di saku celana Zayn, ponsel miliknya masih menyala. Ketika ia mengambil benda pipih itu langsung terpancar wajah cantik yang tersenyum pada Restu.
Restu tercengang pada Zayn. "Ayah membiarkan Tante cantik di dalam saku sejak kapan?" tanyanya heran.
Mendengar itu Zayn tergagap bingung menjawab. Sejak tadi, rasanya malu jika ia menjawab seperti itu terlebih ada anak buah di ruangan itu yang bisa mendengar dan mengejeknya dalam hati. Yah, meski hanya bisa dalam hati. Tetap saja Zayn tak akan terima. Sejak barusan...
__ADS_1
"Iya, sejak baru saja. Ayah baru saja menelponnya." jawab Zayn berbohong.
"Zayn, kau berbohong?" Calvin mengerutkan keningnya cemberut.