
"Calvina!" Kembali teriakan itu terdengar lantang di kamar milik Calvina. Harapan besar ia bisa bertemu sang istri kini pupus sudah. Kamar terakhir tak ada lagi orang yang ia cari.
Zayn masuk ke dalam kamar dimana banyak foto kenangan sang istri sebelum menikah dengannya. Kamar yang sudah lama Zayn pikir tak di tempati masih tampak rapi seperti kamar seorang gadis cantik miliknya.
"Dimana kamu, Cal? Apa benar pikiranku kamu masih ada?" gumam Zayn lirih yang masih terdengar oleh dua orang wanita di dekatnya.
Yah, Calvina ada di kamar itu namun bersembunyi di kamar mandi bersama sang adik. Keduanya berjongkok di kamar mandi sembari membungkam bibir agar tidak terdengar oleh Zayn.
Zayn duduk di tepi ranjang, tak perduli jika saat ini ia di perhatikan oleh beberapa pelayan di depan pintu. Mereka semua pun kaget saat melihat kamar tampak rapi tanpa ada satu pun jejak Calvina di kamar itu.
Foto Calvina memakai seragam sekolah putih abu-abu yang menjadi target Zayn. Ia mengambil dan mengusap dengan tangannya. Rasa rindu yang selama ini ia pendam kembali menyeruak. Zayn sulit mengontrol dirinya lagi. Ia menangis melihat senyum manis sang istri.
__ADS_1
Sekitar setengah jam Zayn di kamar itu akhirnya ia memutuskan untuk pulang setelah pencariannya berakhir sia-sia. Zayn melangkah lemas meninggalkan rumah satu-satunya yang menjadi harapannya saat ini.
"Kak, ayo keluar." ajak Shopia.
Calvina sudah pucat, wajahnya penuh keringat gugup selama bersembunyi. Tangan yang memegang nampan sejak tadi kini jatuh begitu saja. Piring bubur pun pecah berhamburan.
"Ayo, Kak. Biarkan pelayan yang membersihkan ini." Kembali Shopia menarik tangan sang kakak.
Keduanya keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur. Calvina berbaring lemas. Kedua kakinya terasa sulit di gerakkan setelah mendengar dari dekat suara sang suami. Suara yang ingin sekali ia dengar berbicara dengannya.
"Kakak seorang wanita dan seorang Ibu dulu, Shopia. Kakak paham rasanya menjadi wanita seorang Zayn. Tentu sangat bahagia di hujani dengan cinta yang tulus dan kasih sayang. Jika itu sampai hilang dari Kakak, rasanya sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin Kakak tega pada istri dan anak kecil itu?" Shopia memejamkan mata.
__ADS_1
Tak sanggup mendengar penuturan sang kakak yang sangat menyedihkan terdengar. Begitu besarnya rasa peduli Calvina pada wanita lain yang sudah menjadi madunya.
"Kakak pikirkan dulu semuanya. Saat ini waktu yang belum terlambat, Kak. Aku yakin Kak Zayn pria yang bijak dalam mengambil keputusan." Setelah mengatakan hal itu Shopia keluar kamar bertemu dengan para pelayan. Ia meminta maaf atas apa yang Zayn lakukan pada mereka. Dan semua pelayan tentu merasa tak keberatan atas apa yang terjadi.
"Kami akan melakukan apa pun, Non Shopia. Demi melindungi kalian majikan kami yang sangat baik. Itu adalah tugas kami. Tapi, maafkan kami yang tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Kami gagal menutup akses Tuan Zayn masuk ke rumah ini." ujar kepala pelayan sedih.
Mereka bersalah tak bisa melindungi Calvina dari Zayn. Beruntung waktu belum berpihak pada Zayn hari ini.
"Mas Zayn," Di sini ketika Zayn tiba di rumah kedatangannya di sambut oleh Rista.
"Rista, tolong jangan ganggu saya." ucap Zayn menahan Rista dengan tangannya..
__ADS_1
Rista yang melihat keadaan sang suami tak berani mendekat. Ia hanya mengangguk dan berdiri mematung membiarkan Zayn melangkah ke kamar. Untuk pertama kalinya Zayn tak mau menatap Rista lagi setelah sekian lama mereka bersama. Kehangatan pun dalam rumah sudah menghilang sejak kemunculan Calvina di depan Restu kemarin.
"Aku harus menemui anak buah Ayah. Aku harus tahu apa yang terjadi pada Ayahku." gumam Rista dalam hati.