Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kemarahan Zayn


__ADS_3

Candra menceritakan semuanya pada Rista sembari beberapa kali mengeluh kesakitan. Tangannya mengusap ujung bibir yang bengkak. Melihat keadaan ayahnya babak belur membuat Rista tak bisa menahan sedih. Ia menangis meraih tangan ayahnya.


"Ayah, siapa yang melakukan ini? Siapa mereka?" tanya Rista dengan meneteskan air mata. Sayang perhatian itu justru membuat Candra semakin marah. Pria tua itu menepis tangan sang anak dengan kasarnya.


"Hah pergi kau! Apa yang kau lakukan di sini? Pergilah. Jangan pernah temui aku lagi, Rista! Sudah cukup suamimu itu memukuli aku seperti ini. Pergi!" pekiknya menatap tajam Rista.


Candra begitu acuh dengan perhatian sang anak. Ia semakin marah sebab yang menyiksanya adalah suami dari sang anak. Pria yang melindungi Rista dari kejarannya selama ini. Rista terus menggeleng menolak usiran sang ayah. Ia tak mungkin bisa meninggalkan ayahnya dengan keadaan seperti itu.


"Ayah, tolong jangan seperti ini. Aku kesini untuk bawa makanan ini." tunjuk Rista pada rantang yang ada di sampingnya. Meski dalam hati ia benar-benar syok mendengar jika Zayn tega melakukan ini pada ayahnya. Jelas Rista sadar semua suami akan marah jika tahu istrinya hendak di lecehkan orang lain.


Mengingat hal itu, hatinya terasa perih sekali. Andai Zayn memiliki sikap perhatian yang begitu besar juga padanya, namun itu semua terasa mustahil bagi Rista. Zayn tak mungkin memperhatikannya sebesar itu sama seperti ia memperhatikan Calvina. Sebab mereka bersama bukanlah karena cinta.


Wanita itu terus berusaha mendekati sang ayah. Meski Rista tak lagi menggerakkan tangan untuk meraih tangan Candra. Ia sibuk membuka rantang makan dan mengangkat sendok. Berharap Candra akan makan dengan suapannya.


Detik berikutnya Rista di buat terkejut.


"Ayah, kenapa di lempar?" tanyanya syok. Makanan yang ia siapkan dari rumah justru berhambur begitu saja di ruangan besuk itu. Candra seketika berdiri.

__ADS_1


"Pergi dari sini, Rista. Kau bukan anakku. Aku bukan ayahmu. Jangan pernah lagi memanggilku Ayah. Pergi!" Tubuh Rista yang gemetar hanya bisa berdiri mematung di tempat duduknya. Matanya berlinang air mata mendengar ucapan Candra yang begitu menyakitkan.


Rista melangkah memunguti rantang yang berserakan. Ia tak bisa mengejar ayahnya lagi yang memilih masuk ke tempat tahanannya. Polisi pun sudah mengunci pria itu di sel tahanan.


"Saya minta jika ada apa-apa pada Ayah saya, tolong kabari saya, Pak." ujar Rista sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu.


Sepanjang jalan pikirannya di penuhi dengan sosok Zayn yang tega memukuli sang ayah dan juga Rista memikirkan mengapa begitu tega sang ayah tak mengakui dirinya sebagai anak.


***


Dari arah lain tampan sepasang mata melotot tajam melihat dua tangan di depan sana saling menggenggam. Jelas tangan yang pertama bergerak adalah tangan seorang perempuan yang sangat ia cintai. Tangan putih mulus itu terlihat bergelayut manja di tangan pria asing. Bahkan wajah mereka saling senyum satu sama lain. Melihat hal itu, Zayn memuncak amarahnya dan mengepalkan tangan sekuat mungkin.


Beberapa menit berlalu, Zayn di buat heran. Tujuan sang istri saat ini adalah rumah sakit. Andai pikirannya tak bisa di kontrol mungkin Zayn sudah menghajar habis-habisan pria yang bersama sang istri. Namun, ia justru menahan diri dan mengikuti pergerakan mereka.


"Tidak. Mau apa mereka? Calvina tidak mungkin memeriksa kandungan bersama pria lain. Aku adalah suaminya." ujar Zayn berapi-api. Ruangan di depan sana tampak tertutup. Zayn hanya bisa menunggu dengan gelisah di luar ruang pemeriksaan.


"Terimakasih yah sudah menemani aku periksa kehamilan." Suara lembut yang terdengar jelas membuat Zayn semakin marah. Entah ada apa dengannya sampai saat ini pun Zayn tak bisa bergerak untuk memukul mereka.

__ADS_1


Pria itu tersenyum mengangguk. "Jangan berterimakasih. Aku sudah menganggap anak itu adalah anak kandungku juga. Sebentar lagi kita akan hidup bahagia bersamanya." Betapa bahagianya mereka berdua sembari berpelukan di depan Zayn yang terluka parah.


"Calvina, apa yang kamu lakukan?" teriak Zayn akhirnya. Bukannya takut, Calvina justru di tarik pria asing itu. Ia bersembunyi di balik tubuh pria itu.


Zayn dengan cepat menarik Calvina dari tubuh yang berdiri menghadangnya. "Jangan ikut campur! Ini adalah istriku. Dan kau sebaiknya jauhi istriku." hardik Zayn begitu marah.


Bukan pria itu yang menjawab. Melainkan Calvina yang justru menggeleng enggan untuk ikut dengan Zayn. Ia lebih memilih bersama pria yang sejak tadi bersamanya.


"Cal, ayolah. Jangan seperti ini. Jangan memaksaku untuk membunuh pria ini." Zayn berusaha lembut membujuk sang istri. Sebab ia tahu Calvina paling tidak bisa di kasari. Ia takut justru membuat Calvina semakin menjauh darinya.


"Pergilah, Zayn. Kembalilah dengan Rista. Kau sudah memiliki istri yang lain. Biarkan aku bahagia dengan pilihanku di sini. Anak ini akan aku besarkan bersamanya." Tidak. Zayn tidak mungkin bisa menerima itu semua.


Anak yang Calvina kandung adalah hasil kerja kerasnya yang singkat. Tidak mungkin Zayn menyia-nyiakan kesempatan yang ia harapkan selama ini.


"Tidak, Sayang. Bagaimana mungkin aku membiarkan kau bersama pria itu. Kita akan tetap bersama. Tidak ada yang boleh memisahkan kita. Dan Rista sudah bukan lagi istriku. Kita akan hidup bahagia bersama anak kita. Ayo, Sayang. Kita pulang." bujuk Zayn lagi.


Lagi dan lagi Calvina menggelengkan kepala. "Zayn, pergilah. Anak ini bukan anakmu. Ini adalah anak kami. Aku hamil olehnya. Dia pria yang aku cintai. Kami akan segera bersama." Dada Zayn rasanya bergemuruh. Kesabarannya sudah habis. Ia menarik pria di depannya tanpa perduli lagi Calvina akan menjauh darinya.

__ADS_1


"Benarkah, Calvina? Kau mau aku membunuh pria ini bukan?" Satu pukulan melayang tepat di batang hidung pria itu.


Calvina menjerit histeris. "Kau ingin aku membunuhnya?" Lagi Zayn menghantam wajah pria itu tepat di mata kiri.


__ADS_2